Pernah Jadi Bagian dari Australia, Begini Nasib Papua Nugini yang Kini Dilanda Krisis

AKURAT.CO Bank Dunia dilaporkan mendesak negara terbesar di Kepulauan Pasifik, Papua Nugini, untuk mengatasi krisis sumber daya manusia yang melanda negara itu.
Dikutip dari laman Kementerian Luar Negeri, Papua Nugini sendiri memperoleh kemerdekaan dari Australia pada tanggal 16 September 1975 dan selanjutnya menjadi anggota Persemakmuran.
Hingga pada tanggal 10 Oktober 1975, Papua Nugini diterima menjadi anggota PBB sebagai anggota ke 142.
Baca Juga: SIMAK Daftar Harga Terbaru BBM Jakarta Per 2 Mei 2024, Termurah Rp10 Ribu per Liter
Krisis sumber daya manusia yang melanda Papua Nugini seperti hampir separuh anak-anak menunjukkan pertumbuhan yang berdampak pada perkembangan otak mereka.
Hal tersebut lantas menempatkan Papua Nugini di posisi kelima secara global dengan 70 persen siswa kelas 5 di negara itu tidak bisa membaca setelah terlambat masuk sekolah.
Pada pembaruan ekonomi tahunan untuk Papua Nugini yang dirilis Kamis (2/5/2024), menunjukkan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut hanya sebesar 2,7% pada tahun lalu atau setengah dari sebelumnya.
Baca Juga: VIRAL TikTokers D3kembar Ikut Terseret Kasus Penerima KIP yang Sering Pamer Gaya Hidup Hedon!
Dilaporkan hal tersebut dikarenakan penundaan pembukaan kembali tambang emas Porgera dan penurunan produksi gas alam cair.
Untuk membebaskan Papua Nugini dari ketergantungan sektor sumber daya, Bank Dunia mendesak lebih banyak investasi pada sumber daya manusia di negara itu.
Laporan tersebut juga merekomendasikan pemerintah untuk menyediakan buku pelajaran dan toilet untuk sekolah yang kekurangan bahan dasar dan mencatat bahwa banyak anak terlalu lapar untuk belajar.
Ketidakhadiran guru yang kurang terlatih juga berdampak pada pembelajaran di kelas, dan dapat diatasi dengan menyediakan rencana pembelajaran yang terstruktur.
Baca Juga: Bamsoet Apresiasi Langkah Nasdem-PKB Dukung Prabowo: Sikap Kesatria
Pakar pendidikan Bank Dunia, Lars Sondergaar mengatakan bahwa masalah yang sama juga terjadi di komunitas perkotaan dan desa-desa terpencil di Papua Nugini.
Sulit untuk membangun pertumbuhan ekonomi ketika anak-anak meninggalkan sekolah terlalu dini dan tidak memiliki tenaga yang produktif, katanya.
"Pesannya di sini adalah negara harus menyiapkan fondasi yang benar dan harus segera memulainya," katanya.
Baca Juga: 6 Cara Agar Anak-anak Tidak Terjerumus kepada Pergaulan Buruk di Era Digital Perspektif Islam
Jumlah penduduk usia 20-24 tahun di negara tersebut akan meningkat dari 830.000 menjadi 1.2 juta pada tahun 2050.
Tertelak di utara Australia, Papua Nugini memiliki populasi resmi sebesar 9 juta jiwa dan mengalami kerusuhan di ibu kota Port Moresby pada bulan Januari ini yang menghancurkan beberapa bisnis.
Baca Juga: KPK Lantik Eko Marjono Jadi Deputi Informasi dan Data
"Dalam masyarakat dengan tingkat kekerasan dan kejahatan yang tinggi, populasi kaum muda yang melimpah, tanpa landasan yang stabil dalam berpartisipasi di pelatihan, pendidikan, atau pekerjaan, akan membahayakan pembangunan di masa depan," tulis laporan itu.
Papua Nugini sendiri mencapai kesepakatan dengan Australia untuk mendanai peningkatan jumlah polisi, memiliki perjanjian pertahanan dengan Amerika Serikat untuk meningkatkan pelabuhan dan bandara, juga ingin meningkatkan perdagangan dengan China.
Baca Juga: 7 Wasit Pertandingan Indonesia Vs Irak di Perebutan Juara 3 Piala Asia U-23, Ada Sivakorn Pu-Udom?
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









