Kecantikan Digital yang Menyesatkan: Saat Filter TikTok Merusak Percaya Diri Remaja

AKURAT.CO Di tengah derasnya arus tren media sosial, penggunaan filter berlebihan di TikTok mulai memunculkan kekhawatiran serius, terutama bagi remaja perempuan yang tengah membentuk identitas dan kepercayaan diri.
Data menunjukkan bahwa 8 dari 10 remaja perempuan kerap membandingkan penampilan mereka dengan orang lain di media sosial, dan setengahnya merasa standar kecantikan digital yang palsu merusak harga diri mereka.
Filter yang awalnya digunakan untuk hiburan kini berubah menjadi alat pencipta realita semu.
Penampilan yang terlalu sempurna—kulit mulus tanpa pori, wajah tirus, hidung mancung, hingga mata besar bercahaya—menjadi standar baru yang sulit dicapai di dunia nyata.
Akibatnya, remaja yang belum memiliki pondasi mental kuat kerap merasa gagal hanya karena tidak terlihat "seindah" yang mereka lihat di layar.
Di balik tren ini, tersembunyi dampak psikologis yang mengkhawatirkan.
Survei Dove Self-Esteem Project mencatat bahwa 1 dari 5 remaja perempuan pernah mengalami perundungan siber karena penampilan, dan hampir 50 persen tidak pernah melaporkannya kepada orang dewasa.
Perasaan tidak cukup cantik atau tidak cukup “sempurna” mengikis kepercayaan diri mereka sedikit demi sedikit.
Baca Juga: Cara Cek Logo HUT RI ke-80 Lengkap dengan Jadwal Perilisannya
Masalahnya makin rumit karena banyak remaja tidak mendapatkan edukasi tentang literasi digital dan kesehatan mental.
Banyak yang percaya bahwa konten di TikTok adalah gambaran nyata kehidupan, padahal mayoritas sudah melalui proses penyuntingan dan filterisasi yang kompleks.
Tanpa bimbingan dari orang tua atau lingkungan, risiko gangguan citra tubuh hingga depresi pun makin besar.
Menjawab keresahan ini, sebuah kampanye bertajuk “Skin Goals vs Skin Reality” viral di TikTok dan menuai respons positif.
Inisiatif dari brand perawatan kulit Jglow ini mengajak perempuan tampil tanpa filter dan menceritakan kondisi kulit mereka secara jujur.
Narasi personal dan keberanian untuk menunjukkan kulit apa adanya menjadi napas utama kampanye.
“Kulitku nggak selalu flawless, dan itu normal. Yang penting aku nyaman dengan diri sendiri dan tahu cara merawat kulitku dengan benar,” ujar Nadine Velysia, salah satu kreator yang terlibat.
Kampanye ini memadukan social experiment dan storytelling otentik yang membandingkan ekspektasi “kulit sempurna” dengan realita kulit sehari-hari.
Para kreator dan KOL membagikan perjalanan mereka menuju self-love melalui perawatan kulit yang realistis—tanpa janji instan, tanpa standar semu.
Menurut Chania, CMO Jglow, kampanye ini hadir karena banyak orang merasa tertekan oleh standar media sosial yang tidak masuk akal.
“Kami melihat semakin banyak perempuan merasa minder karena standar kecantikan yang terlalu tinggi. Lewat kampanye ini, kami ingin mengembalikan makna kecantikan pada hal yang lebih manusiawi: perawatan, penerimaan, dan keberanian untuk jujur pada diri sendiri.”
Respons positif pun berdatangan. Banyak pengguna TikTok merasa lebih tenang dan termotivasi setelah melihat representasi kulit asli tanpa filter.
Baca Juga: Ekonomi Singapura Tumbuh 1,4 Persen, Antisipasi Tarif AS Jadi Kunci
Bagi sebagian remaja, kampanye ini bukan sekadar pesan pemasaran—melainkan ruang aman untuk menerima diri mereka seutuhnya.
Karena media sosial tidak bisa dihindari dari kehidupan remaja masa kini, kunci utamanya bukan membatasi, tapi membekali mereka dengan kemampuan kritis dan ruang diskusi sehat.
Orang tua perlu hadir, bukan sebagai pengawas, tapi sebagai teman bicara yang bisa dipercaya.
Sebab, ketika dunia digital menampilkan wajah yang selalu mulus, justru keberanian untuk menjadi nyata bisa menjadi bentuk perlawanan paling penting.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










