Akurat

Gencatan Senjata Berujung Cuan: Rahasia Kreativitas Korsel Majukan Wisata Perang

Yosi Winosa | 9 Februari 2026, 21:10 WIB
Gencatan Senjata Berujung Cuan: Rahasia Kreativitas Korsel Majukan Wisata Perang

AKURAT.CO Di belahan dunia mana pun, konflik dan perang adalah sumber petaka yang dihindari. Namun, Korea Selatan punya cara "gila" untuk membalikkan keadaan. Di tangan mereka, ketegangan politik dan ladang ranjau justru disulap menjadi destinasi wisata premium yang menghasilkan triliunan Won.

Fenomena inilah yang disaksikan langsung oleh rombongan penulis Diamond (jenjang tertinggi) di KBM App: Bunga BTP, Dwi Indrawati, Majarani, Ka_Umay, Yazmin_Aisyah, FebriYthi, Julli_Nobasa, dan Lebah Ratih—saat menjelajahi zona perbatasan paling ketat di dunia bersama Asma Nadia didampingi Panirama Tour.

Wisata "Maut" Bernilai Tinggi

Mengunjungi DMZ (Demilitarized Zone) bukanlah perjalanan murah atau santai. Jaraknya yang jauh dari Seoul dan risiko keamanan yang tinggi justru menjadi daya tarik bagi wisatawan dunia. Bayangkan, Korea Selatan menjual "pengalaman perang" dalam berbagai paket yang selalu ludes terjual.

Baca Juga: Resiliensi Pasar Tradisional dalam Transformasi Wisata

Pertama, ada The Third Tunnel Tour. Wisatawan diajak masuk ke dalam terowongan rahasia di kedalaman 73 meter bawah tanah. Terowongan ini konon dibangun Korea Utara untuk menyerang Seoul secara mendadak. Hanya dalam satu jam, 30.000 tentara bersenjata lengkap bisa menyeberang lewat sini. Menyeramkan, tapi sangat laku!

Lalu, Observatory & Gondola. Paket yang membawa turis ke dataran tinggi untuk meneropong wilayah Korea Utara secara langsung. Paket ini biasanya berkisar antara KRW15.000 hingga KRW25.000 (sekitar Rp180 ribu - Rp300 ribu) hanya untuk tiket masuk, belum termasuk biaya transportasi pribadi yang bisa mencapai jutaan rupiah.

Tak ketinggalan, Imjingak Park. Di sini terdapat museum alat perang dan "Jembatan Kebebasan" yang ikonik.

Strategi di Balik Aspal Jalan Raya

Kejelian Korea tak berhenti di objek wisata. Jika Anda memperhatikan jalan-jalan raya besar menuju perbatasan, Anda akan menemukan keunikan: jalanan tersebut luas tanpa trotoar pemisah permanen di tengahnya. Tujuannya? Agar jika perang pecah sewaktu-waktu, jalan raya tersebut bisa langsung berubah fungsi menjadi landasan darurat bagi pesawat tempur.

Korea Selatan secara teknis masih dalam status perang dengan Korea Utara, hanya terikat kesepakatan gencatan senjata. Namun, alih-alih menutup diri dalam ketakutan, mereka justru mengemas "status perang" ini menjadi narasi yang menarik dunia.

Pop Culture: Penggerak Utama Lokasi Perbatasan

Suasana perbatasan yang tegang ini semakin dipopulerkan melalui karya kreatif. Para penulis KBM App langsung teringat pada drama hits Crash Landing on You yang menceritakan cinta beda negara di perbatasan. Selain itu, ada film legendaris "JSA (Joint Security Area)" dan "The Spy Gone North" yang membuat lokasi ini memiliki ikatan emosional dengan penontonnya.

yang cukup segar adalahfilm "6/45" (di Indonesia sering disebut dengan judul "6/45: Lucky Lotto"), yang dirilis pada tahun 2022. Film ini sangat populer karena komedinya yang segar dan premisnya yang unik tentang "konflik jadi duit" di perbatasan.

Inspirasi untuk Penulis Indonesia

Keberanian para penulis Diamond KBM App mengunjungi wilayah perbatasan ini bukan sekadar jalan-jalan. Ini adalah upaya untuk menyerap semangat kreatif Korea.

Di KBM App, para penulis diajarkan bahwa "konflik" adalah inti dari sebuah cerita yang hebat. Korea telah membuktikannya; konflik bukan hanya bisa menjadi cerita, tapi bisa menjadi penggerak ekonomi negara.

Dari Korea kita belajar: Apa pun bisa dijadikan sumber penghasilan asalkan kita kreatif mengolah narasinya. Semoga sekembalinya dari sana, para penulis Diamond ini bisa membawa "api" kreativitas tersebut ke dalam platform KBM App. Bahwa dari konflik di sekitar kita, jika ditulis dengan apik, bisa menghasilkan karya yang tidak hanya menggetarkan pembaca, tapi juga memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi sang penulis.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.