22 Tahun FWIS, Perempuan Peneliti Kian Berpengaruh dalam Sains Indonesia

AKURAT.CO Program L’Oréal–UNESCO For Women in Science (FWIS) kembali digelar di Indonesia dan memasuki tahun ke-22 penyelenggaraannya.
Lebih dari sekadar penghargaan, program ini dinilai telah membentuk ekosistem baru yang memungkinkan perempuan peneliti berkontribusi lebih besar dalam kemajuan sains nasional.
Tahun ini, FWIS menyedot partisipasi dua kali lipat dibanding tahun lalu dan semakin menunjukkan besarnya minat perempuan Indonesia dalam dunia penelitian.
Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, menegaskan bahwa kesetaraan gender dalam sains merupakan isu strategis yang berkaitan langsung dengan daya saing negara.
Baca Juga: Praktik Ritual dan Bisnis Mengerikan di Balik Serangkaian Pembunuhan Misterius di Sierra Leone
Dirinya menyebutkan bahwa bukti ilmiah menunjukkan perempuan memiliki kemampuan setara dengan laki-laki dalam bidang STEM, namun kesenjangan struktural masih terjadi, terutama dalam kesempatan kerja dan representasi kepemimpinan.
“Negara akan merugi bila tidak memaksimalkan potensi terbaik warganya. Karena itu, kami memperkuat narasi pentingnya kontribusi perempuan dalam riset dan inovasi,” ujar Stella dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (24/11/2025).
Dirinya menambahkan bahwa kepercayaan diri, keberanian mengambil peluang, dan konsistensi menjadi bekal penting bagi perempuan untuk maju dalam dunia sains.
Laporan UNESCO tahun 2025 mencatat 43,5% peneliti Indonesia adalah perempuan. Angka ini cukup besar dibanding banyak negara lain, namun belum sepenuhnya menggambarkan kesetaraan.
Program FWIS hadir untuk menjembatani kebutuhan tersebut melalui dukungan pendanaan penelitian, perluasan jejaring global, serta penguatan kapasitas ilmuwan perempuan muda.
President Director L’Oréal Indonesia, Benjamin Rachow, menegaskan bahwa sains merupakan fondasi inovasi yang menjadi DNA perusahaan.
Dirinya menilai bahwa kontribusi perempuan peneliti tidak hanya penting bagi dunia riset, tetapi juga bagi masyarakat luas.
“Dunia membutuhkan sains, dan sains membutuhkan perempuan,” ujarnya.
Melalui FWIS, L’Oréal berupaya memberikan ruang bagi perempuan ilmuwan untuk menghadirkan riset yang berdampak, memperluas kolaborasi, dan membuka akses ke jaringan global.
Selama lebih dari dua dekade sejak pertama kali hadir di Indonesia, 79 perempuan peneliti telah menerima penghargaan FWIS.
Banyak di antara mereka kemudian menjadi pemimpin riset, pendidik, hingga mentor bagi generasi ilmuwan muda. Tahun ini, empat peneliti kembali terpilih sebagai penerima FWIS 2025 dengan dukungan pendanaan masing-masing Rp400 juta.
FWIS 2025 mencatat peningkatan signifikan dalam jumlah pendaftar. Ratusan proposal masuk dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga riset nasional, dan sekitar 70% berasal dari perempuan peneliti muda.
Fenomena ini dianggap sebagai bukti meningkatnya kepercayaan diri ilmuwan perempuan Indonesia untuk berkompetisi dan memberikan kontribusi nyata.
Ketua Dewan Juri FWIS 2025, Prof. dr. Herawati Sudoyo, menyebut tahun ini sebagai capaian istimewa. Untuk pertama kalinya dalam lima tahun terakhir, hampir 150 proposal diterima, mencakup peneliti dari Papua Barat hingga luar Indonesia.
Dirinya menegaskan bahwa kolaborasi menjadi faktor kunci dalam penelitian modern, dan para kandidat terpilih dinilai memiliki rekam jejak kolaborasi yang kuat.
Selain jumlah, kualitas proposal yang masuk juga dinilai meningkat. Sebagian besar penelitian berakar pada kekayaan hayati Indonesia dan diarahkan pada solusi nyata bagi masyarakat.
Mulai dari bioteknologi, kesehatan publik, material maju, hingga pengelolaan limbah berkelanjutan, karya ilmuwan perempuan menegaskan lintang bidang penelitian yang kini semakin luas.
Chief of Corporate Affairs, Engagement, and Sustainability L’Oréal Indonesia, Melanie Masriel, menjelaskan bahwa komunitas FWIS telah berkembang menjadi wadah kolaborasi lintas disiplin yang solid.
Alumni program aktif berbagi peluang riset, berjejaring lintas institusi, dan membangun kemitraan yang memperkuat kemampuan ilmiah nasional.
Ekosistem ini berkembang melampaui pemberian penghargaan. Para alumni kini berperan sebagai mentor bagi lebih dari 1.400 peneliti muda di berbagai wilayah Indonesia.
Efek berlipat ini dinilai penting untuk memastikan kesinambungan generasi ilmuwan perempuan di masa depan.
Pada acara yang sama, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN, Fabien Penone, menegaskan bahwa kesetaraan gender dalam sains merupakan komitmen diplomasi Prancis.
Dirinyamemberikan apresiasi kepada para penerima penghargaan dan menyebut FWIS sebagai sarana penting dalam mendorong keberagaman dan keunggulan ilmiah.
Dengan semakin kuatnya ekosistem ilmuwan perempuan di Indonesia, FWIS 2025 tidak hanya menjadi penghargaan, tetapi juga platform pembentukan pemimpin sains masa depan.
Dukungan berkelanjutan terhadap perempuan peneliti diharapkan mampu memperkuat posisi Indonesia sebagai negara berbasis inovasi di kawasan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









