Akurat

Menjelajah Pesona Pulau Pramuka, Perjalanan Tidak Terlupakan

Wahyu SK | 12 Maret 2025, 10:03 WIB
Menjelajah Pesona Pulau Pramuka, Perjalanan Tidak Terlupakan

MALAM itu udara dingin menyelimuti kota saat penulis bersama rombongan dari Sekolah Vokasi IPB Sukabumi bersiap untuk sebuah perjalanan yang sudah lama dinantikan.

Pulau Pramuka, salah satu destinasi eksotis di Kepulauan Seribu, menjadi tujuan penulis. Penulis dan rombongan berangkat pada pukul 01.00 dini hari menggunakan bus menuju IPB Bogor.

Setibanya di sana, penulis bergabung dengan rombongan dari kampus utama sebelum melanjutkan perjalanan ke Pulau Pramuka.

Mata masih terasa berat karena kantuk, tetapi antusiasme penulis mengalahkan segalanya. Dalam pikiran penulis, terbayang betapa indahnya laut biru dan pantai pasir putih yang akan segera penulis kunjungi.

Ini bukan sekadar liburan biasa, melainkan juga kesempatan untuk mengenal lebih dalam tentang konservasi alam dan kehidupan bawah laut.

Perjalanan Menuju Surga Tropis

Setelah melakukan persiapan, penulis beserta rombongan berangkat menuju Pelabuhan Muara Angke pada pukul 04.00 pagi.

Perjalanan darat ini ditempuh selama beberapa jam, dan sesampainya di pelabuhan, penulis harus menunggu kapal siap diberangkatkan. Selama menunggu, beberapa dari rombongan mengisi waktu dengan berbincang, sementara penulis menikmati pemandangan sekitar.

Tepat pukul 08.00 pagi, kapal akhirnya berangkat. Ombak laut mulai terasa, angin sepoi-sepoi menerpa wajah, namun perjalanan laut yang cukup panjang selama empat jam membuat beberapa dari rombongan mulai merasakan mual.

Penulis mencoba mengalihkan perhatian dengan menikmati pemandangan laut, tetapi akhirnya memilih tidur agar rasa pusing berkurang.

Sesampainya di Pulau Pramuka, penulis disambut dengan matahari yang terik. Langit biru tanpa awan, pasir putih yang bersih, dan air laut yang jernih menjadi pemandangan pertama yang penulis lihat.

Rasa lelah seketika terbayar lunas. Penulis segera menuju wisma penginapan untuk menaruh barang dan beristirahat sejenak sebelum melanjutkan aktivitas berikutnya.

Edukasi Penyu dan Kuda Laut

Setelah istirahat singkat hingga pukul 13.00, penulis beserta rombongan bersiap menuju tempat edukasi penyu dan kuda laut.

Rombongan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama mengunjungi pusat konservasi penyu terlebih dahulu, sementara kelompok kedua menuju tempat edukasi kuda laut.

Di pusat konservasi penyu, penulis belajar mengenai siklus hidup penyu, habitatnya dan tantangan yang dihadapi dalam upaya pelestariannya.

Salah satu fakta menarik yang penulis temukan adalah bahwa suhu pasir tempat penyu bertelur dapat menentukan jenis kelamin mereka. Suhu hangat cenderung menghasilkan penyu betina, sedangkan suhu lebih rendah menghasilkan penyu jantan.

Di sisi lain, kelompok yang mengunjungi tempat edukasi kuda laut mendapat wawasan baru tentang bagaimana kuda laut berkembang biak dan beradaptasi di lingkungan mereka.

Yang paling menarik bagi penulis adalah fakta bahwa kuda laut jantan yang mengandung dan melahirkan anak-anak mereka, sesuatu yang sangat jarang terjadi di dunia hewan.

Setelah sesi edukasi, rombongan bertukar tempat, sehingga semua peserta mendapatkan pengalaman yang sama.

Penanaman Mangrove dan Aktivitas Sore

Setelah mendapatkan wawasan baru dari sesi edukasi, penulis beserta rombongan melanjutkan kegiatan dengan menanam mangrove.

Penulis beserta rombongan diberi arahan tentang pentingnya mangrove dalam menjaga ekosistem pesisir. Akar mangrove yang rapat dapat membantu mencegah abrasi dan menjadi habitat bagi berbagai spesies laut.

