DLH Jakarta: Sistem Pemantau Kualitas Udara RDF Rorotan Tak Pernah Dimatikan

AKURAT.CO Sistem Pemantau Kualitas Udara (SPKU) di Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan dipastikan beroperasi optimal dan tidak pernah dimatikan. Seluruh perangkat pemantau kualitas udara dan kebauan tetap bekerja sesuai fungsinya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jakarta, Asep Kuswanto, mengatakan SPKU saat ini tengah menjalani uji kolokasi atau kalibrasi lapangan untuk memastikan data yang dihasilkan akurat, presisi, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
"Tidak ada pemadaman atau penghentian pemantauan. Yang dilakukan adalah proses kalibrasi lapangan agar sensor membaca kondisi lingkungan secara tepat dan tidak menimbulkan salah tafsir terhadap data mentah," kata Asep kepada wartawan, Senin (2/2/2026).
Baca Juga: RDF Rorotan Beroperasi Bertahap, Pemprov Jakarta Pastikan SOP Dijalankan
Dia menjelaskan, uji kolokasi merupakan tahapan teknis yang lazim diterapkan pada sistem pemantauan kualitas udara, khususnya pada teknologi baru. Tahap ini dilakukan untuk mendeteksi potensi bias sensor akibat karakter lingkungan setempat, termasuk pengaruh wilayah pesisir di sekitar Rorotan.
Seluruh unit tersebut dilengkapi sensor pemantauan kebauan ambien dengan sejumlah parameter, seperti amoniak, hidrogen sulfida, metil merkaptan, metil sulfida, dan stirena. Sistem ini menjadi yang pertama di Indonesia yang secara khusus dilengkapi sensor pengukur kebauan ambien.
"Sejak akhir Desember 2025, DLH telah memasang delapan unit SPKU di sekitar RDF Plant Rorotan," jelasnya.
Dalam proses uji kolokasi, DLH Provinsi Jakarta melakukan pengambilan sampel kebauan ambien secara terstandardisasi. Sampel tersebut kemudian diuji di laboratorium terakreditasi.
Hasil uji laboratorium selanjutnya dibandingkan dengan data pembacaan SPKU untuk menyempurnakan sistem sebelum data ditampilkan secara penuh kepada publik.
"Data kebauan tidak bisa dibaca sebagai satu angka tunggal. SPKU berfungsi sebagai early warning system dan alat membaca tren perubahan kualitas udara dari waktu ke waktu, bukan untuk menarik kesimpulan instan," ujarnya.
Baca Juga: Sampah di RDF Rorotan Bisa Dimanfaatkan Jadi Bahan Bakar Alternatif bagi Industri
DLH Provinsi Jakarta menilai, klarifikasi ini penting untuk meluruskan informasi yang berkembang di ruang publik. Menurut Asep, senyawa kebauan tertentu dapat berasal dari berbagai sumber, baik aktivitas darat maupun kondisi alami pesisir. Intensitas kebauan juga sangat dipengaruhi faktor cuaca, terutama pada malam hari.
DLH Provinsi Jakarta menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan, mengevaluasi operasional RDF Plant Rorotan secara bertahap, serta menyampaikan informasi kepada masyarakat secara terbuka dan berbasis data ilmiah.
"Penguatan teknologi dan kehati-hatian lingkungan adalah prinsip utama kami. RDF Plant Rorotan dibangun sebagai solusi pengelolaan sampah yang modern, aman, dan bertanggung jawab bagi Jakarta agar terhindar dari krisis pengelolaan sampah seperti di daerah lain," pungkasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









