Akurat

Persiapan "Kepulangan" Ivan Gunawan: Dari Kain Kafan hingga Fasilitas Gratis untuk Warga ​

Nuzulul Karamah | 20 Februari 2026, 12:27 WIB
Persiapan "Kepulangan" Ivan Gunawan: Dari Kain Kafan hingga Fasilitas Gratis untuk Warga ​

AKURAT.CO Desainer dan presenter ternama, Ivan Gunawan, menunjukkan sisi religius yang mendalam di usia 44 tahun. 

Sosok yang akrab disapa Igun ini secara blak-blakan mengaku telah menyiapkan segala keperluan pemulasaraan jenazahnya sendiri sebagai bentuk kesadaran akan hari akhir.

Baca Juga: Merek Hijab Jualannya Dipalsukan Oknum, Ivan Gunawan: Biar Allah yang Balas

​Bagi Igun, kematian bukanlah hal yang harus ditakuti secara pasif, melainkan dipersiapkan dengan matang, baik secara mental maupun logistik.

​"Punya, kain kafan ada. Kain kafan ada. Yang mandiin standby. Semua ready. Gitu," ujar Ivan Gunawan saat ditemui di rumah tahfiz miliknya di kawasan Sawangan, Depok, Rabu (18/2/2026).

​Membangun Ekosistem Kebaikan di Sawangan. 

​Langkah Igun tidak berhenti pada persiapan pribadi. Dia berencana menjadikan Masjid dan Rumah Tahfiz yang dikelolanya sebagai pusat pelayanan umat, terutama saat menghadapi kedukaan. 

Dirinya berniat menyediakan fasilitas pemulasaraan gratis bagi masyarakat sekitar.

​"Bahkan di masjid ini juga insyaAllah saya mau beli keranda, mau beli ambulans, mau dipersiapkan. Jadi ini bener-bener bisa menjadi tempat yang berguna untuk masyarakat sekitar," tambahnya.

​Kesadaran ini diakui Igun sebagai buah dari bimbingan para ulama. Dia merasa penting untuk mulai menyeimbangkan pencapaian duniawi dengan investasi di akhirat melalui pertobatan dan perbaikan diri.

​Fokus utama Igun saat ini adalah memastikan masa depan 130 santri di Rumah Tahfiz miliknya. 

Sebagai orang tua asuh, dia menjamin seluruh biaya hidup dan pendidikan para santri agar mereka dapat berkonsentrasi penuh menghafal Al-Qur'an tanpa beban ekonomi.

Baca Juga: Selesaikan Rangkaian Haji, Ivan Gunawan Males Pulang ke Indonesia?

​Igun menegaskan komitmennya dalam membesarkan para santri tersebut.

"Ada 130 anak yang mondok di sini, alhamdulillah. Sekali beranak 130 orang yang harus dikasih makan setiap hari, yang harus dibesarkan, ditinggikan ilmunya. Tugas mereka hanyalah belajar, belajar, dan belajar. Enggak perlu mikirin hidup, enggak perlu mikirin makan," katanya.

​Meski namanya harum karena membangun masjid hingga ke luar negeri dan menjadi wasilah orang memeluk agama Islam, Igun memilih untuk tetap membumi. 

Dirinya enggan sesumbar mengenai target pembangunan masjid lainnya dan lebih memilih fokus memperbaiki diri sendiri.

"Ya alhamdulillah kalau di negara lain juga mencintai Islam, menyayangi Islam dan ikut berpartisipasi, alhamdulillah. Tapi jangan ngurusin orang, jadi urus diri sendiri aja," pungkasnya.

​Melalui kerja sama dengan berbagai pihak, Igun berharap para santrinya kelak tidak hanya hafal Al-Qur'an, tetapi juga bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang universitas demi mencetak generasi masa depan yang berkualitas.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.