Bos Bappenas: Geopark Jadi Mesin Ekonomi Berbasis Konservasi

AKURAT.CO Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Rachmat Pambudy, menegaskan pentingnya pengembangan geopark sebagai instrumen untuk mempercepat transformasi ekonomi berbasis konservasi.
Menurut Rachmat, geopark tidak hanya menjadi kawasan pelestarian warisan geologi, tetapi juga platform penguatan geowisata berkelanjutan yang mampu menekan kerusakan alam.
Konsep ini menekankan edukasi, pemberdayaan masyarakat, serta pencegahan degradasi lingkungan.
"Geopark memiliki tiga pilar utama yakni konservasi, edukasi, dan pengembangan ekonomi lokal, yang diperkaya oleh tiga keragaman yakni geologi, hayati, dan budaya. Tiga unsur ini menjadi fondasi penting dalam mengembangkan pariwisata bernilai tambah tinggi," ujarnya dalam Indonesia's Geopark Leader Forum, di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Baca Juga: Gap Pendanaan Iklim RI Sentuh USD757,6 Miliar, Bappenas Luncurkan ITF
Lebih jauh, pengembangan geopark membutuhkan perubahan pola pikir dalam pengelolaan sumber daya alam. Pola ekstraktif yang selama ini digunakan harus beralih menjadi konservatif, sehingga manfaat ekonomi dapat ditingkatkan tanpa merusak ekosistem.
Rachmat menekankan perlunya pengelolaan berbasis kolaborasi bottom-up. Artinya, masyarakat lokal harus menjadi pusat dari perencanaan hingga implementasi program, agar keberlanjutan dapat tercapai secara konsisten.
Dirinya mencontohkan keberhasilan di Raja Ampat, Papua, yang telah berstatus UNESCO Global Geopark (UGGp).
Keberhasilan itu terbukti melalui pertumbuhan ekonomi lokal yang signifikan dan meningkatnya keterlibatan warga dalam sektor pariwisata.
Tahun 2024, kawasan Raja Ampat mencatatkan pendapatan Rp22,52 miliar dari jasa lingkungan. Angka tersebut berasal dari 31.687 kunjungan wisatawan mancanegara dan 819 wisatawan domestik.
Baca Juga: Bappenas Ingin Program Penguatan Pangan dan Gizi Nasional Lebih Komprehensif
Pendapatan ini menjadi bukti bahwa konservasi dapat berjalan seiring pertumbuhan ekonomi.
Pada aspek pemberdayaan, kawasan tersebut menyediakan 200 unit homestay, 30 resort, serta melibatkan ratusan pemandu wisata lokal. Selain itu, warga juga menjalankan SMART Patrol untuk menjaga satwa endemik yang menjadi daya tarik utama kawasan.
Rachmat menilai keberhasilan geopark turut mendorong visi Indonesia Emas 2045, terutama target transformasi ekonomi serta ketahanan sosial-budaya dan ekologi.
Penguatan geopark diyakini dapat memperkuat struktur ekonomi nasional yang lebih resilien dan ramah lingkungan.
Saat ini Indonesia memiliki 12 UGGp, setara dengan Italia dan hanya kalah dari China serta Spanyol. Jika seluruh taman bumi di Tanah Air didaftarkan, Indonesia berpotensi menjadi pemilik geopark terbanyak di dunia, terutama di wilayah tropis.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









