Waspada! 8 Risiko Kesehatan Serius Saat Naik Gunung yang Harus Diketahui Pendaki

AKURAT.CO Kegiatan mendaki gunung kini menjadi hobi yang semakin banyak diminati oleh masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda seperti milenial dan Gen Z. Meskipun keindahan alam dan tantangannya sangat menarik, ada banyak risiko kesehatan yang harus diperhatikan saat melakukan aktivitas ini.
Pendakian gunung bukan sekadar kegiatan santai, tetapi juga merupakan tantangan fisik yang memerlukan persiapan yang baik. Mengenali potensi bahaya kesehatan sejak awal dapat membantu pendaki mengurangi risiko dan menjaga keselamatan mereka saat menuju puncak.
Mengapa Risiko Kesehatan saat Mendaki Berbeda?
Lingkungan di ketinggian memiliki kondisi yang unik, sangat berbeda dengan yang ada di permukaan bumi. Penurunan kadar oksigen, suhu yang ekstrem, dan perubahan tekanan atmosfer menimbulkan tantangan tertentu bagi tubuh manusia.
Tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan kondisi di ketinggian. Adaptasi ini melibatkan perubahan fisiologis yang kompleks, seperti peningkatan produksi sel darah merah dan penyesuaian sistem kardiovaskular.
8 Risiko Kesehatan Utama Saat Mendaki Gunung
1. Acute Mountain Sickness (AMS) - Penyakit Ketinggian
AMS adalah kondisi yang muncul ketika tubuh merespons penurunan kadar oksigen di area tinggi. Gejalanya termasuk nyeri kepala, mual, pusing, dan rasa lelah.
Gejala AMS yang perlu diwaspadai:
Sakit kepala hebat yang tidak mereda meski sudah mengonsumsi obat
Mual dan muntah yang terus berlangsung
Rasa pusing dan kehilangan keseimbangan
Kelelahan yang sangat parah walaupun sudah beristirahat
Dalam situasi yang lebih serius, AMS bisa menjadi kondisi berisiko tinggi seperti High Altitude Pulmonary Edema (HAPE) atau High Altitude Cerebral Edema (HACE).
2. Dehidrasi dan Gangguan Elektrolit
Dehidrasi merupakan risiko yang sering dilupakan oleh para pendaki. Kram yang sering dialami saat mendaki sebenarnya disebabkan oleh kekurangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.
Di ketinggian, kehilangan cairan terjadi lebih cepat melalui pernapasan dan keringat. Udara dingin dan kering mempercepat hilangnya cairan yang kadang tidak disadari oleh pendaki.
Cara untuk mencegah dehidrasi:
Minum air secara teratur, setidaknya 2-3 liter sehari
Mengonsumsi minuman elektrolit alami seperti air kelapa
Menghindari alkohol dan cukup kafein
Memeriksa warna urine untuk menilai hidrasi
3. Gangguan Pernapasan dan Infeksi
Penyakit mirip influenza sangat mungkin terjadi saat mendaki, dengan gejala infeksi saluran pernapasan seperti batuk, bersin, demam, sinusitis, atau sakit tenggorokan.
Udara kering dan dingin di ketinggian dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan. Lemahnya sistem imun akibat kelelahan membuat pendaki lebih rentan terhadap infeksi.
4. Hipotermia dan Frostbite
Suhu yang sangat dingin di ketinggian berpotensi menyebabkan hipotermia, keadaan berbahaya ketika suhu tubuh menurun drastis. Frostbite juga dapat membahayakan bagian tubuh seperti jari tangan, kaki, hidung, dan telinga.
Tanda-tanda hipotermia:
Menggigil hebat yang kemudian berhenti
Kebingungan dan ucapan yang tidak jelas
Kesulitan dalam koordinasi
Kulit menjadi pucat dan bibir tampak biru
Kondisi Medis yang Memperparah Risiko
5. Hipertensi dan Penyakit Jantung
Orang dengan hipertensi berisiko mengalami lonjakan tekanan darah yang signifikan saat mendaki, yang dapat berpotensi menyebabkan serangan jantung atau stroke.
Jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah ketika kadar oksigen terbatas, yang memberikan beban tambahan pada sistem kardiovaskular yang sudah tersendat.
6. Gangguan Paru-Paru
Fungsi paru-paru yang terganggu, baik karena sesak napas ataupun influenza biasa, dapat menjadi masalah serius saat mendaki gunung karena kadar oksigen di tempat tinggi sangat rendah.
Kondisi seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis, atau infeksi pada paru-paru dapat membuat kesulitan bernapas semakin buruk di ketinggian.
Komplikasi Serius yang Mengancam Nyawa
7. Edema Paru Tinggi (HAPE)
HAPE terjadi karena penumpukan cairan di paru-paru karena ketinggian. Jika tidak mendapatkan perawatan yang tepat, kondisi ini bisa berakibat fatal. Gejala awalnya termasuk batuk kering, sesak napas saat beristirahat, dan rasa lelah yang berlebihan.
