Di Mana Kota Rafah dan Mengapa Jadi Sasaran Baru Tentara Israel?

AKURAT.CO Israel kembali mendapat kecaman internasional karena aksinya yang melakukan invasi darat maupun udara ke Kota Rafah, di Jalur Gaza, Palestina.
Dikutip dari Al-Jazeera, Alih-alih menghentikan agresi brutal yang telah menyebabkan kematian lebih dari 28.340 warga Palestina di Gaza, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu justru mengumumkan rencana pasukan Israel untuk melancarkan invasi darat baru yang ditujukan kepada Kota Rafah.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), negara-negara Arab seperti Arab Saudi dan Mesir, juga Amerika Serikat beserta negara-negara barat lain yang merupakan sekutu dekat Israel, mengutuk rencana tersebut.
Mereka menyoroti ancaman pembantaian terhadap warga sipil yang terus berlanjut di Jalur Gaza.
Hal ini terutama memperhatikan bahwa Kota Rafah saat ini menjadi satu-satunya tempat yang menampung jutaan warga yang terusir dari wilayah utara hingga tengah Jalur Gaza akibat dari agresi brutal Israel.
Baca Juga: Israel Bombardir Serangan Udara ke Rafah Hingga Berjatuhan Korban Jiwa
Mengapa Rafah menjadi sasaran tentara Israel?
Perbatasan Rafah adalah satu-satunya tempat di mana orang dapat menyeberangi dari Gaza ke Mesir.
Ketika tidak ada konflik, perbatasan Rafah dibuka dalam batasan yang terbatas.
Netanyahu mengklaim bahwa serangan di Kota Rafah adalah kunci untuk mengalahkan pasukan Hamas dan bahwa kemenangan Israel atas Hamas sudah dekat.
Tel Aviv menyatakan bahwa ada empat brigade utama Hamas di Rafah, tetapi banyak pihak meyakini bahwa klaim tersebut hanya dalih Israel untuk menyerang Rafah dan akhirnya mengusir warga Palestina dari wilayah tersebut.
Kota Rafah yang berbatasan langsung dengan Mesir, telah menjadi satu-satunya jalur untuk mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza sejak agresi Israel dimulai.
Hanya warga Gaza yang memiliki izin dan warga negara asing yang diizinkan untuk melakukan perjalanan antara Gaza dan Mesir melalui perbatasan ini.
Pada tahun ini, rata-rata 27.000 orang menyeberangi perbatasan setiap bulan ketika perbatasan tersebut dibuka selama 138 hari, dan kemudian ditutup selama 74 hari.
Meskipun Israel tidak memiliki kendali langsung atas perbatasan tersebut, seringkali Mesir menutupnya ketika ada pengetatan pembatasan oleh Israel di Gaza.
Warga Gaza yang ingin menyeberangi perbatasan sering harus menunggu selama 30 hingga 90 hari.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.








