Akurat

Mengenal Batalion Netzah Yehuda Israel yang Dilaporkan Bakal Kena Sanksi AS

Shalli Syartiqa | 25 April 2024, 01:01 WIB
Mengenal Batalion Netzah Yehuda Israel yang Dilaporkan Bakal Kena Sanksi AS

AKURAT.COPemerintahan AS di bawah kepemimpinan Joe Biden telah dijadwalkan untuk mengumumkan sanksi terhadap Batalion Netzah Yehuda atas dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap warga Palestina di Tepi Barat.

Informasi ini dilaporkan oleh situs berita Axios, yang menyatakan bahwa ini merupakan langkah pertama AS dalam memberlakukan sanksi terhadap batalion Israel.

Meskipun demikian, pada Minggu (21/4/2024), militer Israel menyatakan bahwa mereka tidak mengetahui adanya sanksi AS terhadap batalion tersebut, sambil menegaskan bahwa unit ini beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip hukum internasional.

Lantas, apa itu Batalion Netzah Yehuda dan bagaimana sejarah berdirinya?

Batalion Netzah Yehuda juga dikenal sebagai Nahal Heredi adalah sebuah batalion yang didirikan pada tahun 1999 dengan hanya memiliki 30 anggota tentara Israel.

Unit militer ini didirikan khusus untuk memenuhi kebutuhan agama para pria ultra-Ortodoks Haredi.

Semua anggotanya dibebaskan dari wajib militer sejak pembentukan negara Israel pada tahun 1947.

Dikutip dari berbagai sumber, Netzah Yehuda memiliki aturan yang ketat, termasuk larangan bagi non-Yahudi dan kebijakan yang memisahkan perempuan dari pangkalan militernya, kecuali jika mereka adalah istri dari prajurit.

Baca Juga: Iran dan Pakistan Desak Dewan Keamanan PBB untuk Ambil Tindakan Tegas Terhadap Israel

Saat ini, unit tersebut telah berkembang menjadi sekitar 1.000 anggota.

Mereka sering merekrut pemukim sayap kanan yang terlibat dalam gerakan Hilltop Youth, di mana prajurit berpindah dari unit lain dalam militer Israel.

Netzah Yehuda adalah salah satu dari lima unit yang membentuk Brigade Kfir, yang digambarkan oleh militer Israel sebagai garda depan dalam perang melawan terorisme Palestina di Tepi Barat. Unit ini beroperasi di kota-kota seperti Ramallah dan Jenin.

Pada Desember 2018, Netzah Yehuda juga dituduh menembak dan membunuh Qassem Abbasi (17), seorang warga sipil dari Silwan di Yerusalem Timur.

Awalnya, tentara mengklaim Abbasi berusaha menabrak mereka, tetapi militer kemudian mengkonfirmasi bahwa remaja itu tidak membawa ancaman.

Meskipun ada penyelidikan, kasus tersebut ditutup tanpa tindakan hukum.

Sementara itu, pada Januari 2022, Netzah Yehuda menjadi sorotan publik karena penahanan dan penyiksaan terhadap seorang warga Palestina-Amerika, Omar Muhammad Assad (80), yang meninggal dunia karena serangan jantung setelah ditemukan dengan kondisi terborgol dan terlantar oleh tentara Israel.

Reaksi politisi Israel terhadap laporan-laporan tentang potensi sanksi AS terhadap Batalion Netzah Yehuda belum dikonfirmasi.

Namun, jika sanksi tersebut terjadi, ini akan menjadi langkah pertama kali AS memberlakukan sanksi terhadap unit militer Israel.

 

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.