8. Edema Otak Tinggi (HACE)
HACE adalah kondisi berbahaya yang merupakan pembengkakan otak akibat ketinggian. Halusinasi dapat terjadi, memperburuk kesehatan mental pendaki.
HACE merupakan bentuk parah dari penyakit tinggi yang tidak ditangani dengan baik. Pembengkakan di otak dapat mengakibatkan gangguan kesadaran hingga koma.
Persiapan dan Pencegahan Sebelum Mendaki
Pemeriksaan Kesehatan Menyeluruh
Sebelum mendaki, lakukan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh 2-4 minggu sebelumnya. Diskusikan rencana pendakian dengan dokter, terutama jika ada riwayat penyakit kronis.
Latihan Fisik dan Proses Adaptasi
Mulailah program latihan fisik yang intensif 8-12 minggu sebelum mendaki. Fokuslah pada latihan kardiovaskular, kekuatan otot kaki, serta daya tahan fisik.
Program latihan yang dapat dilakukan adalah:
Berjogging atau berlari 3-4 kali seminggu
Mendaki bukit atau gunung kecil sebagai persiapan
Latihan beban untuk memperkuat otot inti dan kaki
Yoga untuk meningkatkan fleksibilitas dan pernapasan
Persiapan Peralatan Medis
Siapkan kotak P3K dengan obat-obatan dasar seperti paracetamol, obat diare, antiseptik, dan perban. Bawa termometer untuk memantau suhu tubuh dan oksimeter jika bisa.
Tindakan Darurat dan Pertolongan Pertama
Mengenali Tanda-tanda Bahaya
Segeralah turun ke ketinggian yang lebih rendah jika mengalami gejala AMS yang semakin parah, mengalami kesulitan bernapas yang serius, atau muncul perubahan kesadaran. Jangan memaksa diri untuk melanjutkan pendakian.
Sistem Evakuasi Darurat
Pastikan untuk memiliki alat komunikasi yang dapat berfungsi di area gunung. Simpan nomor kontak tim SAR setempat dan beri tahu pihak yang bisa diandalkan tentang rencana perjalanan Anda.
Baca Juga: Tips Mendaki Gunung untuk Pemula, Perhatikan 10 Hal Berikut Ini Sebelum Melakukan Pendakian
Tips Aman untuk Pendaki Pemula
Bagi yang baru pertama kali mendaki, pilihlah gunung yang lebih bersahabat seperti Gunung Prau, Papandayan, atau Penanggungan. Pilih jalur pendakian yang tidak terlalu ekstrem dan pastikan didampingi pemandu yang berpengalaman.
Prinsip mendaki yang aman antara lain:
Mendaki dengan perlahan, dan turun cepat jika ada masalah
Istirahat yang cukup di setiap pos
Perhatikan asupan makanan dan cairan
Dengarkan sinyal dari tubuh Anda
Mendaki gunung memberikan pengalaman yang luar biasa dan manfaat kesehatan yang besar. Namun, menyadari risiko kesehatan yang telah dibahas di atas sangat penting untuk keselamatan setiap pendaki.
Dengan persiapan yang baik, pengetahuan yang cukup, dan sikap tidak memaksakan diri, petualangan di gunung bisa menjadi pengalaman yang aman dan berkesan.
Ingatlah bahwa gunung akan selalu ada, tapi keselamatan adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar.
Tia Ayulia (Magang)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Cara Cek Penerima BSU Kemnaker 2026 Pakai NIK, Begini Status Link Resminya
- 2Setelah 'Cabut' dari Timnas Portugal, Masa Depan Cristiano Ronaldo dalam Ketidakpastian
- 3Prediksi Belgia vs Turki 3 Oktober 2026: Susunan Pemain, H2H, dan Skor
- 4Asian Games: Indonesia Berpeluang Raih 5 Emas Besok, Padel Salah Satunya!
- 5Kalender Jawa 2 Oktober 2026: Watak Weton Jumat Pahing Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 6Klasemen FIFA ASEAN Cup 2026 Terbaru: Indonesia vs Bangladesh, Cek Jadwal dan Posisi Grup A!
- 7Prediksi Prancis vs Italia 3 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Moto3 Jepang: Tanpa Alasan! Hiroshi Aoyama Tuntut Veda Ega Pratama dan Zen Mitani All Out di 'Kandang'
- 9Anak Usaha Lyman Group Urus HGB Kota Baru Parahyangan ke ATR/BPN, KPK Dalami Setorannya
- 10KPK Buka Peluang Periksa Nusron Wahid di Kasus ATR/BPN, Dalami Alur Setoran hingga Pusat






