Transformasi Batik, Dari Warisan Budaya Jadi Produk Bernilai Global

AKURAT.CO Batik kini tak lagi hanya berbicara tentang sejarah dan warisan budaya. Pemerintah melalui Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tengah mendorong transformasi batik agar mampu bersaing di pasar global, sekaligus menjadi motor penggerak ekonomi modern.
“Batik adalah kekuatan bangsa yang harus berperan dalam ekonomi global,” kata Staf Ahli Bidang Komunikasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian UMKM, Sudaryano Lamangkona, dalam Batik Outlook 2025 di Jakarta, Kamis (2/10).
Dirinya menekankan pentingnya menjaga nilai budaya batik sembari mendorongnya menjadi produk bernilai ekonomi tinggi melalui inovasi, digitalisasi, dan keberlanjutan.
Kementerian UMKM berupaya membangun ekosistem yang mendukung transformasi tersebut, salah satunya melalui program “Juragan UMKM” yang memberikan dukungan pemasaran lewat bazar, pameran, hingga platform digital.
Baca Juga: Kementerian UMKM Bangun Ekosistem Digital Inklusif
Selain itu, festival batik di tiga kota — Pekalongan, Magelang, dan Malang — digelar untuk menggabungkan kekuatan tradisi dengan inovasi.
Transformasi juga mencakup aspek desain dan teknologi produksi. Perajin didorong mengadopsi prinsip ramah lingkungan agar produk batik tidak hanya bernilai seni tinggi, tetapi juga sesuai dengan tren pasar global yang semakin peduli terhadap keberlanjutan.
“Generasi muda harus tetap bangga mengenakan batik, dan itu bisa dicapai jika batik terus relevan dengan zaman,” ujar Sudaryano.
Upaya ini mendapat dukungan penuh dari pemerintah daerah. Pekalongan, misalnya, telah menjelma menjadi pusat produksi batik nasional dengan kontribusi sekitar 70% terhadap total produksi, dan 20% di antaranya telah menembus pasar internasional.
“Kami terus berupaya menjaga tradisi sekaligus meningkatkan daya saing di pasar global,” kata Wali Kota Pekalongan Afzan Arslan Djunaid.
Baca Juga: Kementerian UMKM Siapkan Insentif Marketplace untuk Lindungi Produk Lokal
Malang menggabungkan pelestarian dengan strategi permintaan melalui program “Kemis Mbois”, sedangkan Magelang membangun IKM Center untuk memastikan kualitas produk UMKM siap bersaing.
Ketiga kota ini menjadi contoh nyata bagaimana batik bisa bertransformasi menjadi industri yang adaptif dan berdaya saing tinggi.
Dengan sinergi antara pelaku UMKM, pemerintah pusat, dan daerah, batik Indonesia kian mantap menapaki panggung global.
Transformasi ini bukan hanya menjaga warisan, tetapi juga menjadikan batik sebagai kekuatan ekonomi kreatif yang membawa nama Indonesia lebih dikenal di dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









