Ribuan Pasien Kanker Di Gaza Di Ambang Kematian Akibat Obat-obatan Habis

AKURAT.CO Saida Barbakh (62) masih harus menjalani perawatan akibat kanker tulang yang dideritanya.
Dia dirawat di Rumah Sakit Al Makassed di Yerusalem Timur dan harus kembali ke Jalur Gaza pada 5 Oktober 2023, dua hari sebelum perang dimulai.
Barbakh duduk di kursi rodanya, melihat sekeliling ruangan yang penuh sesak di fasilitas yang disediakan PBB di Khan Younis.
"Saya seharusnya kembali setelah dua minggu untuk pemeriksaan kesehatan. Saya tidak menyangka keadaan akan mencapai tingkat bahaya yang seperti ini," katanya, dikutip dari AlJazeera, Rabu (15/11/2023).
Fasilitas tempat yang disediakan PBB merupakan rumah untuk 725.000 pengungsi Palestina untuk berlindung dari serangan Israel, jauh dari kata ideal untuk menampung orang sakit.
Kurangnya listrik, air bersih yang mengalir, makanan dan tempat tidur, serta fasilitas kamar kecil yang tidak memadai, menjadikan tempat tersebut menjadi salah satu 'sarang' terjangkitnya penyakit, terutama infeksi saluran pernapasan, diare dan ruam kulit.
Baca Juga: Warga Gaza Gunakan Air Laut Untuk Mandi, Apakah Juga Sah Digunakan Untuk Bersuci?
"Saya merasa membutuhkan perawatan dan tidur, saya tidak bisa bergerak di kursi roda ini. Hidup dalam perang melawan kanker yang buruk dan menyakitkan ini sungguh mengerikan," ungkap Barbakh.
Barbakh sendiri berasal dari kota Bani Suhaila di sebelah timur Khan Younis, awalnya menjalani masa pemulihan di Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, satu-satunya rumah sakit untuk pengobatan kanker di Jalur Gaza.
Namun, rumah sakit tersebut terpaksa menutup layanan pada 1 November, setelah kehabisan bahan bakar akibat blokade Israel yang terus berlanjut di Jalur Gaza.
Bangunan itu juga mengalami kerusakan parah akibat serangan berulang Israel di daerah sekitarnya, dengan lebih dari 11.000 warga Palestina yang telah tewas akibat serangan Israel ke Gaza sejak 7 Oktober.
Baca Juga: WHO: Rumah Sakit Terbesar Di Gaza Sudah Tidak Lagi Berfungsi
Barbakh termasuk di antara 70 pasien kanker yang dievakuasi dari rumah sakit untuk pergi ke selatan, namun setelah rumahnya rusak akibat pemboman Israel, dia dan keluargnya tidak memiliki pilihan selain tinggal di tempat penampungan.
Menteri Kesehatan Palestina, Mai al-Kaila, lalu memperingatkan bahwa 70 nyawa pasien kanker tersebut berada dalam ancaman serius karena kurangnya pengobatan dan tindak lanjut kesehatan.
"Secara keseluruhan, 2.000 pasen kanker di Jalur Gaza hidup dalam kondisi kesehatan yang sangat buruk akibat agresi Israel yang berlangsung di Jalur Gaza dan pengungsian massal," kata al-Kaila.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Unggah Video Veda Ega Pratama Salip David Munoz, Akun Resmi MotoGP 'Diserbu' Netizen
- 2Kenapa Massa Geruduk Rumah Doa GKPI Tangerang? Ini Kronologi dan Duduk Perkaranya
- 3Komposisi Pemain Asing Persija Belum Penuh, Manajer Minta Soal Skuad Percayakan ke Shin Tae-yong
- 4Diduga Singgung Status Pendatang Shin Tae-yong, Direktur Teknik Java United Lakukan Rasisme?
- 5Kalender Jawa 21 September 2026: Watak Weton Senin Legi, Sopan dan Mudah Bergaul
- 6Bantah Tuduhan Konspirasi Wasit, Presiden La Liga Sebut Real Madrid Hidup di 'Dunia Lain'
- 7Asian Games: Pebulutangkis Juara Dunia Junior Thailand Dinyatakan Positif Doping
- 8Jose Mourinho Tunjukkan Gambar Pelanggaran, Babak Baru Perang Real Madrid dan Wasit?
- 9Prabowo Perkuat Industri Tekstil, Lindungi Jutaan Pekerja dan Produk Nasional
- 10Utang BLBI Warisan 98 Lunas, Menkeu: Presiden Prabowo Sambut Baik Penyelesaian Ini








