Apakah Gerhana Matahari Februari 2026 Terlihat di Indonesia? Ini Penjelasannya

AKURAT.CO Gerhana matahari sebagai salah satu fenomena astronomi langka kembali menjadi perhatian dunia menjelang bulan suci Ramadhan 1447 Hijriah.
Dua peristiwa besar, yakni gerhana matahari cincin pada 17 Februari 2026 dan gerhana matahari total terlama pada 2 Agustus 2027, diprediksi menjadi momen langit paling spektakuler dalam satu abad.
Menjelang Ramadhan 1447 H, dunia akan disuguhi fenomena gerhana matahari cincin atau annular eclipse yang terjadi pada 17 Februari 2026.
Pada peristiwa ini, Matahari akan tampak membentuk cincin api atau ring of fire, ketika Bulan menutupi bagian tengah Matahari namun masih menyisakan lingkaran cahaya terang di sekelilingnya.
Baca Juga: Simak Lokasi Gerhana Matahari 22 September 2025, Jam Berapa Waktu Lihatnya?
Gerhana diperkirakan mulai terjadi pada pukul 04.56 EST, sementara puncak gerhana berlangsung pada pukul 07.12 EST, saat bagian terbesar Matahari tertutup oleh Bulan.
Sayangnya, gerhana matahari cincin tersebut tidak dapat disaksikan dari wilayah Indonesia.
Dilansir dari Space, jalur annularitas gerhana hanya melintasi wilayah sepanjang sekitar 4.282 kilometer dengan lebar 616 kilometer yang seluruhnya berada di kawasan Antartika.
Dengan demikian, fenomena ini tidak terlihat di Indonesia maupun di Asia Tenggara, dan hanya sedikit peneliti di Antartika yang dapat menyaksikannya secara langsung.
Beberapa lokasi terbatas yang berada tepat di jalur cincin api antara lain Stasiun Penelitian Concordia milik Prancis dan Italia dengan durasi annularitas sekitar dua menit satu detik, serta Stasiun Mirny di Queen Mary Land, Antartika, dengan durasi sekitar satu menit lima puluh dua detik.
Sementara itu, wilayah Afrika bagian selatan dan ujung selatan Amerika Selatan hanya akan mengalami gerhana matahari sebagian.
Gerhana matahari sendiri terjadi saat fase bulan baru, ketika Bulan berada tepat di antara Bumi dan Matahari sehingga bayangannya jatuh ke permukaan Bumi.
Pada gerhana matahari total, Bulan berada cukup dekat dengan Bumi sehingga tampak sama besar atau lebih besar dari Matahari dan mampu menutupinya secara penuh.
Sebaliknya, pada gerhana matahari cincin, Bulan berada lebih jauh dari Bumi sehingga tampak lebih kecil dan tidak menutupi Matahari sepenuhnya, meninggalkan cincin cahaya terang yang dikenal sebagai ring of fire.
Selain gerhana 2026, para astronom juga memprediksi salah satu gerhana matahari total terlama abad ini akan terjadi pada 2 Agustus 2027.
Gerhana ini diperkirakan memiliki durasi totalitas hingga enam menit dua puluh tiga detik dan tidak akan terulang lagi hingga setelah tahun 2100.
Durasi panjang tersebut terjadi karena keselarasan kosmik yang hampir sempurna, ketika Bulan berada dekat titik terdekatnya dengan Bumi, sementara Matahari berada dekat titik terjauhnya dari Bumi, sehingga Bulan tampak cukup besar untuk menutup cakram Matahari lebih lama dari biasanya.
Jalur totalitas gerhana 2 Agustus 2027 akan dimulai dari Maroko dan Spanyol bagian selatan, kemudian bergerak melintasi Aljazair, Tunisia, Libya, Mesir, Arab Saudi, Yaman, hingga berakhir di pesisir Somalia.
Baca Juga: Jadwal Gerhana Matahari Parsial Hari Ini Muncul di Mana Saja?
Wilayah dengan durasi totalitas terlama diperkirakan berada di Luxor dan Aswan, Mesir, yang disebut sebagai lokasi terbaik untuk mengamati fenomena tersebut. Sebagian wilayah Eropa, Asia, dan Afrika lainnya hanya akan mengalami gerhana matahari sebagian.
Bagi pengamat di Indonesia, baik gerhana matahari cincin 17 Februari 2026 maupun gerhana matahari total 2 Agustus 2027 tidak dapat disaksikan secara langsung.
Indonesia tidak berada di jalur annularitas maupun jalur totalitas kedua peristiwa tersebut, sehingga tidak akan mengalami perubahan cahaya Matahari saat gerhana berlangsung.
Fenomena gerhana matahari 2026 dan 2027 menjadi pengingat betapa presisinya pergerakan Bumi, Bulan, dan Matahari dalam sistem Tata Surya.
Meski tidak dapat disaksikan langsung dari Indonesia, kedua peristiwa ini tetap menjadi bagian penting dari rangkaian fenomena astronomi langka yang dinantikan para ilmuwan dan pecinta langit di seluruh dunia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









