Pertemuan Vladimir Putin Dan Kim Jong Un Bahas Masalah Militer Hingga Perang Ukraina

AKURAT.CO, Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un dan Presiden Rusia, Vladimir Putin mengadakan pertemuan yang jarang terjadi dimana mereka membahas mengenai masalah militer, perang di Ukraina dan kemungkinan bantuan Rusia untuk program satelit negara yang tertutup itu.
Putin mengajak Kim berkeliling tempat peluncuran roket ruang angkasa tercanggih Rusia, di Timur Jauh Rusia dan mendiskusikan kemungkinan pengiriman kosmonot Korea Utara ke luar angkasa.
Kim, yang tiba dengan kereta api dari Korea Utara, mengajukan pertanyaan-pertanyaan rinci tentang roket saat Putin mengajaknya berkeliling Vostochny Cosmodrome.
Baca Juga: 8 Musuh Vladimir Putin Berakhir Tragis, Dipenjara Hingga Mati Misterius
Setelah tur, kedua pemimpin negara tersebut mengadakan pembicaraan selama beberapa jam dengan para menterinya dan kemudian mendiskusikan masalah-masalah dunia hingga kemungkinan kerja sama secara empat mata.
Acara tersebut juga diikuti dengan makan siang mewah berupa pangsit pelmeni Rusia yang diisi dengan kepiting kamchatka dan sturgeon dengan jamur dan kentang.
Kim bersulang dengan segelas anggur Rusia untuk kesehatan Putin, untuk kemenangan "Rusia yang hebat" dan untuk persahabatan Korea-Rusia.
Dilaporkan juga bahwa Kim meramalkan kemenangan sekutunya tersebut dalam "pertarungan suci" dengan Barat dalam perang Ukraina.
"Tentara dan rakyat Rusia pasti akan meraih kemenangan besar dalam perjuangan suci untuk menghukum kejahatan besar yang mengklaim hegemoni dan memberi makan ilusi ekspansionis," kata Kim sambil mengangkat gelasnya, dikutip Kamis (14/9/2023).
Dalam pertemuan tersebut, Putin juga memberikan banyak petunjuk bahwa kerja sama militer telah didiskusikan namun tidak banyak memberikan rincian.
Di sisi lain, para pejabat AS dan Korea Selatan telah menyatakan keprihatinan mereka bahwa Kim dapat memberikan senjata dan amunisi kepada Rusia, walau kedua negara telah membantah berita tersebut.
AS lantas memeringatkan bahwa pihaknya akan menerapkan sanksi lebih lanjut atas transfer senjata oleh salah satu negara ke negara lain dan mengatakan bahwa Putin mengemis kepada Kim untuk meminta bantuan setelah kehilangan puluhan ribu tentara di Ukraina.
Baca Juga: Korea Utara Luncurkan Kapal Selam Taktis Penyerang Nuklir Baru
"Kami telah mengambil sejumlah tindakan untuk memberikan sanksi kepada entitas-entitas yang menjadi perantara penjualan senjata antara Korea Utara dan Rusia, dan kami tidak akan ragu-ragu untuk menjatuhkan sanksi tambahan jika diperlukan," ujar juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Matthew Miller, dalam sebuah konferensi pers.
Dia menyebutnya "meresahkan" bahwa Rusia akan membahas kerja sama dengan Korea Utara dalam program-program yang berpotensi melanggar resolusi Dewan Keamanan PBB.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres mengisyaratkan bahwa Rusia harus melangkah dengan hati-hati.
"Segala bentuk kerja sama negara manapun dengan Korea Utara harus menghormati rezim sanksi yang diberlakukan oleh Dewan Keamanan," kata Guterres kepada para wartawan, dan menambahkan bahwa hal itu sangat relevan dalam kasus Rusia dan Korea Utara.
Bagi Rusia, KTT ini merupakan kesempatan untuk menusuk Amerika Serikat meskipun masih belum jelas seberapa jauh Putin siap untuk memenuhi keinginan Korea Utara dalam hal teknologi.
Putin mengatakan bahwa Kim sekarang berencana untuk mengunjungi pabrik-pabrik penerbangan militer dan sipil di kota Komsomolsk-on-Amur, Rusia dan memeriksa armada Pasifik Rusia di Vladivostok.
Diketahui, Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Lavrov juga akan mengunjungi Korea Utara untuk melakukan pembicaraan lebih lanjut bulan depan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









