Akurat

Resiliensi Pasar Tradisional dalam Transformasi Wisata

Tantan Hermansah | 7 Februari 2026, 09:25 WIB
Resiliensi Pasar Tradisional dalam Transformasi Wisata

SEBUAH fenomena sosial-budaya yang menarik untuk disimak adalah mengemukanya pasar tradisional sebagai destinasi wisata yang diminati berbagai kalangan. Dalam satu kesempatan, saya menyelami denyut nadi Pasar Tradisional Ngasem di Yogyakarta—sebuah ruang yang kini viral dan dipadati pengunjung sejak pagi hari.

Kehadiran massa yang begitu masif mengundang refleksi kritis: apa sesungguhnya daya pikat transformatif yang mengubah citra “pasar becek bau” menjadi ruang yang layak dikunjungi, bahkan dijadikan tujuan wisata utama?

Tentu, mencari kuliner khas atau sekadar memenuhi hasrat gastronomi di kala pagi merupakan motif yang permukaan. Namun, ada lapisan-lapisan nilai yang jauh lebih substantif yang membangun magnetisme tempat ini. Inilah pasar yang berhasil mentransendensi stereotipnya melalui sebuah rekayasa kelembagaan yang resilien.

Baca Juga: Pasar Tradisional Masuk Era Digital, Solusi Atasi Krisis Daya Beli

Pertama, kesan kumuh dan becek telah dihapuskan oleh tata kelola kebersihan yang rigoris, membongkar persepsi publik yang enggan mengonsumsi ruang pasar kecuali dalam keadaan terdesak.

Kedua, layanan yang dihidupkan dengan etos keramahan khas Jawa menghadirkan pengalaman transaksi yang personal dan menghangatkan.

Lebih dari itu, estetika penyajian ditata dengan kesadaran visual yang kontemporer. Beragam sajian, termasuk puding, dipajang secara artistik, mengundang bukan sekadar untuk dibeli, melainkan untuk diabadikan.

Ruang konsumsi pun dirancang dengan cermat: alas tikar yang sederhana justru dikonversi menjadi “stage” intim yang memanjakan para destinator untuk menikmati hidangan.

Tidak berhenti di situ, ruang publik dialihfungsikan sebagai panggung dinamika sosial. Di satu sudut, para musisi menunjukkan kebolehan dalam sebuah setting open-air concert dengan kursi batu, menyuguhkan live music yang menemani setiap gigitan. Simbiosis antara kuliner dan seni menciptakan ekosistem pengalaman yang multi-sensori.

Di era digital, amplifikasi media sosial berperan sebagai katalisator yang powerful. Setiap sudut yang instagenik dipromosikan secara organik di berbagai platform, mendorong wisatawan untuk tak hanya hadir, tetapi juga membagikan “sensasi pasar” sebagai bagian dari narasi diri mereka.

Pada titik inilah, Pasar Ngasem telah melampaui definisi pasar konvensional. Meski sistem dan produk yang diperjualbelikan sebenarnya dapat ditemui di pasar mana pun di Indonesia, ia menjadi unik karena telah membangun sebuah ekosistem bernilai yang berpondasi pada keadaban publik. 

Pasar Ngasem bukan lagi sekadar tempat transaksi, melainkan sebuah teater sosial tempat berbagai segmen masyarakat bertemu—menikmati keriuhan, antrean, dan interaksi yang justru menjadi daya tariknya.

Apa yang terjadi di sini adalah sebuah transformasi kelembagaan yang berkelanjutan, di mana nilai-nilai tradisi dirawat, tetapi dikemas dalam balutan semangat kekinian. Ruang yang dulu mungkin dipandang sebelah mata, kini menunjukkan eksistensi dan resiliensi kebudayaan Indonesia di tengah pergulatan peradaban modern.

Pasar tradisional, dengan segala lokalitasnya, ternyata mampu bertransformasi menjadi destinasi yang tidak hanya hidup, tetapi juga menghidupi—baik secara ekonomi, sosial, maupun kultural.

Inilah esensi dari resiliensi pasar: kemampuan untuk bermetamorfosis tanpa kehilangan jati diri, menjadi ruang yang inklusif, bernilai estetis, dan pada akhirnya—dengan bangga—menjadi wajah baru pariwisata berbasis komunitas.[]

--------
*Tantan Hermansah, Dosen Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Masyarakat UIN Jakarta

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.