Disinggung mengenai kegagalan tim bulutangkis Indonesia di Hangzhou, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Dito Ariotedjo, menyebut bahwa salah satu faktornya adalah kelelahan yang dirasakan para atlet.
Seperti yang disampaikan atlet tunggal putra peringkat dua dunia, Anthony Sinisuka Ginting, saat ditanya Menpora Dito ketika melakukan pertemuan dengan pengurus PBSI, Senin (9/10).
"Kalau bulutangkis terkait organisasi mungkin bisa kejar (tanya) PBSI. Tapi, saya sempat ngecek ke satu atlet, Ginting, itu ketika di Asian Games sudah merasa capek sekali," kata Dito di gedung Kemenpora, Senayan, Jakarta, Selasa (10/10).
”Jadi mungkin ini ada masalah penjadwalan (keikutsertaan dalam BWF Tour). Nah, itu yang saya sampaikan ke PBSI, ke depannya terkait masalah ini harus asa prioritas agenda bagi atlet untuk masalah penjadwalan. Tapi, kalau terkait intenal PBSI, silakan kejar PBSI."
Kegagalan tim bulutangkis bisa dikatakan pukulan telak bagi Tim Indonesia. Terlebih, di awal mereka berani memasang target tiga medali emas. Namun pada akhirnya satu medali perunggu pun tidak mampu mereka raih.
Politisi partai Golkar itu sudah memberikan undangan kepada PBSI untuk memberikan laporan terkait masalah ini. Tetapi, kata Dito, PBSI akan melakukan evaluasi internal terlebih dahulu sebelum memenuhi undangannya.
"Jadi cabor (cabang olahraga) yang tidak sesuai target salah satunya adalah bulutangkis, di mana menargetkan tiga medali emas tapi tidak (dapat medali) sama sekali. Saya sudah undang PBSI, dan PBSI kayaknya pekan ini akan ada evaluasi internal, kita akan menunggu," kata Dito menjelaskan.
Dito mengatakan pihaknya akan segera melakukan evaluasi secara menyeluruh, bukan hanya kepada cabor bulutangkis saja, namun seluruh cabang yang gagal memenuhi target. Di mana salah satu punishment yang menanti adalah masalah 'dukungan' pemerintah untuk kegiatan cabor-cabor terkait.
"Itu (hukuman) akan terkait dengan program pelatnas, dan juga masalah support dari Pemerintah untuk multievent berikutnya. Ini pasti akan kami evaluasi dan juga akan pertanggungjawaban, dan ini pastinya sebagai catatan kami ke depan," kata Dito menuntaskan.[]