Dengan penuh semangat, penulis menanam bibit mangrove, meskipun harus berkotor-kotor dengan lumpur. Ada rasa kepuasan tersendiri saat mengetahui bahwa tindakan kecil ini bisa berdampak besar bagi lingkungan.

Menjelang sore, setelah kegiatan konservasi selesai, beberapa dari rombongan masih ingin menikmati laut lebih dekat.

Penulis beserta rombongan akhirnya mencoba menyelam di tepi pantai menggunakan jaket pelampung dan juga mencoba memancing.

Suasana sore yang hangat, suara deburan ombak, dan tawa riang membuat pengalaman ini semakin menyenangkan.

BBQ Party di Pinggir Pantai

Setelah mandi dan beristirahat sejenak, penulis beserta rombongan bersiap untuk acara yang paling ditunggu-tunggu, BBQ party.

Pukul 21.00, acara dimulai dengan membakar seafood segar yang telah disiapkan. Udara malam yang sejuk, aroma ikan bakar yang menggoda serta keceriaan yang menyelimuti penulis beserta rombongan menciptakan suasana yang begitu akrab.

Di sela-sela menikmati hidangan, beberapa dari rombongan bernyanyi bersama, ada yang berjoget dan ada juga yang bermain game. Acara ini menjadi ajang bonding yang mempererat hubungan kami sebagai teman perjalanan.

Malam itu terasa begitu berharga. Rasanya seperti melupakan segala kesibukan perkuliahan dan hanya menikmati kebersamaan.

Acara berakhir pada pukul 23.00 dan penulis segera beristirahat untuk persiapan kegiatan esok hari.

Sunrise dan Snorkeling

Hari kedua dimulai dengan menyaksikan matahari terbit. Warna jingga, ungu, dan merah muda berpendar di langit, menciptakan pemandangan yang begitu indah dan menenangkan.

Penulis beserta rombongan mengabadikan momen ini dengan beberapa foto sebelum melanjutkan sarapan dan bersiap untuk aktivitas snorkeling di Pulau Air.

Pukul 09.00, penulis mengenakan jaket pelampung dan masker diving, lalu berangkat menuju Pulau Air menggunakan kapal kecil.

Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 30 menit. Begitu tiba, penulis langsung terjun ke laut, ditemani oleh tour guide yang memastikan keselamatan penulis beserta rombongan.

Ini adalah pengalaman pertama penulis untuk snorkeling, dan penulis begitu terpesona oleh keindahan bawah laut. Terumbu karang yang berwarna-warni, ikan-ikan kecil yang berenang bebas, serta kejernihan air laut membuat pengalaman ini begitu istimewa.

Penulis beserta rombongan berenang mengitari pulau, saling bercanda dan menikmati setiap momen di dalam air.

Perjalanan Pulang dan Refleksi Perjalanan

Setelah puas snorkeling, penulis kembali ke wisma untuk membersihkan diri dan bersiap pulang. Penulis memastikan tidak meninggalkan sampah dan merapikan semua barang sebelum berangkat.

Setelah berpamitan dengan koordinator di sana, penulis menuju kapal untuk kembali ke Pelabuhan Muara Angke.

Perjalanan pulang pada pukul 13.00 terasa lebih cepat karena sebagian besar dari penulis dan rombongan tertidur kelelahan.

Pukul 15.00, penulis tiba di pelabuhan, dan setelah perjalanan darat, akhirnya penulis sampai kembali di IPB Bogor pukul 17.00 dan di IPB Sukabumi pukul 19.00.

Meski perjalanan telah berakhir, kenangan yang penulis bawa tidak akan pudar. Setiap tawa, kebersamaan, dan pengalaman baru yang penulis dapatkan selama perjalanan ini menjadi bagian dari cerita hidup yang akan selalu penulis ingat.

Pulau Pramuka bukan hanya destinasi wisata, tetapi juga tempat yang mengajarkan penulis tentang keindahan alam dan pentingnya konservasi.

Penulis berharap suatu hari nanti bisa kembali ke sana, membawa cerita baru, dan menikmati kembali pesona Pulau Pramuka.

Muhammad Naufal Daffa
(Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media, Sekolah Vokasi IPB)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

E
W
Editor
Wahyu SK