Akurat

Kenali Bahaya Factitious Disorder, Pura-pura Sakit Demi Perhatian Orang Lain

Eko Krisyanto | 5 September 2023, 16:49 WIB
Kenali Bahaya Factitious Disorder, Pura-pura Sakit Demi Perhatian Orang Lain

 

AKURAT.CO Manusia secara naluri pasti membutuhkan perhatian dan kasih sayang dari orang-orang di sekitarnya. Hal ini disebabkan karena sejak lahir manusia tumbuh dan berkembang bersama orang tua.

Namun, ada sebagian orang yang rela memanipulasi kesehatan diri mereka untuk menipu orang lain dengan cara yang ekstrem.

Ternyata, aksi dari perilaku tersebut dapat digolongkan sebagai masalah kesehatan mental atau yang disebut dengan factitious disorder.

Factitious disorder adalah suatu gangguan kesehatan mental serius yang dilakukan oleh individu pada saat menipu orang lain.

Gejala umum yang sering terjadi adalah berpura-pura sakit hingga melukai diri sendiri. Akibatnya, gangguan buatan ini dianggap sangat sulit untuk diidentifikasi.

Penyebab dan Gejala Factitious Disorder

Setiap gangguan mental tentu ada penyebab yang menjadi pemicu seseorang berperilaku berbeda. Sama halnya dengan para pengidap factitious disorder yang terjadi karena faktor psikologis dan pengalaman hidupnya.

Lalu, apa saja penyebab dari gangguan mental tersebut?

  1. Trauma masa kecil, seperti pelecehan emosional, fisik dan seksual
  2. Penyakit serius pada anak-anak
  3. Kehilangan orang yang dicintai
  4. Merasa rendah diri
  5. Memiliki gangguan kepribadian

Tak hanya itu, seseorang dengan gangguan mental ini secara sengaja menimbulkan gejala penyakit supaya bisa mendapatkan penanganan medis.

Berikut adalah perilaku-perilaku yang biasa timbul pada gangguan mental tersebut, antara lain:

  1. Memiliki masalah medis atau psikologis
  2. Mengetahui tentang istilah-istilah dan penyakit medis
  3. Memiliki gejala yang tidak konsisten
  4. Memiliki kondisi yang parah tanpa alasan jelas
  5. Mencari banyak pengobatan dari berbagai dokter dan rumah sakit, namun menggunakan nama palsu
  6. Tidak mengizinkan dokter berbicara dengan kerabat terdekat pengidap
  7. Memiliki banyak bekas luka operasi dan keinginan untuk melakukan operasi.

Risiko yang Dialami Factitious Disorder

Para pengidap factitious disorder seringkali berperilaku nekat dengan mempertaruhkan hidupnya hanya untuk dilihat sebagai orang sakit. Jika mereka tidak segera ditangani akan berisiko tinggi untuk mengalami komplikasi, seperti:

  1. Cedera atau kematian akibat dari gangguan buatan
  2. Masalah kesehatan yang parah
  3. Kehilangan organ atau anggota tubuh dari operasi yang tidak perlu
  4. Alkohol atau penyalahgunaan zat lainnya
  5. Masalah signifikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pengobatan yang Dapat Dilakukan 

Seseorang dengan masalah factitious disorder sebenarnya tidak dalam kondisi sakit yang memprihatinkan, hanya saja mereka selalu mencari cara untuk mendapatkan pengobatan serius. Perilaku seperti ini dapat diobati melalui pendekatan bersama orang-orang di sekitarnya. Cara ini berfokus pada pengelolaan kondisi sehingga gejala yang dialami akan berkurang.

Adapun, prosedur-prosedur perawatannya yang dapat dilakukan, antara lain:

  1. Memiliki satu dokter perawatan

Hanya memiliki satu dokter ini bertugas untuk mengawasi, memantau, serta membantu mengelola gejala yang timbul. Hal ini bertujuan supaya para pengidap tidak berkunjung ke banyak dokter

  1. Psikoterapi

Psikoterapi dapat dilakukan dengan cara terapi berbicara yang kemudian dikombinasikan dengan terapi perilaku. Praktik ini bertujuan untuk mengendalikan stres, mengembangkan keterampilan, dan mengatasi gejala

  1. Obat-obatan

Prosedur ini bertujuan untuk mengobati gangguan kesehatan mental tambahan.

  1. Rawat inap

Jika kasus kesehatan mental bertambah parah, maka disarankan untuk dirawat inap di rumah sakit jiwa. Ini bertujuan untuk meningkatkan pengawasan serta memberi kemudahan dalam proses penyembuhan.

Meski demikian, dukungan dari orang-orang di sekitar sangat berperan penting dalam mengatasi gangguan ini. Secara tidak sadar, pengidap mengalami perubahan sikap seperti ini karena kurangnya perhatian dan kasih sayang sehingga mereka rela melakukan tindakan nekat yang bisa merugikan orang lain.

Menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung mereka adalah langkah penting dalam membantu proses pemulihan. (Tasya Nurhaliza Putri)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK