Akurat Logo

Wamen ESDM Ungkap Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Energi

Lukman Nur Hakim Akurat.co | 17 September 2026, 16:41 WIB
Wamen ESDM Ungkap Strategi Indonesia Perkuat Ketahanan Energi
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot - Dok. Kementerian ESDM

AKURAT.CO Pemerintah menilai pentingnya penguatan ketahanan dan akses energi disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing negara.

"Kami terus memperkuat ketahanan energi nasional dengan tetap mendorong transisi energi yang berkeadilan menuju Net Zero Emissions pada 2060 atau lebih cepat," kata Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung dikutip dari laman Kementerian ESDM, Kamis (17/9/2026).

Bagi Indonesia, penguatan ketahanan energi dilakukan dengan meningkatkan produksi minyak dalam negeri. Saat ini, konsumsi BBM mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari, sementara produksi domestik baru sekitar 600 ribu barel per hari.

Baca Juga: B50 Jadi Penyangga Ketahanan Energi, Airlangga: Harga Pertalite Tak Akan Naik hingga Akhir Tahun

Guna mengurangi ketergantungan pada impor, pemerintah menargetkan produksi minyak mencapai 1 juta barel per hari serta membuka peluang investasi di 118 wilayah kerja migas dengan skema fiskal yang menarik.

Di saat yang sama, pemerintah terus mendorong pengembangan energi baru dan terbarukan serta pemanfaatan sumber daya dalam negeri sebagai bagian dari upaya diversifikasi energi.

Salah satunya melalui program B50, yaitu penggunaan solar yang dicampur dengan bahan bakar nabati hingga 50%.

Program ini diproyeksikan mampu mensubtitusi kebutuhan impor solar sebanyak 310 ribu barel per hari, menghemat hampir USD10 miliar per tahun, sekaligus membuka peluang bagi lebih dari 2 juta lapangan kerja.

"Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang menjalankan program B50," tegas Yuliot.

Di sektor ketenagalistrikan, Indonesia memperkirakan permintaan listrik tumbuh sekitar 5,3% per tahun. Karena itu, encana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 menargetkan tambahan kapasitas pembangkit sebesar 69,5 gigawatt, dengan 76% berasal dari energi terbarukan.

Pengembangan tersebut membutuhkan investasi sekitar USD180 miliar dan membuka sekitar 73% kapasitas baru bagi produsen listrik independen.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.