Update Kondisi di Gaza, Pertempuran Kembali Memanas Menewaskan Lebih Dari 100 Korban Jiwa

AKURAT.CO Pertempuran kembali terjadi di Gaza setelah pembicaraan untuk memperpanjang gencatan senjata yang telah berlangsung selama sepekan dengan Hamas gagal.
Menurut para mediator, kegagalan perpanjangan gencatan senjata disebabkan oleh bombardir yang dilakukan Israel sehingga mempersulit upaya menghentikan permusuhan.
Seperti pada Jumat (30/11/2023) kemarin, wilayah timur Khan Younis di Gaza Selatan dibombardir secara intensif oleh Israel, tidak lama setelah batas waktu gencatan senjata berakhir.
Warga lalu turun ke jalan dengan membawa barang-barang yang ditumpuk di gerobak guna mencari tempat berlindung lebih jauh ke arah barat.
Menanggapi hal itu, Israel mengatakan bahwa pasukan darat, udara dan angkatan lautnya telah menyerang lebih dari 200 "target teror" di Gaza.
Baca Juga: Elon Musk Tolak Ajakan Hamas Lihat Dampak Kehancuran di Gaza, Ini Alasannya
Pada Jumat malam, para pejabat kesehatan di wilayah pesisir itu mengatakan bahwa serangan Israel telah menewaskan 184 orang, melukai sedikitnya 589 orang lainnya, dan menghantam lebih dari 20 rumah.
Kedua belah pihak yang bertikai saling menyalahkan satu sama lain atas gagalnya gencatan senjata.
Dengan menolak persyaratan untuk memperpanjang waktu pembebasan sandera yang ditahan oleh militan sebagai imbalan bagi warga Palestina yang ditahan di penjara Israel.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan bahwa pertempuran yang kembali terjadi akan memperburuk keadaan darurat kemanusiaan yang ekstrim di Gaza.
"Neraka di Bumi telah kembali ke Gaza," kata Jens Laerke, juru bicara kantor kemanusiaan PBB di Jenewa.
"Hari ini, dalam hitungan jam, sejumlah orang dilaporkan tewas dan terluka. Keluarga-keluarga diminta untuk mengungsi, lagi. Harapan pupus," kata kepala bantuan PBB Martin Griffiths.
Menambahkan bahwa anak-anak, perempuan dan laki-laki di Gaza tidak memiliki tempat yang aman untuk pergi dan hanya memiliki sedikit tempat untuk bertahan hidup.
Jeda yang dimulai pada 24 November telah diperpanjang dua kali dan Israel mengatakan bahwa hal itu dapat terus berlanjut selama Hamas membebaskan 10 sandera setiap hari.
Namun, setelah tujuh hari di mana para wanita, anak-anak dan sandera asing dibebaskan, para mediator gagal menemukan cara untuk membebaskan lebih banyak lagi.
Israel menuduh Hamas menolak untuk membebaskan semua wanita yang ditawannya. Seorang pejabat Palestina mengatakan bahwa kegagalan tersebut terjadi karena masalah tentara wanita Israel.
Israel telah bersumpah untuk memusnahkan Hamas setelah serangan 7 Oktober yang menewaskan 1.200 orang dan menyandera 240 orang.
Serangan Israel sejak saat itu telah menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza, yang dikuasai oleh Hamas sejak tahun 2007.
Otoritas kesehatan Palestina mengatakan bahwa lebih dari 15.000 warga Gaza telah terbunuh dan ribuan lainnya hilang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









