Akurat Logo

Tips Menjaga Hati dan Lisan di Tengah Riuhnya Berita Viral

Lufaefi | 8 November 2026, 05:44 WIB
Tips Menjaga Hati dan Lisan di Tengah Riuhnya Berita Viral
Ilustrasi Menjaga Lisan di Tengah Zaman Digital - Istimewa

AKURAT.CO Media sosial kini menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperoleh informasi sekaligus menyampaikan pendapat. Setiap hari, berbagai peristiwa viral silih berganti menjadi perbincangan, mulai dari persoalan politik, konflik sosial, kehidupan tokoh publik, hingga kontroversi keagamaan.

Namun, derasnya arus informasi sering kali membuat seseorang mudah terpancing emosi. Tidak sedikit orang yang terburu-buru berkomentar, menyebarkan kabar yang belum terverifikasi, bahkan melontarkan kata-kata kasar kepada pihak yang berbeda pandangan.

Dalam Islam, menjaga hati dan lisan merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Lantas, bagaimana cara menerapkannya di tengah riuhnya berita viral?

1. Tidak Mudah Berprasangka Buruk

Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hujurat ayat 12:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa.”

Ayat ini mengingatkan agar umat Islam tidak mudah membangun penilaian negatif terhadap seseorang hanya berdasarkan potongan informasi. Berita viral perlu dipahami secara utuh sebelum dijadikan dasar untuk menilai orang lain.

Baca Juga: Jangan Asal Share! Begini Cara Islam Menghadapi Rumor dan Hoaks di Media Sosial

2. Membiasakan Tabayyun Sebelum Berkomentar

Allah SWT dalam QS. Al-Hujurat ayat 6 memerintahkan orang beriman untuk memeriksa kebenaran berita yang diterima. Prinsip tabayyun ini sangat penting di era digital.

Sebelum memberikan komentar atau membagikan informasi, periksa sumber berita, konteks kejadian, dan kebenaran isinya. Jangan sampai jempol lebih cepat bergerak daripada kemampuan berpikir.

3. Mengendalikan Emosi ketika Berbeda Pendapat

Berita viral sering menghadirkan perbedaan pandangan. Namun, perbedaan tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menghina.

Allah SWT memuji orang-orang bertakwa yang mampu menahan amarah dalam QS. Ali Imran ayat 134. Karena itu, ketika membaca informasi yang memancing emosi, seorang Muslim perlu memberi ruang bagi dirinya untuk berpikir jernih sebelum bereaksi.

4. Menjaga Lisan, Termasuk Ketikan di Media Sosial

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Pesan ini juga berlaku dalam komunikasi digital. Komentar, unggahan, dan pesan yang ditulis di media sosial merupakan bentuk komunikasi yang perlu dipertanggungjawabkan.

5. Membatasi Konsumsi Berita yang Menguras Emosi

Tidak semua informasi harus diikuti secara terus-menerus. Terlalu sering mengonsumsi berita kontroversial dapat membuat seseorang mudah gelisah, marah, dan kehilangan ketenangan.

Luangkan waktu untuk beribadah, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan berinteraksi secara langsung dengan keluarga.

Baca Juga: Panduan Islam Menghindari Loker Palsu yang Berujung Penipuan

Pada akhirnya, menjaga hati dan lisan di tengah berita viral merupakan bentuk kesalehan yang relevan dengan kehidupan modern. Seorang Muslim tidak harus selalu ikut berkomentar dalam setiap persoalan. Terkadang, memilih diam, memeriksa kebenaran, dan tidak ikut menyebarkan keburukan justru menjadi sikap yang lebih bijaksana.

Sebab, kualitas keimanan tidak hanya terlihat dari apa yang diucapkan, tetapi juga dari kemampuan menahan diri ketika memiliki kesempatan untuk menyakiti orang lain.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi