Akurat

Plaza 2 Blok M: Dulu Jadi Wisata Kuliner, Kini Jadi Lorong Sepi Penuh Konflik

Siti Nur Azzura | 6 September 2025, 15:41 WIB
Plaza 2 Blok M: Dulu Jadi Wisata Kuliner, Kini Jadi Lorong Sepi Penuh Konflik

AKURAT.CO Lorong Plaza 2 Blok M, Jakarta Selatan, kini menyuguhkan pemandangan yang asing bagi para pengunjung setianya. Deretan kios dengan pintu besi merah dan hitam tertutup rapat. 

Pantauan di lokasi, Sabtu (6/9/2025), tak ada lagi bau masakan yang menyeruak dari dapur kecil, tak terdengar lagi riuh pedagang menawarkan dagangan. Yang tersisa hanyalah lorong sunyi, seolah waktu berhenti di sini.

Sejak pengelola menaikkan harga sewa kios menjadi Rp15 juta, banyak pedagang kecil menyerah. Angka itu dianggap tak masuk akal untuk ukuran lorong yang sehari-hari makin sepi pembeli.

Baca Juga: Pramono Anung Beri Keringanan Pedagang di Blok M, Gratiskan Sewa Kios Dua Bulan

"Kalau dulu, jam pulang kantor orang antre sampai ke luar lorong. Sekarang mau bayar listrik saja susah, apalagi sewa Rp15 juta," ujar Rudi (52) pedagang nasi yang sudah 10 tahun membuka kios di Blok M.

Dengan mata berkaca-kaca, Rudi menutup kiosnya bulan lalu. "Bukan saya tidak mau bertahan, tapi dagangan makin seret, biaya makin tinggi. Berat sekali," katanya.

Bagi pelanggan setia, tutupnya kios-kios ini meninggalkan kehilangan tersendiri. Dina (27), karyawan kantoran di kawasan Blok M, mengaku sedih ketika melihat kios favoritnya tak lagi buka.

"Dulu saya sering beli puding karamel sama nasi matah. Rasanya khas banget, dan harganya masih ramah di kantong. Sekarang lorongnya sepi, malah agak menyeramkan kalau lewat sendirian," katanya.

Baca Juga: Rute Blok M–Ancol Resmi Pakai Bus Listrik, Pramono Anung: Ini Awal Masa Depan Jakarta

Plaza 2 Blok M selama puluhan tahun dikenal sebagai ruang hidup bagi UMKM. Di sini, banyak pedagang kecil menaruh harapan besar seperti membiayai sekolah anak, membayar kontrakan rumah, hingga sekadar bertahan hidup di kota yang keras. 

Namun dengan biaya sewa yang melambung, mimpi-mimpi itu ikut terkunci di balik pintu kios yang tertutup rapat.

"Kalau pengelola tidak memikirkan pedagang kecil, lama-lama Plaza 2 tinggal nama. Yang dulu jadi ikon rakyat kecil, sekarang hanya akan jadi bangunan kosong," kata Rudi sebelum berlalu, meninggalkan lorong yang kembali sunyi.

Kini, di tengah gemerlap modernisasi Blok M dengan kafe-kafe baru dan gaya hidup urban, Plaza 2 menyisakan paradoks. Ruang yang dulu penuh kehidupan, berubah jadi saksi bisu bagaimana kebijakan harga sewa bisa membungkam riuhnya ekonomi rakyat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.