Malaysia Akan Hadiahkan Orangutan Untuk Negara Importir Minyak Sawit, Ini Alasannya

AKURAT.CO Malaysia berencana untuk memberikan orangutan sebagai hadiah kepada negara-negara yang membeli minyak sawitnya.
Dikutip dari The Guardian, Kamis (9/5/2024), hal itu merupakan sebagai bagian dari strategi diplomasi orangutan untuk mengatasi kekhawatiran terhadap dampak lingkungan dari komoditas tersebut.
Sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar kedua di dunia, Malaysia menyediakan minyak sawit yang digunakan dalam berbagai produk konsumen, dari makanan seperti pizza dan biskuit hingga produk kecantikan seperti lipstik dan sampo.
Permintaan global terhadap minyak sawit telah dituding sebagai penyebab utama deforestasi di Malaysia dan negara tetangga seperti Indonesia.
Menteri Perkebunan dan Komoditas Malaysia, Johari Abdul Ghani, mengatakan melalui media sosial bahwa negaranya tidak dapat mengambil pendekatan defensif terhadap masalah minyak sawit.
“Sebaliknya, kita perlu menunjukkan kepada negara-negara di dunia bahwa Malaysia adalah produsen minyak sawit berkelanjutan dan berkomitmen untuk melindungi hutan dan kelestarian lingkungan," kata Johari.
Memberikan orangutan kepada mitra dagang seperti UE, Tiongkok, dan India akan membuktikan kepada komunitas global bahwa Malaysia berkomitmen terhadap konservasi keanekaragaman hayati.
Baca Juga: Malaysia Akui Gembira sekaligus Cemburu dengan Perkembangan Sepakbola Indonesia
Malaysia juga mendesak perusahaan kelapa sawit untuk berkolaborasi dengan LSM untuk membantu melestarikan dan memberikan keahlian teknis mengenai satwa liar di Malaysia.
Lebih lanjut, organisasi satwa liar telah meminta pemerintah Malaysia untuk mempertimbangkan cara lain untuk menunjukkan komitmennya dalam melindungi spesies tersebut.
“Melindungi hutan yang merupakan habitat alami orangutan merupakan langkah terpenting yang perlu dilakukan. Dana yang seharusnya digunakan untuk diplomasi orangutan harus diarahkan pada upaya konservasi in-situ bagi primata ini dan pelestarian hutan tempat tinggal mereka,” ujar Kelompok lingkungan Justice for Wildwife Malaysia.
Di sisi lain, Penasihat ilmiah Masyarakat Primatologi Malaysia, Dr Felicity Oram, menyambut baik komitmen pemerintah untuk mendukung hidup berdampingan dengan satwa liar Malaysia.
“Meskipun model 'diplomasi panda' telah berhasil mempromosikan dan mendanai konservasi satu spesies ikonik, Malaysia memiliki berpotensi untuk bekerja sama dengan cara kita sendiri untuk memfasilitasi konservasi satwa liar melalui pelestarian habitat, rehabilitasi habitat, dan hidup berdampingan dengan satwa liar," jelas Felicity.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









