Akurat

Perdagangan Halal dan Ekspor: Mendekatnya Standar Indonesia dan Amerika Serikat

Saeful Anwar | 11 Februari 2026, 17:33 WIB
Perdagangan Halal dan Ekspor: Mendekatnya Standar Indonesia dan Amerika Serikat

AKURAT.CO Di jejaring sosial Muslim Salam.life, para pengguna ramai membahas negosiasi BPJPH dan USDA terkait perdagangan halal—kabar yang sekilas terdengar teknis, tetapi sesungguhnya berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari jutaan keluarga, harga bahan pangan, dan daya saing pelaku usaha.

Bagi Indonesia, negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia (sekitar 240 juta jiwa), halal bukan sekadar segmen pasar atau tren musiman, melainkan ekspektasi dasar terhadap produk yang beredar.

Dalam konteks itu, dialog antarlembaga ini dapat dipahami sebagai upaya membuat arus perdagangan lebih tertata: mengurangi pemeriksaan berulang, memperjelas prosedur, serta meminimalkan perbedaan tafsir yang membuat suatu produk “lolos” di satu negara, tetapi tersendat di negara lain karena kendala dokumen dan standar.

BPJPH–USDA: Negosiasi tentang Perdagangan Halal

Inti pembahasan bukanlah menciptakan satu standar halal global yang seragam, melainkan membangun kompatibilitas prosedur secara praktis.

Dalam perundingan seperti ini, kata kunci yang sering muncul adalah “pengakuan”: ketika satu pihak menyatakan bahwa lembaga sertifikasi di pihak lain—beserta metode audit dan kontrolnya—dinilai sebanding dalam ketatnya pemeriksaan dan sistem pengawasan.

Jika mekanisme pengakuan berjalan, perusahaan tidak perlu mengulang proses yang sama dua kali, yang biasanya memakan waktu, biaya, dan berpotensi memunculkan perbedaan interpretasi.

Dalam diskusi publik, komoditas yang sering menjadi sorotan adalah kedelai, produk daging, dan produk susu. Dari sisi konsumen, ini merupakan kebutuhan sehari-hari yang sensitif.

Baca Juga: Dokumen FBI Terbaru Bongkar Percakapan Trump soal Epstein, Menteri Perdagangan AS Ikut Terseret

Dari sisi industri, ini adalah rantai pasok kompleks dengan banyak “titik rawan”, mulai dari bahan baku, asal-usul pemasok, penyimpanan, hingga pengelolaan jalur produksi agar tidak terjadi kontaminasi silang.

Oktober 2026: Aturan Baru Mengubah Perhitungan

Topik ini semakin relevan karena tenggat waktu yang kian dekat. Indonesia terus memperluas cakupan kewajiban sertifikasi halal, dan untuk sejumlah kategori, akhir masa transisi dikaitkan dengan Oktober 2026.

Dampaknya langsung terasa dalam perhitungan bisnis: halal semakin jarang diperlakukan sebagai opsi atau nilai tambah pemasaran, dan semakin menjadi syarat masuk pasar.

Sejumlah analisis perdagangan menyebutkan bahwa arus barang bernilai miliaran dolar berpotensi memerlukan pemenuhan persyaratan halal agar akses ke pasar Indonesia tetap stabil.

Ini menunjukkan bahwa penyesuaian yang diperlukan bukan berskala kecil, melainkan sistemik bagi banyak pelaku usaha.

Ketika kepatuhan (compliance) menjadi komponen wajib, perusahaan perlu menyiapkan dokumen yang jelas, membuktikan rantai bahan—terutama bahan turunan—serta memastikan bukti kepatuhan memadai.

Di sinilah penyelarasan dan pengakuan prosedur dapat menghemat waktu dan biaya, tanpa mengorbankan kepercayaan konsumen.

Apa yang Didapat Pasar Indonesia

Dari perspektif konsumen, dampak paling langsung adalah meningkatnya kejelasan.

Semakin seragam dan mudah dipahami aturan, semakin kecil “wilayah abu-abu”: lebih sedikit produk yang menimbulkan pertanyaan, dan lebih jarang terjadi perbedaan tafsir terhadap label.

Dampak kedua adalah berkurangnya gesekan perdagangan.

Jika prosedur dapat ditempuh sekali lalu diakui dalam kerangka yang disepakati, risiko keterlambatan menurun, biaya audit berulang berkurang, dan kemungkinan pengiriman tertahan karena formalitas dokumen menjadi lebih kecil.

Dalam jangka panjang, hal ini membantu stabilitas pasar—terutama untuk kategori di mana Indonesia masih membutuhkan pasokan bahan baku tertentu dari luar negeri.

Dampak ketiga bersifat strategis: penguatan posisi Indonesia sebagai pusat ekonomi halal.

Negara yang memiliki sistem sertifikasi transparan dan kompatibel dengan praktik internasional akan memperkuat posisi tawarnya sekaligus meningkatkan daya tarik investasi di rantai pasok halal.

Baca Juga: AS–Bangladesh Deal Dagang Baru, Produk Tekstil India Terancam Kalah Saing di Pasar Amerika

Risiko: UMKM Lebih Berat, Reputasi Lebih Mahal

Di balik manfaat, ada tantangan. Kepatuhan biasanya lebih mudah dijalankan perusahaan besar dibandingkan pelaku kecil.

Produsen skala besar memiliki tim quality assurance, mampu menanggung audit eksternal, dan menjalankan jalur produksi terpisah.

Sementara UMKM bisa menghadapi tekanan tambahan ketika tuntutan dokumen dan verifikasi semakin kompleks.

Risiko lain bersifat reputasional. Dalam sektor halal, kepercayaan adalah aset utama.

Satu kasus kontroversial dapat merusak persepsi merek lebih cepat dibandingkan puluhan pengiriman yang berjalan lancar.

Karena itu, keterlacakan nyata—asal bahan, proses produksi, dan pencegahan kontaminasi silang—menjadi kunci.

Standar Halal sebagai Infrastruktur Global

Negosiasi BPJPH dan USDA menunjukkan bahwa halal semakin berfungsi sebagai bagian dari sistem perdagangan global—berdampingan dengan keamanan pangan, pelabelan, dan kontrol rantai pasok.

Bagi Indonesia, ini peluang untuk memperkuat kepercayaan domestik sekaligus membuat perdagangan lebih terprediksi. Bagi eksportir, kepatuhan halal dapat menjadi keunggulan kompetitif.

Penyelarasan standar hari ini bukan lagi isu administratif semata, melainkan faktor yang akan ikut menentukan siapa yang berada di pusat pertumbuhan ekonomi halal dalam beberapa tahun mendatang.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
S