TikTok LIVE dan ASEAN Foundation Dorong Kreator Muda Hadirkan Dampak Sosial Lewat Konten

AKURAT.CO ASEAN Foundation dan TikTok LIVE berkolaborasi dalam Program ASEAN LIVE Creators for Change 2025 yang mempertemukan para kreator muda dari berbagai negara Asia Tenggara dalam sebuah perjalanan kreatif untuk menunjukkan dalam tujuan berbeda. Mereka bisa menemukan ruang yang sama di TikTok.
Director of Public Policy for Southeast Asia TikTok, Chanida Klyphun, mengatakan, ASEAN LIVE Creators for Change mencerminkan misi TikTok untuk menginspirasi kreativitas dan menghadirkan kegembiraan.
"Kami sangat tergerak melihat para kreator menggunakan TikTok LIVE untuk menyebarkan pengetahuan, melestarikan budaya dan menjaga bahasa daerah tetap hidup. Storytelling digital membuka jendela ke dunia sekaligus menyoroti kekayaan keragaman Asia Tenggara," ujar Chanida melalui keterangannya, Jumat (21/11/2025).
Dia menjelaskan, sebagai kolaborasi antara ASEAN Foundation dan TikTok, program tersebut membekali 20 kreator muda dari seluruh kawasan dengan mentorship, dukungan dana dan alat-alat untuk mengadakan sesi TikTok LIVE yang berdampak mulai dari edukasi, kewirausahaan hingga budaya.
"Berlangsung dari 2024 hingga 2025, inisiatif ini tidak hanya mendorong pengaruh digital yang bertanggung jawab, tetapi juga memperkuat kemampuan generasi muda dalam menceritakan kisah mereka sendiri di ASEAN yang semakin terhubung," tutur Chanida.
Baca Juga: Arti Boop, Betty Boop, dan Bop: Istilah Gaul yang Sering Muncul di TikTok dan X
Melalui program tersebut, para peserta juga memperoleh keterampilan praktis mulai dari pengaturan teknis, perencanaan konten yang konsisten hingga memahami audiens secara lebih mendalam.
"Fondasi ini memungkinkan mereka untuk melanjutkan misi masing-masing dengan lebih percaya diri dan menghasilkan dampak yang lebih nyata bagi komunitas mereka," kata Chanida.
Executive Director ASEAN Foundation, Dr. Piti Srisangnam, berharap melalui kolaborasi dengan TikTok LIVE, ASEAN Foundation dapat terus mendukung kreator muda yang menggunakan platform digital untuk mendorong pembelajaran, inklusivitas dan apresiasi budaya di seluruh kawasan
Sebagai informasi, setelah rangkaian program selesai, dari 20 kreator berpartisipasi, dipilih tiga kreator sebagai pemenang, yaitu Jhonatan (@jhonatanyuditya_pratama), Leni (@lenirezi) dan Sir Pedot (@sirpedot).
Mereka dinilai memiliki dampak yang kuat terhadap sosial melalui konten yang diproduksi, melalui cara pandang dan cerita yang mereka bawa. Ketiganya menunjukkan bahwa TikTok LIVE dapat menjadi ruang untuk belajar, menjembatani budaya dan merayakan identitas.
Baca Juga: Viral di TikTok! Ini Lirik Lagu Tor Monitor Ketua dari Ecko Show, Punya Makna yang Bikin Penasaran
Sir Pedot membuka akses belajar sehari-hari kemudian Leni menjaga bahasa daerah tetap hidup. Sedangkan Jhonatan memperkuat identitas budaya dengan storytellingnya.
Meski jalur mereka berbeda, namun secara bersama mereka menunjukkan bagaimana TikTok LIVE telah menjadi ruang yang bermakna untuk berbagi pengetahuan, inspirasi dan budaya sekaligus menjadi ruang di mana kreativitas bisa menghasilkan dampak nyata
Berikut profil dari konten kreator tersebut:
Jhonatan dari Borneo: Budaya Dayak dalam Sorotan Digital
Sebagai pemenang pertama, Jhonatan asal Borneo menyalurkan semangat budaya Dayak melalui karya-karya digitalnya.
Baginya, identitas Dayak bukan sekadar simbol seremonial, tetapi nilai hidup sehari-hari seperti rasa syukur, keseimbangan dan kedekatan dengan alam.
Ia memilih menampilkan konten yang autentik, salah satunya melalui sesi LIVE Gawai Dayak yang memamerkan parade dan tari tradisional.
Baca Juga: Lirik Lagu Bintang 5 oleh Tenxi dan Jemsii yang Viral di TikTok!
Siaran tersebut ditonton lebih dari 16.000 orang dan mengundang ratusan interaksi, menjadi momen kebanggaan tidak hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi komunitas Dayak.
