Akurat

Apriyani: Kami Seolah-olah Dihabisi Di Bawah Delapan Pukulan

Badri | 28 Agustus 2023, 07:05 WIB
Apriyani: Kami Seolah-olah Dihabisi Di Bawah Delapan Pukulan

AKURAT.CO, Pebulutangkis ganda putri Indonesia, Apriyani Rahayu, mengaku bahwa lawan yang dihadapinya bersama Siti Fadia Silva Ramadhanti di final Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2023, Chen Qing Chen/Jia Yi Fan, bermain dengan kesiapan maksimal. Chen/Jia, kata Apriyani, tak hilang fokus sepanjang laga.

“Hari ini lawan sangat mempersiapkan pola permainan dengan baik. Mulai dari servis pertama sampai delapan pukulan, sangat fokus untuk bisa dapat poin,” kata Apriyani usai laga final di Royal Arena, Kopenhagen, Denmark, Minggu (28/8) sebagaimana dipetik dari rilis resmi PBSI.

“Kami seolah-olah dihabisi di bawah delapan pukulan. Enggak pernah lepas.”

Baca Juga: Kejuaraan Dunia Bulutangkis: Apriyani Rahayu Teringat Laga Olimpiade Tokyo

Apriyani/Fadia harus kalah dalam laga dua set dengan skor 21-16 dan 21-12 dengan durasi waktu 42 menit. Seraya berterimakasih terhadap Fadia, Apriyani menyebut bahwa Chen/Jia bermain seakan tak ada lelahnya.

“Terima kasih ke Fadia yang sudah bermain luar biasa hari ini. Lawan hari ini kuat banget. Kami harus belajar dari mereka. Tidak pernah capek dan terus bermain menekan. Itu yang harus dipelajari dari lawan, bagaimana fokus dan yakin dari awal,” kata Apriyani.

Final melawan di Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2023 merupakan final pertama bagi Apriyani/Fadia di sepanjang tahun ini. Juga merupakan kesempatan bagi duet ranking 12 dunia itu untuk menjadi pasangan ganda putri pertama yang menjuarai Kejuaraan Dunia Bulutangkis sepanjang sejarah.

“Bersyukur dapat medali perak. Sudah lama sektor ganda putri tidak mendapat medali. Prestasi ini membuat ganda putri pelatnas membuat sejarah. Senior-senior yang dulu sudah berjuang, juga saya ucapkan terima kasih,” kata Apriyani.

Baca Juga: Daftar Juara Bertahan Kejuaraan Dunia Badminton 2022

Senada dengan Apriyani, Fadia mengatakan bahwa Chen/Jia seperti sudah tahu bakal bisa memenangi pertandingan sejak awal. Pun demikian, medali perak di debut final Kejuaraan Dunia Bulutangkis cukup memuaskan bagi Fadia yang belum lama ini baru kehilangan kakeknya.

“Kita akui, lawan dari hawanya sudah dapat dari awal. Ini pelajaran bagi saya. Mereka begitu fokus untuk mengalahkan kami,” kata Fadia.

“Prestasi ini juga saya persembahkan ke kakek yang meninggal dunia sebelum Jepang Open. Kakek sangat menunggu saya naik podium. Prestasi ini saya persembahkan untuk kakek di surga.”[]

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

B
Reporter
Badri
H