Akurat

KKP: 30.000 Hektar Tambak Ikan di Aceh Rusak Akibat Banjir, Kerugian Ditaksir Tembus Rp6 Triliun

Yosi Winosa | 9 Januari 2026, 16:40 WIB
KKP: 30.000 Hektar Tambak Ikan di Aceh Rusak Akibat Banjir, Kerugian Ditaksir Tembus Rp6 Triliun

AKURAT.CO Sebanyak 30.000 hektar tambak ikan di Aceh rusak akibat banjir besar, memicu kekhawatiran serius terhadap keberlanjutan ekonomi perikanan nasional.

Kerusakan tambak perikanan Aceh ini terjadi pascabanjir besar akhir November 2025 dan berdampak langsung pada ribuan pembudidaya ikan di 16 kabupaten/kota.

Selain menghentikan siklus produksi, banjir juga merusak infrastruktur tambak, memusnahkan benih, dan mengganggu rantai pasok ikan.

Estimasi awal, kerugian ekonomi akibat rusaknya 30.000 hektar tambak ikan di Aceh diperkirakan mencapai Rp4–6 triliun, menjadikannya salah satu bencana perikanan terbesar dalam satu dekade terakhir.

Isu ini menjadi perhatian penting bagi pelaku usaha, investor, hingga generasi muda yang menaruh minat pada sektor pangan dan ekonomi berkelanjutan.

Skala Kerusakan Tambak Ikan di Aceh

Identifikasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menunjukkan bahwa kerusakan tambak mencakup wilayah pesisir dan daratan di 16 kabupaten/kota di Aceh, dengan tingkat kerusakan bervariasi dari ringan hingga berat.

Baca Juga: Agrinas Jaladri Nusantara Realisasi Program TJSL Pascabencana Banjir dan Longsor di Aceh, Sumbar dan Sumut

Daerah seperti Aceh Utara, Bireuen, dan Aceh Tamiang mencatat kerusakan paling luas. Banyak tambak mengalami jebol tanggul, sedimentasi lumpur tebal, serta rusaknya saluran air dan pompa.

Komoditas Perikanan yang Mengalami Kerugian Terbesar

Tambak yang rusak selama ini memproduksi komoditas bernilai ekonomi tinggi, antara lain:

  • Udang vaname dan udang windu
  • Bandeng
  • Kakap dan kerapu
  • Lele, nila, patin, dan ikan mas

Udang menjadi komoditas dengan potensi kerugian terbesar karena bernilai ekspor dan membutuhkan modal produksi tinggi.

"Kami sudah melakukan identifikasi. Tambak terdampak yang rusaknya sangat berat ada sekitar 300an hektare, sisanya didominasi kerusakan ringan hingga berat," ungkap Menteri KKP, Trenggono.

Estimasi Kerugian Ekonomi Tambak Ikan Aceh

Berdasarkan rata-rata produktivitas dan nilai produksi tambak, estimasi kerugian ekonomi dapat dirinci sebagai berikut:

Perhitungan Kasar (Estimasi Moderat)

  • Rata-rata nilai produksi tambak: Rp150–200 juta per hektar per siklus
  • Jumlah lahan terdampak: 30.000 hektar
  • Potensi produksi hilang (1 siklus): Rp4,5–6 triliun

Angka ini belum termasuk:

  • Kerusakan infrastruktur tambak
  • Kehilangan alat produksi dan pakan
  • Biaya pemulihan dan normalisasi lahan
  • Dampak lanjutan ke sektor distribusi dan pengolahan

Dengan demikian, total dampak ekonomi bisa lebih besar jika pemulihan berlangsung lambat.

Dampak Langsung ke Pembudidaya dan Harga Ikan

Lebih dari 30.000 pembudidaya ikan terdampak langsung. Sebagian besar pelaku usaha kecil kehilangan modal kerja dan harus memulai dari nol.

Dalam jangka pendek, berkurangnya pasokan ikan dari Aceh berpotensi:

  • Menekan pendapatan rumah tangga pesisir.
  • Mengganggu pasokan regional Sumatra
  • Mendorong volatilitas harga ikan tertentu

Respons Pemerintah dan Proyeksi Pemulihan

Pemerintah melalui KKP dan Kemenko Pangan memprioritaskan pemulihan tambak ikan pascabanjir di Aceh agar siklus produksi tidak terhenti terlalu lama.

Langkah strategis yang disiapkan meliputi:

  • Rehabilitasi tanggul dan infrastruktur utama
  • Bantuan benih dan pakan
  • Pendampingan teknis budidaya
  • Integrasi pemulihan perikanan dalam program ketahanan pangan nasional

Pemulihan diperkirakan membutuhkan waktu 6–12 bulan, tergantung tingkat kerusakan dan cuaca.

Implikasi bagi Investor dan Industri Pangan

Kasus 30.000 hektar tambak ikan di Aceh rusak menjadi sinyal penting bagi investor sektor pangan dan perikanan. Risiko iklim kini menjadi faktor utama dalam valuasi aset perikanan.

Namun di sisi lain, kondisi ini membuka peluang:

  • Investasi tambak berbasis teknologi tahan iklim
  • Asuransi perikanan dan pembiayaan hijau
  • Modernisasi sistem budidaya dan manajemen risiko

Kerugian Besar, Momentum Perubahan

Kerugian ekonomi yang ditaksir mencapai Rp4–6 triliun menegaskan bahwa bencana tambak ikan di Aceh bukan sekadar isu lokal. Ini adalah ujian nyata bagi ketahanan pangan dan tata kelola industri perikanan nasional.

Jika pemulihan dilakukan cepat dan terarah, krisis ini justru bisa menjadi momentum transformasi menuju industri perikanan yang lebih tangguh, modern, dan berkelanjutan.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa