Akurat

Jawab Cak Imin soal Ritel Modern, Milenial: UMKM Masih Jadi Penyelamat Hidup Sih!

Andi Syafriadi | 31 Oktober 2025, 15:15 WIB
Jawab Cak Imin soal Ritel Modern, Milenial: UMKM Masih Jadi Penyelamat Hidup Sih!

AKURAT.CO Pernyataan Menko PM, Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang menyebut bisnis ritel modern seperti Alfamart dan Indomaret 'mematikan' UMKM memicu beragam tanggapan, terutama dari kalangan milenial dan Gen Z.

Sebagian generasi muda menilai kritik tersebut ada benarnya, tapi juga tidak sepenuhnya menggambarkan realitas kebutuhan masyarakat saat ini, terutama di tengah tekanan ekonomi dan daya beli yang terus menurun.

Bagi mereka, keberadaan ritel modern memang praktis dan terstandar, tapi toko kelontong tetap punya tempat tersendiri dalam ekosistem ekonomi rakyat.

“Kalau duit cuma ada sepuluh ribu dan mau beli rokok, masa iya harus beli satu bungkus? Di warung-warung kelontong bisa beli enam batang aja. Itu realita yang nggak bisa dihapus sama modernisasi,” ujar Mahasiswa Universitas Budi Luhur, Rafi (19) ketika ditemui, Jumat (31/10/2025). .

Baca Juga: Cak Imin Sebut Retail Modern Matikan UMKM, Menteri Maman: Jangan Dilihat Secara Negatif Dulu!

Menurutnya, ritel modern memang unggul dalam kemasan, kebersihan, dan promosi. Namun, warung dan toko kelontong masih menjadi 'penyelamat' bagi banyak masyarakat kecil yang berbelanja sesuai kebutuhan harian.

“Indomaret dan Alfamart itu nyaman, tapi nggak semua orang mampu belanja di sana setiap waktu. Warung masih jadi solusi pas akhir bulan atau pas lagi seret, namanya juga anak kosan,” tambahnya.

Pandangan serupa disampaikan oleh Nadia (21), mahasiswi yang juga pelaku usaha kecil daring. Ia menilai tudingan bahwa ritel modern sepenuhnya 'membunuh' UMKM perlu dilihat lebih seimbang.

“Masalahnya bukan semata Alfamart-nya, tapi daya beli masyarakat. Selama orang masih punya uang pas-pasan, warung akan tetap hidup,” ucapnya.

Nadia menilai, justru banyak UMKM yang kini menyesuaikan diri dengan pola konsumsi masyarakat muda kaya misalnya menjual barang eceran, menyediakan layanan pesan antar via WhatsApp, hingga membuka sistem pay later sederhana bagi pelanggan tetap.

“Warung-warung sekarang juga mulai adaptif kok. Ada yang sudah jualan lewat grup RT, ada yang bisa kirim belanjaan lewat ojek online. Itu bentuk perlawanan lokal yang nyata,” kata Nadia.

Baca Juga: Jawab Kritikan Cak Imin Soal Retail Modern Matikan Bisnis UMKM, Begini Kata APRINDO

Sementara itu, Yoga (28), karyawan swasta di Jakarta, menilai masalah utama bukan pada eksistensi ritel modern, melainkan pada kebijakan ekonomi yang belum adil. Menurutnya, pemerintah perlu memperjelas batas antara ritel besar dan UMKM agar tidak saling menggerus.

“Kalau dibilang ritel modern mematikan UMKM, ya iya kalau tidak diatur. Tapi kan tugas pemerintah yang harus bikin ekosistemnya seimbang. Ritel modern juga bisa jadi mitra, bukan musuh,” katanya.

Ia menilai, persoalan daya beli masyarakat menjadi kunci dalam isu ini. Saat penghasilan stagnan dan harga barang naik, masyarakat akan beralih ke tempat yang paling memungkinkan untuk 'bertahan hidup' dan itu sering kali bukan di gerai modern.

“Kita ini bukan soal gengsi belanja di mana, tapi realita dompet. Kalau uang pas-pasan, warung tetap jadi pilihan rasional,” ujar Yoga.

Dari sisi sosial, Gen Z dan milenial juga menyoroti bahwa toko kelontong memiliki fungsi yang lebih dari sekadar tempat belanja. Warung sering menjadi ruang interaksi sosial, tempat berutang kecil, hingga simbol solidaritas warga di lingkungan sekitar.

“Di warung, kadang bisa ngutang dulu, besok bayar. Di ritel modern kan nggak bisa. Jadi buat masyarakat bawah, warung bukan cuma tempat beli, tapi tempat hidup,” tutur Rafi.

Oleh karena itu. lanjut Rafi, pemerintah seharusnya perlu menata ulang arah kebijakan agar modernisasi ritel tetap berjalan tanpa mengorbankan pelaku usaha kecil yang menjadi penopang ekonomi lokal.

Bagi generasi muda yang hidup di tengah ketimpangan harga dan gaji, perdebatan soal ritel modern versus UMKM bukan semata isu bisnis, tapi soal realitas hidup sehari-hari.

“Selama gaji segitu-gitu aja, warung bakal tetap ada. Karena cuma di sana kita bisa beli sesuai isi dompet,” ucapnya kembali.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.