Dalam wawancara, Jhonatan menegaskan pendekatannya yang memandang budaya sebagai sesuatu yang hidup. Ia ingin penonton tidak hanya melihat visual tetapi juga merasakan makna di balik tiap tradisi.
Melalui konten seperti ini, ia membuktikan bahwa budaya dapat berkembang di platform digital sekaligus mendukung UMKM dan memberdayakan komunitas.
"Program ASEAN LIVE Creators for Change menjadi pengingat bahwa kreativitas bukan sekadar hiburan, tetapi sarana pemberdayaan," ujarnya.
Jhonatan meyakini bahwa storytelling digital mampu menghubungkan generasi muda dengan akar budaya mereka secara lebih natural dan mendalam.
Baca Juga: Caption TikTok yang Cocok untuk Algoritma: Rahasia Tembus FYP 2025
Leni: Membawa Bahasa Daerah Indonesia Kembali Mainstream
Leni, pemenang kedua, memulai perjalanannya dari keprihatinan terhadap masa depan bahasa-bahasa daerah di Indonesia.
Data dari lembaga bahasa dan UNESCO menunjukkan penggunaan yang terus menurun, bahkan beberapa bahasa menghilang dari percakapan sehari-hari.
Kekhawatiran ini terasa personal baginya karena tumbuh di Belitung Timur, sementara ia sendiri tidak sepenuhnya fasih berbahasa Belitong.
Melalui program ASEAN LIVE Creators for Change, Leni menyalurkan kepeduliannya dengan membuat konten edukatif di TikTok LIVE. Ia memfokuskan materinya pada ungkapan sederhana, penggunaan praktis, dan konteks budaya yang dekat dengan keseharian agar bahasa daerah terasa relevan dan mudah digunakan.
Dalam sesi LIVE, ia sering memakai fitur Multi-Guest untuk menciptakan interaksi dua arah yang lebih hidup. Percakapan yang terjadi mengalir hangat, dengan peserta berbagi idiom, lelucon dan frasa sehari-hari dalam dialek masing-masing sehingga proses belajar menjadi menyenangkan dan mudah dipahami.
Baca Juga: Lirik Lagu Bintang 5 Oleh Tenxi dan Jemsii, Simak Makna Lengkap dengan Alasan Viral di TikTok!
Seiring waktu, Leni semakin terampil merencanakan konten dan memahami audiens. Ia juga terhubung dengan kreator ASEAN dari Filipina, Myanmar dan Malaysia. Yang membuatnya menyadari bahwa tantangan menjaga bahasa daerah adalah isu bersama di kawasan.
"Saya berharap program ini terus berlanjut agar lebih banyak anak muda terdorong berkontribusi bagi daerah dan negara mereka," ujarnya.
Sir Pedot: Membuka Ruang Belajar Digital bagi Semua Pelajar Malaysia
Firdaus, pemenang ketiga yang dikenal sebagai Sir Pedot, memulai perjalanan kontennya dari niat sederhana: membuat pengetahuan lebih mudah diakses pelajar secara digital.
Sebagai dosen di Malaysia, ia melihat banyak anak muda membutuhkan panduan tentang topik-topik yang tidak diajarkan di kurikulum formal, mulai dari beasiswa, literasi digital, public speaking hingga pemahaman budaya Asia Tenggara.
Ia kemudian membawakan topik-topik tersebut melalui TikTok LIVE dengan gaya yang menyerupai sesi mentoring pribadi namun menjangkau ribuan penonton.
Baca Juga: Mengenal Sosok Bunga Reyza, Konten Kreator Tiktok Pencetus Istilah 'Galgah' yang Kini Masuk KBBI
Para pelajar bahkan menjulukinya #YourTikTokLecturer, sebuah panggilan yang ia terima sebagai tanda bahwa ia telah menemukan cara efektif untuk membantu generasi muda.
Momen paling mengharukan bagi Firdaus datang ketika seorang siswa mengirim pesan bahwa mereka akhirnya memahami sebuah materi setelah menonton siaran LIVE-nya.
Baginya, ini menjadi bukti bahwa konten edukasi di TikTok tidak hanya memungkinkan tetapi benar-benar dapat memberikan dampak nyata, meningkatkan kepercayaan diri, memberi arah dan membuka peluang baru bagi pelajar.
Mengikuti program ASEAN LIVE Creators for Change memperkaya cara mengembangkan konten. Ia kini menyusun sesi dengan lebih terstruktur, memahami perilaku audiens, dan tetap konsisten meski jumlah penonton berubah-ubah.
"Membawakan sesi LIVE membutuhkan keberanian. Pelatihan ini membuat saya lebih fokus dan membantu saya menciptakan konten yang lebih jelas dan terarah," jelas Firdaus.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









