Customer Makin Cerdas, Begini Tantangan Sales di Era AI

AKURAT.CO Perkembangan artificial intelligence (AI) mulai mengubah cara tenaga penjualan menjalankan pekerjaannya. Di tengah konsumen yang semakin mudah mengakses informasi, salesperson tidak lagi cukup hanya menguasai teknik menawarkan produk.
Kemampuan memahami persoalan customer, membangun kepercayaan, mengelola prospek hingga menjaga hubungan setelah transaksi menjadi semakin penting.
Perubahan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam KopDar Sales #3: Jualan di Era AI yang digelar Marketeers Event, bagian dari MCorp, pada Rabu (9/9/2026) di XXI Kuningan City, Jakarta. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 500 profesional sales dari berbagai industri.
Head of Retail & Loyalty MCorp, Marthani mengatakan, perubahan perilaku konsumen membuat salesperson harus meningkatkan kompetensinya. Konsumen saat ini memiliki akses yang lebih luas terhadap informasi dan dapat melakukan riset mengenai produk sebelum bertemu tenaga penjualan.
Baca Juga: Apa Itu Artificial Intelligence Generatif? Ini Pengertian, Cara Kerja, dan Contohnya
“Di era sekarang, sebelum bertemu orang sales, customer sudah riset duluan. Sekarang, sales yang menang adalah apabila mereka paling paham persoalan (customer),” ujar Marthani dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (10/9/2026).
Menurutnya, posisi salesperson juga semakin strategis karena menjadi salah satu pihak yang berhadapan langsung dengan pelanggan dan membawa citra perusahaan.
“Sales itu kan, suka nggak suka adalah brand ambassador perusahaan. Bener gak? Kompetensi yang dibutuhkan orang sales di zaman ini juga makin demanding,” kata Marthani.
Perubahan tersebut membuat proses penjualan tidak lagi hanya berorientasi pada bagaimana produk dapat terjual. Salesperson perlu memahami kebutuhan pelanggan terlebih dahulu sebelum menentukan pendekatan yang digunakan.
Hal tersebut juga disampaikan Head of Product Tada Gabriel Vidyananto. Menurutnya, tantangan perusahaan saat ini bukan hanya mendapatkan perhatian konsumen melalui berbagai aktivitas pemasaran, tetapi mempertahankan hubungan dengan pelanggan.
“Brand-brand itu banyak mengeluarkan ads. Yang susah itu me-retain,” ujar Gabriel.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 4Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 7KPK Tegaskan Tak Sita atau Terima Pengembalian Rp40 Juta dari PCNU Terkait Muktamar NU
- 8Prediksi Skor Roma vs Cagliari 28 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan Menang
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon









