Akurat

Aktivitas Vulkanik Meningkat, Gunung Lewotobi Naik Status Jadi Siaga

Mukodah | 10 Juni 2024, 10:45 WIB
Aktivitas Vulkanik Meningkat, Gunung Lewotobi Naik Status Jadi Siaga


AKURAT.CO Badan Geologi Kementerian ESDM menaikkan tingkat aktivitas Gunung Lewotobi Laki-Laki di Flores Timur, Nusa Tenggara Timur, dari Level II (Waspada) menjadi Siaga atau Level III.

"Masyarakat di sekitar Gunung Lewotobi Laki-Laki dan pengunjung atau wisatawan tidak melakukan aktivitas apapun dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi, serta sektoral empat kilometer pada arah Utara-Timur laut dan lima kilometer pada sektor Timur Laut," jelas Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Hendra Gunawan, dalam keterangannya, Senin (10/6/2024).

Berdasarkan hasil pemantauan visual dan instrumental terjadi peningkatan aktivitas vulkanik pada Gunung Lewotobi Laki-Laki, sehingga tingkat aktivitas dinaikkan menjadi Level III, terhitung mulai hari ini pukul 09.00 WITA.

Baca Juga: Gunung Lewotobi Laki-Laki Erupsi Lagi, Tinggi Kolom Letusan Mencapai 300 Meter

Dari pengamatan secara visual periode 26 Mei sampai 9 Juni 2024, aktivitas vulkanik Gunung Lewotobi Laki-Laki menunjukkan adanya peningkatan yang ditandai erupsi hampir setiap hari yang ditunjukkan oleh tinggi kolom erupsi rata-rata 100-900 meter dari puncak.

Selain itu, terjadi erupsi strombolian pada 9 Juni 2024 dan terlihat adanya sinar api yang memancar saat erupsi.

Aktivitas kegempaan pada periode ini juga mengalami kenaikan signifikan pada jumlah gempa erupsi dan gempa vulkanik serta terekam adanya gempa guguran.

"Dari data kegempaan terlihat adanya kenaikan gempa-gempa vulkanik yang sangat signifikan," ujar Hendra.

Dengan kenaikan tingkat aktivitas tersebut, Badan Geologi merekomendasikan agar masyarakat tidak melakukan aktivitas di sekitar gunung dalam radius yang telah ditentukan.

Baca Juga: Doa Saat Terjadi Bencana Gunung Meletus, Harus Diketahui Para Muslim

Selain itu, masyarakat diminta tetap tenang sambil mendengarkan arahan dari pemerintah daerah setempat.

"Masyarakat yang terdampak hujan abu memakai masker atau penutup hidung-mulut, untuk menghindari bahaya abu vulkanik pada sistem pernapasan," Hendra berpesan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
Mukodah
W
Editor
Wahyu SK