ESDM Siapkan Perpres Baru LPG 3 Kg, Atur Distribusi hingga Sub-Pangkalan

AKURAT.CO Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa Peraturan Presiden (Perpres) terbaru terkait skema subsidi Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram masih dalam tahap harmonisasi lintas kementerian dan lembaga. Regulasi ini disiapkan untuk mengatur penyaluran LPG subsidi secara lebih utuh dan tepat sasaran.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan selama ini kebijakan subsidi LPG belum memiliki payung regulasi yang sepenuhnya mengatur rantai distribusi hingga ke tingkat paling bawah.
“Sejak kebijakan Februari lalu yang sempat ditarik kembali, memang ada skema yang belum diatur secara utuh dalam regulasi. Karena itu sekarang Kementerian ESDM sedang memproses Peraturan Presiden yang baru,” kata Laode dalam acara temu media sektor ESDM dikutip, Minggu (21/12/2025).
Baca Juga: PNBP ESDM Tembus Rp228,05 Triliun per 18 Desember 2025
Laode menjelaskan, salah satu perubahan utama dalam Perpres baru ini adalah penataan siklus distribusi LPG subsidi. Jika sebelumnya distribusi hanya diatur sampai tingkat pangkalan, ke depan rantai penyaluran akan ditutup hingga sub-pangkalan.
Selain itu, Perpres baru juga akan mengatur lebih tegas kriteria penerima LPG 3 kilogram. Selama ini, meski LPG subsidi diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, belum ada aturan yang secara eksplisit membatasi kelompok masyarakat berdasarkan desil ekonomi.
"Lalu yang kedua kalau kita perhatikan aturan mengenai tabung LPG 3 kilo sekarang kan sebenarnya belum ada yang menyatakan secara khusus membatasi desil-desil yang menggunakan tabung LPG tersebut," ujarnya.
Terkait waktu implementasi, Laode menyampaikan bahwa Perpres tersebut secara substansi telah rampung, namun masih memerlukan proses harmonisasi. Ia menargetkan regulasi tersebut dapat terbit dalam waktu dekat.
Baca Juga: Kunjungi TBBM Cikampek, Wamen ESDM Pastikan Keandalan Pasokan Energi Nataru 2026
Setelah Perpres diterbitkan, pemerintah akan menerapkan masa transisi sekitar enam bulan. Pada tahap awal, kebijakan baru ini tidak langsung diberlakukan secara nasional, melainkan melalui uji coba atau pilot project di wilayah tertentu.
"Jadi setelah perpres itu terbit ada masa peralihan dulu sekitar 6 bulan dan disana ada kebijakan untuk melakukan semacam pilot dulu," ucap Laode.
Lebih lanjut, Laode menegaskan bahwa regulasi yang disiapkan merupakan Perpres baru, meski kerap disebut sebagai revisi karena sebelumnya sudah ada aturan sejenis.
“Perpres baru tapi karena sebelumnya sudah ada perpres makanya banyak yang bilang revisi perpres. Tapi isinya banyak berubah dari sebelumnya," tegasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Demo BEM UI 28 Oktober 2026: Cek Lokasi, Jadwal, dan Informasi Terbaru
- 2Cara Daftar BLT Kesra Rp900 Ribu Akhir Oktober 2026, Cek Tahapannya
- 3Lineup Jazz Goes to Campus 2026 Lengkap, Ada Kahitna hingga Maliq & D'Essentials
- 4UMKM Indonesia Bidik Pasar Global, LPEI Tawarkan Pembiayaan hingga Konsultasi Ekspor
- 5Survei IPO: Gerindra Memimpin, PSI yang Diperkuat Jokowi di Posisi Sembilan
- 6Saran Meningkatkan Kualitas dan Pemanfaatan Buku Teks dalam Pembelajaran
- 7Link Live Streaming Garudayaksa vs Persib Bandung Malam Ini, Klik di Sini!
- 8Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 9Auditor BPK Ungkap Enam Penyimpangan Yaqut Cholil Qoumas dalam Penetapan Kuota Haji Tambahan
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid di Kasus Suap HGB Summarecon









