Akurat

Kisah Sir Nicholas Winton, Orang Inggris yang Selamatkan 669 Korban Holocaust

| 15 Oktober 2019, 15:55 WIB
Kisah Sir Nicholas Winton, Orang Inggris yang Selamatkan 669 Korban Holocaust

AKURAT.CO, Kemanusiaan tidak mengenal batasan baik dari segi wilayah, agama, atau ras. Mungkin ungkapan itulah yang paling tepat untuk menggambarkan kisah perjuangan Sir Nicholas Winton, warga Inggris yang menyelamatkan anak-anak Yahudi agar mereka tidak menjadi korban Nazi.

Winton lahir dengan nama Nicholas George Wertheim dari orang tua Jerman-Yahudi pada tahun 1909. Orang tuanya memutuskan pindah ke Inggris dan berintegrasi dengan budaya di negara tersebut hingga mengubah nama belakang mereka menjadi Winton.

Pada masa Perang Dunia II saat Nazi berkuasa di Jerman, orang-orang Yahudi menjadi korban tindakan antisemitisme dari partai bentukan Hitler tersebut. Tak sedikit orang-orang Yahudi yang terpaksa pindah, namun sayang hanya sedikit negara yang mau membukakan pintu bagi para pengungsi Yahudi. Sementara mereka yang tersisa di Jerman menjadi korban pembantaian yang dikenal dengan sebutan Holocaust.

Perjalanan Sir Nicholas Winton untuk menyelamatkan anak-anak Yahudi dimulai pada bulan Desember 1938 ketika ia menerima surat dari temannya, Martin Blake, yang berada di Praha, Ceko. Dalam surat tersebut, Martin yang telah bergabung dengan Komite Pengungsi Inggris dari Ceko mengundang Winton untuk ikut bersamanya melaksanakan tugas kemanusiaan.

"Saya punya tugas yang paling menarik dan saya butuh bantuan Anda. Tidak usah repot-repot membawa ski anda," tulis Martin merujuk pada rencana Winton saat itu yang hendak liburan, dilansir dari laman BBC, Selasa (15/10).

Setelah menerima surat itu, Winton kemudian berangkat ke Praha untuk memenuhi ajakan rekannya. Misi penyelamatan anak-anak Yahudi itu dilakukan beberapa bulan sebelum Perang Dunia II benar-benar meletus.

Di Praha, Winton bertemu dengan rekan lainnya bernama Dorreen Warriner. Di sana ia menyaksikan sendiri pemandangan memilukan di mana kamp-kamp pengungsi dipenuhi oleh keluarga-keluarga yang dipaksa meninggalkan rumah mereka. Penghuni berjuang untuk bertahan hidup di musim dingin yang keras di Eropa. Winton dikejutkan oleh kondisi yang mengerikan dan perhatian terbesarnya adalah untuk anak-anak.

Metro News

Winton kemudian mendirikan markas darurat di sebuah hotel di Praha. Di hotel tersebut ia mendaftar nama-nama keluarga yang ingin anaknya dibawa ke tempat yang aman. Ia juga berusaha membangun komunikasi dengan keluarga-keluarga di London yang bersedia menjadi orang tua anak-anak Yahudi tersebut. Winton juga memasang iklan di koran berisi undangan untuk para sukarelawan agar bersedia terlibat dalam misinya. Setelah segala urusan pencatatan ditangani, barulah Winton memulai misinya mengantarkan anak-anak tersebut ke London.

Mengangkut ratusan pengungsi cilik ke seluruh Eropa membutuhkan perencanaan yang cermat. Winton kembali ke London dengan segudang dokumen. Pemerintah Inggris hanya bersedia membiarkan anak-anak pengungsi masuk ke negara itu jika persyaratan ketat dipenuhi. Untungnya, pemerintah Inggris telah memulai rencana untuk mengevakuasi anak-anak Inggris dari pusat kota jika terjadi perang sehingga masyarakat Inggris terbiasa dengan budaya membuka pintu kepada mereka yang membutuhkan.

Dalam beberapa kasus Winton juga kerap meminta orang asing agar bersedia membawa dan merawat anak-anak Yahudi itu.

Misi Winton berhasil, namun ia tidak memublikasikan apa yang ia lakukan. Pekerjaannya ia sembunyikan selama 50 tahun, sampai pada tahun 1988 istri Winton menemukan sebuah buku berisi nama anak-anak, nama keluarga kandung, nama keluarga asuh, serta alamat mereka. Buku itu kemudian diserahkan oleh istrinya ke Elisabeth Maxwell, seorang peneliti Holocaust dan istri bos media Robert Maxwell.

Web pribadi Sir Nicholas Winton

Dunia mengetahui jasa Winton saat dirinya diundang ke sebuah acara BBC bernama "That's Life". Dalam acara tersebut, diperlihatkan buku berisi nama-nama yang ditemukan oleh sang istri. Momen mengharukan terjadi saat sang pembawa acara, Esther Rantzen, bertanya apakah ada orang di antara hadirin yang berutang budi pada Winton, dan semua orang di studio berdiri untuk berterima kasih. Mereka adalah anak-anak yang diselamatkan Winton yang telah beranjak dewasa.

Ditanya mengapa dulu ia menyelamatkan anak-anak tersebut, Winton menjawab bahwa ia sendiri tidak tahu mengapa ia melakukan itu.

Sepanjang hidupnya telah banyak penghargaan yang ia terima, termasuk gelar bangsawan dari kerajaan Inggris. Ia juga dianugerahi Pride of Britain Award for Lifetime Achievement, serta diangkat menjadi pahlawan Holocaust asal Inggris oleh kerajaan. Tahun 2013, Winton menerima Medali Wallenberg dari sebuah institusi bernama International Raoul Wallenberg Foundation.

Ia juga dianugerahi Ordo Tomáš Garrigue Masaryk, Kelas Keempat, oleh Presiden Ceko Václav Havel pada tahun 1998 dan Salib Merit dari Menteri Pertahanan Ceko. Dibangun pula patung-patung Winton di Praha dan Inggris sebagai bentuk penghormatan.

Winton dibaptis sebagai orang Kristen oleh orang tuanya, tetapi hal itu dikesampingkan oleh leluhurnya yang Yahudi dan Winton dinyatakan sebagai Orang Benar di antara Bangsa-Bangsa oleh Yad Vashem di Israel. Tahun 2008 ia menerima hadiah Nobel Perdamaian. Winton wafat pada 1 Juli 2015 di usia 106 tahun. []

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.