Akurat

BPDP Beberkan Tantangan dan Peluang Peningkatan Produktivitas Sawit RI

Andi Syafriadi | 10 Februari 2026, 15:20 WIB
BPDP Beberkan Tantangan dan Peluang Peningkatan Produktivitas Sawit RI

AKURAT.CO Produktivitas kelapa sawit Indonesia masih tertinggal dibandingkan Malaysia dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi ini terjadi meski Indonesia menguasai luas lahan dan volume produksi kelapa sawit terbesar di dunia.

Mengutip hasil data Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) mencatat, pada 2025 produktivitas sawit Indonesia berada di level 3,61 metrik ton per hektare per tahun. Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan Malaysia yang mencapai 4,02 metrik ton per hektare per tahun.

Baca Juga: Kreatifnya Aspekpir-BPDP Olah Pelepah Sawit Jadi Produk UMKM

Direktur Keuangan, Umum, Kepatuhan, dan Manajemen Risiko BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, mengatakan kesenjangan produktivitas tersebut menjadi catatan penting bagi industri sawit nasional.

“Dari sisi produktivitas, Indonesia masih lebih rendah. Padahal luas lahan kita jauh lebih besar dibanding Malaysia,” ujar Zaid dalam diskusi "Sawit Indonesia: Jalan di Tempat atau Terus Maju ke Depan” di Mövenpick Hotel, Jakarta Pusat, Selasa (10/2/2026).

Pada 2025, Indonesia memproduksi 46,5 juta metrik ton kelapa sawit dengan total luas lahan sekitar 12,9 juta hektare. Sementara Malaysia menghasilkan 20,2 juta metrik ton dengan luas lahan sekitar 5,04 juta hektare.

Kesenjangan produktivitas ini bukan fenomena baru. Pada 2023, produktivitas sawit Indonesia tercatat 3,63 metrik ton per hektare per tahun, masih di bawah Malaysia yang mencapai 3,68 metrik ton.

Selanjutnya pada 2024, produktivitas Malaysia meningkat menjadi 3,82 metrik ton, sementara Indonesia justru turun ke level 3,53 metrik ton per hektare per tahun.

Baca Juga: BPDP Luncurkan Katalog 100 Produk UMKM Sawit, Dorong Industri yang Lebih Berkelanjutan

Zaid menilai kondisi ini sekaligus menjadi tantangan dan peluang bagi Indonesia. Dengan luasan lahan yang jauh lebih besar, peningkatan produktivitas dinilai masih sangat terbuka jika dilakukan melalui perbaikan tata kelola dan budidaya.

“Dengan lahan yang ada, ruang untuk meningkatkan produktivitas nasional masih besar,” ujarnya.

Senada dengan Zaid, Direktur Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Tungkot Sipayung, mengatakan kualitas varietas tanaman sawit di Indonesia masih belum seoptimal Malaysia. Hal ini berdampak langsung pada hasil produksi per hektare.

“Varietas tanaman kita masih kalah. Ini berpengaruh besar terhadap produktivitas,” kata Tungkot.

Selain varietas, praktik budidaya sawit di Indonesia juga dinilai masih tertinggal. Menurut Tungkot, penerapan standar agronomi, pemupukan, hingga manajemen kebun di Malaysia relatif lebih konsisten dibandingkan Indonesia.

Faktor lain yang turut memengaruhi adalah komposisi umur tanaman. Produktivitas sawit optimal dicapai ketika proporsi tanaman usia produktif lebih dominan. Di Indonesia, masih terdapat porsi tanaman tua dan belum produktif yang cukup besar.

Secara historis, Tungkot menilai Indonesia relatif terlambat menjadikan kelapa sawit sebagai komoditas unggulan nasional. Malaysia lebih dahulu mengembangkan sawit secara terstruktur dan menjadikannya tulang punggung sektor pertanian.

“Malaysia sudah menjadi produsen sawit terbesar dunia sejak 2004. Indonesia baru benar-benar fokus mengembangkan sawit setelah itu,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan sektor hulu di Malaysia juga lebih maju, sehingga mendukung produktivitas pertanian sawit yang lebih tinggi dibandingkan Indonesia.

Dengan kondisi tersebut, peningkatan produktivitas sawit Indonesia dinilai memerlukan perbaikan menyeluruh, mulai dari peremajaan tanaman, peningkatan kualitas benih, hingga penerapan praktik budidaya yang lebih efisien.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.