Dukung UMKM, BI Perkuat Kebijakan Keuangan Inklusif
Yosi Winosa | 26 Agustus 2025, 17:24 WIB

AKURAT.CO Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya dalam memperkuat kebijakan keuangan inklusif untuk mendorong pertumbuhan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.
Kepala Departemen Ekonomi Keuangan Inklusif dan Hijau BI, Anastuty, menjelaskan kebijakan ini bertujuan menciptakan permintaan bagi lembaga pembiayaan agar menyalurkan kredit kepada UMKM yang membutuhkan.
“Kebijakan ini ditujukan untuk menciptakan demand bagi lembaga pembiayaan, sehingga UMKM bisa terus tumbuh,” ujarnya dalam acara Peluncuran Amartha Financial Group di Jakarta, Selasa (26/8/2025).
Saat ini, UMKM berkontribusi besar terhadap perekonomian Indonesia. Sektor ini menyumbang 60–64% terhadap pertumbuhan ekonomi, dengan 97% tenaga kerja terserap di dalamnya. Menariknya, 80% pelaku UMKM adalah perempuan, yang menjadikan peran mereka vital dalam memperkuat ekonomi rakyat.
BI sendiri membina sekitar 2.500 UMKM, di mana setengahnya didirikan oleh perempuan. Selain itu, terdapat 90 kelompok subsisten dengan hampir dua ribu anggota, mayoritas perempuan dengan persentase mencapai 69%.
Dalam mendukung pengembangan UMKM, BI memiliki kerangka kerja ekonomi keuangan inklusif yang terdiri dari tiga pilar, yakni peningkatan daya saing UMKM, perluasan akses keuangan, serta peningkatan literasi dan inklusi keuangan.
Menurut Anastuty, pilar tersebut dirancang agar UMKM dapat tumbuh berkelanjutan dan mampu bersaing di pasar global.
Salah satu fokus BI adalah mendukung UMKM sektor pangan, sebagai bagian dari upaya menjaga inflasi dan memperbaiki neraca perdagangan.
“Kami membina UMKM agar memiliki daya saing ekspor sehingga mampu memberikan kontribusi positif terhadap perdagangan Indonesia,” kata Anastuty.
Melalui program UMKM Go Ekspor, UMKM Hijau, dan UMKM Go Digital, BI mendorong pelaku usaha untuk bertransformasi. UMKM diperkenalkan pada e-commerce dan sistem pembayaran digital agar bisa memperluas pasar, termasuk menembus pasar internasional.
BI juga meluncurkan aplikasi Sistem Informasi Aplikasi Pencatatan Informasi Keuangan (SIAPIK) untuk membantu pelaku UMKM mencatat keuangan sehari-hari secara sederhana. Langkah ini dianggap penting agar UMKM memiliki rekam jejak finansial yang dapat meningkatkan akses pembiayaan dari lembaga keuangan.
Selain SIAPIK, keberadaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) turut mendorong digitalisasi UMKM. Saat ini, terdapat 57 juta pengguna QRIS, di mana 39,3 juta di antaranya merupakan UMKM.
Peluncuran QRIS Cross Border di Jepang, Singapura, Malaysia, Thailand, hingga uji coba di Tiongkok semakin memudahkan transaksi lintas negara. Inovasi ini diyakini mampu memperluas pasar UMKM lokal agar bisa lebih mudah diakses pembeli luar negeri, termasuk wisatawan asing.
Dalam hal pembiayaan, bank umum masih mendominasi penyaluran kredit sebesar 98,4%, sementara fintech menyumbang 1,6%. Meski porsinya kecil, pertumbuhan pembiayaan dari fintech terbilang pesat, yakni 36,8% year-on-year (yoy), menunjukkan potensi besar yang masih bisa digali.
Namun, penyaluran kredit dari bank umum tercatat menurun signifikan. Hal ini berdampak pada tertahannya ekspansi usaha UMKM.
“Banyak faktor yang memengaruhi, mulai dari kondisi ekonomi yang lesu hingga menurunnya daya beli masyarakat,” jelas Anastuty.
Untuk menjembatani UMKM dengan lembaga pembiayaan, BI mengembangkan program Survei Database Profil Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah Potensial Dibiayai (BISAID). Melalui program ini, BI menghadirkan 314 UMKM binaan untuk bertemu dengan 10 lembaga keuangan.
“Hasilnya, alhamdulillah terjadi business matching dengan nilai pembiayaan mencapai Rp320 miliar,” ungkap Anastuty.
Anastuty menambahkan, BI terus mendorong kolaborasi lintas pemangku kepentingan, salah satunya melalui Dewan Nasional Keuangan Inklusif (DNKI). Upaya ini dilakukan untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan secara menyeluruh.
“Kami bisa menjadikan pilot project 2.500 UMKM binaan sebagai contoh untuk pengembangan UMKM lain di seluruh Indonesia. Oleh karena itu, kami terbuka untuk kolaborasi dan sinergi,” tegasnya.
Dengan berbagai langkah tersebut, BI berharap UMKM Indonesia semakin berdaya saing, mampu memanfaatkan pembiayaan, serta terhubung dengan pasar global.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









