Akurat

Apa Itu MSCI? Ternyata Kebijakan Ini yang Bikin Saham Indonesia Anjlok

Shalli Syartiqa | 28 Januari 2026, 15:52 WIB
Apa Itu MSCI? Ternyata Kebijakan Ini yang Bikin Saham Indonesia Anjlok

AKURAT.CO ​MSCI adalah perusahaan riset yang menyediakan indeks dan data pasar saham global yang menjadi acuan penting bagi investor institusi.

​Indeks-indeks MSCI digunakan untuk mengukur kinerja pasar saham dan menyusun portofolio investasi, termasuk Indeks MSCI Indonesia yang mencakup saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah di Bursa Efek Indonesia.

​Namun, keputusan MSCI terkait transparansi data free float saham Indonesia telah menyebabkan kekhawatiran dan memicu penurunan signifikan pada sebagian besar saham Indonesia, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Mengenal MSCI

​MSCI, singkatan dari Morgan Stanley Capital International, adalah sebuah perusahaan riset yang menyediakan indeks dan data pasar saham global yang sering dijadikan acuan oleh investor institusi dan profesional. ​

Didirikan pada tahun 1969, MSCI telah berkembang menjadi standar global untuk mengukur pergerakan pasar saham internasional secara objektif, mencakup ribuan perusahaan di seluruh dunia.

Fungsi dan Peran MSCI

​MSCI memiliki beberapa fungsi utama dalam dunia investasi global.

1. Tolok Ukur Kinerja Pasar: ​MSCI menyediakan tolok ukur untuk kinerja pasar saham di berbagai wilayah atau sektor, membantu investor menilai tren dan performa saham berdasarkan kriteria seperti wilayah geografis, sektor industri, atau karakteristik perusahaan.

2. Acuan Portofolio: ​Manajer investasi menggunakan indeks MSCI sebagai acuan dalam menyusun dan mengelola portofolio investasi.

3. Penilaian Risiko dan Peluang: ​Indeks ini membantu investor institusi dan individu dalam menilai risiko dan peluang investasi global.

4. Analisis Data: ​MSCI menyajikan data detail seperti bobot sektor, kapitalisasi pasar, dan tren performa, yang mendukung analisis fundamental dan teknikal investor.

Jenis-Jenis Indeks MSCI

​MSCI mengembangkan berbagai indeks untuk memenuhi kebutuhan investor yang beragam.

1. MSCI World Index: ​Indeks ini mencakup saham dari perusahaan besar di 23 negara maju seperti AS, Jepang, dan Inggris, dengan lebih dari 1.500 saham large-cap dan mid-cap.

2. MSCI Emerging Markets Index: ​Indeks ini fokus pada negara-negara berkembang seperti Tiongkok, India, Brasil, Korea, dan Indonesia, digunakan untuk menilai potensi pertumbuhan ekonomi baru.

3. MSCI All Country World Index (ACWI): ​Menggabungkan negara maju dan berkembang dalam satu indeks global untuk mengukur kinerja pasar dunia secara keseluruhan.

4. MSCI Country Index: ​Indeks ini menilai kinerja saham di negara spesifik, contohnya MSCI Indonesia Index yang memuat saham-saham dari perusahaan besar di Indonesia.

5. Indeks Sektoral dan Tematik: ​Berfokus pada industri tertentu (misalnya, teknologi, keuangan) atau karakteristik khusus saham (misalnya, nilai, volatilitas rendah).

Alasan Kebijakan MSCI Mempengaruhi Pasar Saham Indonesia

​MSCI baru-baru ini melakukan pembekuan sementara penilaian free float bagi saham-saham di Indonesia, yang memicu kekhawatiran dan penurunan signifikan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

​IHSG bahkan sempat anjlok lebih dari 7% ke level 8.295 dalam satu sesi perdagangan, mencerminkan salah satu koreksi terdalam dalam sejarah bursa domestik.

​​Alasan utama di balik keputusan MSCI adalah kekhawatiran serius terhadap akurasi perhitungan free float saham Indonesia dan transparansi struktur kepemilikan saham publik​.

​Free float adalah jumlah saham yang benar-benar beredar di publik dan tersedia untuk diperdagangkan, tidak termasuk kepemilikan oleh pengendali atau pemerintah.

 

​MSCI berfokus pada floating market capitalization, likuiditas perdagangan, serta konsistensi dan keberlanjutan transaksi dalam menentukan konstituen indeks. ​

Valuasi murah atau mahal tidak menjadi pertimbangan utama.

​Saham yang secara fundamental menarik namun memiliki free float terbatas atau likuiditas yang tidak konsisten berisiko tersingkir dari indeks.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.