Akurat

Hukum Puasa bagi Penderita GERD Menurut Islam: Bolehkah Berpuasa dan Tips Aman Saat Ramadan

Redaksi Akurat | 13 Februari 2026, 07:35 WIB
Hukum Puasa bagi Penderita GERD Menurut Islam: Bolehkah Berpuasa dan Tips Aman Saat Ramadan

AKURAT.CO Hukum puasa bagi penderita GERD sering menjadi pertanyaan saat bulan Ramadan.

Banyak penderita asam lambung khawatir puasanya memperparah kondisi kesehatan.

Lalu, apakah penderita GERD tetap wajib berpuasa? Atau justru diperbolehkan tidak berpuasa dalam kondisi tertentu?

Artikel ini akan membahas hukum puasa bagi penderita GERD menurut Islam, syarat yang perlu diperhatikan, serta solusi jika tidak mampu berpuasa.

Apa Itu GERD dan Dampaknya Saat Puasa?

GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) adalah kondisi ketika asam lambung naik ke kerongkongan sehingga menimbulkan rasa terbakar di dada (heartburn), mual, begah, dan nyeri ulu hati.

Saat puasa, lambung kosong dalam waktu yang lebih lama. Kondisi ini pada sebagian penderita dapat memicu peningkatan asam lambung, sehingga gejala GERD berisiko kambuh atau memburuk.

Penderita GERD dengan gejala ringan umumnya masih boleh berpuasa selama kondisinya terkontrol dengan pola makan dan terapi yang tepat.

Namun, jika gejala tergolong berat atau sering kambuh, tidak berpuasa lebih dianjurkan untuk mencegah komplikasi seperti iritasi atau peradangan kerongkongan (esofagitis).

Hukum Puasa bagi Penderita GERD dalam Islam

Hukum puasa bagi penderita GERD adalah wajib selama tidak membahayakan kesehatan. Namun, jika kondisi memburuk atau berisiko secara medis, Islam memperbolehkan tidak berpuasa dan menggantinya di lain waktu.

Puasa Ramadan wajib bagi setiap Muslim yang telah baligh, berakal sehat, dan mampu menjalankannya. Akan tetapi, Islam memberikan keringanan (rukhsah) bagi orang yang sedang sakit.

Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 185: "Barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka wajib mengganti pada hari-hari yang lain."

Artinya, jika GERD menyebabkan rasa sakit berat atau berpotensi memperparah kondisi kesehatan menurut pertimbangan medis, penderita diperbolehkan tidak berpuasa.

Jika sakitnya bersifat sementara, maka wajib mengganti puasa (qadha) setelah sembuh. Namun, apabila kondisi bersifat kronis dan tidak memungkinkan berpuasa secara permanen, maka kewajiban dapat diganti dengan membayar fidyah.

Tips Aman Puasa bagi Penderita GERD

Jika dokter menyatakan aman untuk berpuasa, penderita GERD bisa mengikuti tips berikut agar gejala terkendali.

Jangan lewatkan sahur untuk menjaga lambung tidak kosong terlalu lama.
Hindari makanan pedas, asam, berlemak, kopi, serta minuman bersoda yang memicu produksi asam lambung.

Makan dalam porsi kecil tapi sering saat sahur dan berbuka, seperti oatmeal, pisang, atau sup hangat.

Jangan langsung tidur setelah sahur, tunggu 2-3 jam agar pencernaan bekerja optimal.

Konsumsi obat antasida atau sesuai resep dokter tepat saat berbuka atau sahur.
Pengaturan pola makan sangat menentukan kestabilan asam lambung selama puasa, sehingga ibadah tetap nyaman.

Hukum puasa bagi penderita GERD tidak bersifat mutlak. Jika kondisi ringan dan terkendali, puasa tetap wajib dijalankan. Namun, jika GERD berat dan membahayakan kesehatan, Islam memberikan keringanan untuk tidak berpuasa.

Bagi yang tidak mampu sementara, wajib mengganti puasa di hari lain. Jika kondisi permanen, cukup membayar fidyah.

Yang terpenting, penderita GERD dapat mengutamakan kesehatan dan konsultasikan dengan dokter sebelum memutuskan berpuasa.

Laporan: Vidhia Ramadhanti/magang

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.