Perjalanan Kecil Melawan Langit Kelabu Jakarta, Kisah Gilang Melawan Polusi Lewat Mobil Listrik

AKURAT.CO Pagi itu, Jakarta seperti biasa membuka mata dengan selembar langit yang tidak lagi biru. Kabut debu mengapung, menyerupai selimut tipis yang menahan napas kota.
Di dalam mobilnya, Gilang Kumari Putra memandangi kaca depan yang buram oleh asap kendaraan. Sesekali ia menarik napas Panjang, bukan untuk menikmati udara pagi melainkan untuk memastikan paru-parunya masih bersabar.
Di tengah hiruk pikuk itu, ia mengambil keputusan yang tak lagi bisa ditunda. Keputusan kecil bagi seorang warga, tetapi besar bagi dirinya yakni meninggalkan mobil berbahan bakar minyak dan berpindah ke mobil listrik.
Baca Juga: Mubadala Energy–PLN EPI Teken HoA Pasokan Gas Andaman untuk Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Tentu saja ia tahu keputusannya tidak akan mengubah langit hari itu, atau besok. Namun setidaknya, ia memilih untuk tidak lagi menjadi bagian dari asap yang mengaburkan cakrawala Jakarta.
Langit yang Tak Lagi Mengizinkan Lupa
Jakarta telah lama berdamai dengan polusi, walau sebenarnya tidak pernah benar-benar berdamai.
Menurut kajian Institute for Essential Services Reform (IESR), setiap individu di perkotaan rata-rata menghasilkan 3,4 ton setara karbon dioksida per tahun. Sumbernya datang dari tiga penjuru diantaranya transportasi sebesar 43,34%, makanan 34,91%, dan rumah tangga 21,08%.
Angka itu bukan sekadar statistik. Itu adalah fragmen kehidupan sehari-hari yang seringkali kita dengar, dari bunyi mesin, knalpot panas hingga kepada langkah-langkah masyarakat yang terburu menuju aktivitas kota. Namun bagi Gilang, angka itu adalah alasan.
Keputusan yang Berawal dari Napas
Sudah setahun sejak ia memindahkan hidupnya dari pom bensin ke colokan listrik. Setahun sejak ia memutuskan bahwa lingkungan tidak bisa terus menunggu.
“Jakarta ini kan tingkat polusinya udah luar biasa ya. Rasanya tuh kaya udah saatnya pindah ke mobil listrik—secara lingkungan lebih sehat,” ucapnya ketika dihubungi Akurat.co, Selasa (2/12/2025).
Gilang tidak berbicara dengan nada heroik. Ia hanya terlihat lelah, lelah melihat masyarakat memakai masker bahkan sebelum penyakit datang.
Tapi ada alasan lain yang membuat langkahnya mantap yakni mobil listrik jauh lebih murah untuk dijalankan. Dari yang semula menghabiskan hampir Rp3 juta per bulan, kini cukup Rp150 ribu per minggu dan Rp600 ribu per bulan. Lebih sunyi, lebih bersih, lebih hemat.
Baca Juga: Kebut Pemulihan, Bos PLN Pastikan Langsung Penanganan Kelistrikan Pascabencana Aceh
“Mobil listrik itu pilihan yang tepat. Seminggu paling Rp150 ribu buat isi daya,” katanya, kali ini dengan rasa sumringah
Ketika Perubahan Menular Melalui Contoh
Menariknya, keputusan itu tidak berhenti padanya. Gilang bercerita bahwa beberapa keluarganya turut beralih ke mobil listrik.
“Yang aktivitasnya banyak di Jakarta, justru kecenderungannya malah pakai mobil listrik,” ujarnya.
Bahkan di ruang kelasnya, Gilang yang bekerja sebagai dosen, ia membawa kisah itu ke mahasiswa. Bukan untuk menggurui, melainkan untuk menunjukkan bahwa perubahan selalu punya titik awal dan sering kali, titik itu begitu personal.
Infrastruktur yang Masih Bertumbuh
Namun perjalanan menuju elektrifikasi tidak selembut suara mesin mobil listrik. Suatu hari, Gilang pernah mencoba mengisi daya di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) milik PLN.
Hari itu, mobilnya menunggu. Ia menunggu. Bahkan panel pengisian seolah ikut menunggu. Tapi listrik tak kunjung mengalir.
Tidak ada petugas. Tidak ada penjelasan. Hanya sunyi, sunyi yang membuatnya sadar bahwa semangat individu selalu butuh sistem yang siap menemani.
Oleh karena itu, ia mengusulkan agar SPKLU bisa hadir lebih dekat dengan kehidupan warga.
“Satu kelurahan satu SPKLU udah bagus. Kalau seandainya terlalu banyak, minimal satu kecamatan satu,” katanya. Sederhana. Masuk akal. Dan sangat manusiawi.
PLN, Target, dan Pengejaran Waktu
Dari sisi lain kota, PLN berusaha mengejar ketertinggalan. Menurut Manager Layanan Prioritas dan PAE PLN UID Jakarta Raya, Andika Rama E.P., menjelaskan bahwa per November 2025, Jakarta baru memiliki rasio 1 SPKLU untuk 45 kendaraan listrik.
“Per November 2025 di DKI Jakarta, angka rasio tersebut baru sampai di 1:45, sedangkan idealnya 1:12. Di luar DKI, rasionya sudah aman di kisaran 1:11 sampai 1:13,” ujar Andika kepada Akurat.co.
Selain memperbanyak SPKLU, PLN juga menyiapkan berbagai insentif untuk mendorong masyarakat beralih ke gaya hidup berbasis listrik atau Electrifying Lifestyle.
Andika mengungkapkan PLN memberikan diskon biaya pasang baru dan penambahan daya hingga 50% untuk pengguna kendaraan listrik melalui promo HCS Ultima. Tidak hanya itu, pelanggan yang sudah menikmati promo tersebut juga mendapat potongan biaya pengecasan.
“Bagi badan usaha penyedia EV Charger, PLN juga menghadirkan promo pasang baru sebesar 50% atau maksimal potongan 175 juta,” ucapnya
PLN, tambah Andika, akan terus dan selalui menyiapkan infrastruktur pendukung yang lengkap, seperti SPKLU Center, SPKLU roda dua, dan SPBKLU.
Tentunya langkah-langkah ini akan menjadi sebuah kepingan kecil dari puzzle besar yang coba disusun negara guna memastikan infrastruktur untuk kendaraan listrik dapat dicari oleh masyarakat.
“PLN akan terus berusaha menyiapkan infrastruktur pendukung yang lengkap dan tersebar bagi pengguna kendaraan listrik,” tutur Andika.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










