Terangi Negeri Bumi Nyiur Melambai, Jejak Panjang Energi Hijau di Sulawesi Utara

AKURAT.CO Di tengah lanskap perbukitan hijau Minahasa, suara turbin tua dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Tonselama masih bergemuruh.
Bangunan bergaya kolonial Belanda itu berdiri tegak di tepi aliran air yang tenang, seolah menolak kalah oleh waktu. Sejak 1949, di sinilah denyut listrik pertama di Sulawesi Utara berawal.
Lebih dari tujuh dekade kemudian, pembangkit berusia lanjut itu masih beroperasi, menjadi saksi sejarah perjalanan listrik di Tanah Air dari era mesin diesel hingga kini, ketika energi baru dan terbarukan (EBT) menjadi masa depan.
Menerangi dari Ujung Utara
Upaya pemerintah memperluas jangkauan listrik terus berjalan. Tak hanya di Pulau Jawa, pemerataan juga digenjot hingga ke pelosok Nusantara.
Mengutip hasil data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat, rasio elektrifikasi nasional hingga Semester I 2025 telah mencapai 99,83%. Di Sulawesi Utara, angkanya sedikit di bawah 99,40%. Artinya, hanya 0,60% rumah tangga di provinsi ini yang belum menikmati aliran listrik.
Capaian itu tak datang begitu saja. Di baliknya, ada kerja keras PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang terus mengandalkan kombinasi antara pembangkit konvensional dan sumber energi hijau. Salah satu tulang punggungnya: PLTA Tonselama.
Baca Juga: PLN dan J&F S.A Brasil Teken MoU Pengembangan PLTA di Indonesia
PLTA Tonselama, Pusaka yang Masih Bertenaga
PLTA Tonselama dibangun dengan desain awal tahun 1929. Bangunannya nyaris tak berubah sejak itu dinding tebal, jendela tinggi, dan ruang turbin yang masih mempertahankan sentuhan klasik masa kolonial.
Menurut Asisten Manajer Operasi PLN Nusantara Power Pembangkitan Minahasa, Aody Rumbayan, pembangkit ini awalnya memiliki kapasitas 4 Megawatt (MW).
Namun pada tahun 1971 dan 1980, PLN menambah Unit 2 dan Unit 3 dengan kapasitas masing-masing 4,5 MW dan 4,3 MW.
Kini, total daya terpasang mencapai 12,8 MW, cukup untuk menopang listrik sebagian wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo, hingga Sulawesi Tengah melalui jaringan interkoneksi Suluttenggo.
Baca Juga: PLN dan PT TMM Teken PJBL PLTA Batoq Kelo 300 MW Dukung Energi Berkelanjutan
“Interkoneksi Suluttenggo itu mulai sekitar tahun 80-an. Beberapa pembangkit di Gorontalo langsung terhubung dengan sistem Sulut,” ujar Aody di sela kunjungan media, Kamis (30/10/2025).
Meski usia pembangkitnya menua, PLN tetap menjaga keandalannya dengan modernisasi bertahap. Aody menuturkan, peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pembaruan peralatan menjadi kunci utama.
“Peralatan seperti ini absolut, harus di-upgrade dengan yang lebih baik atau yang tersedia di pasaran,” ujarnya.
Namun, tantangan terbesar bukan pada mesin, melainkan pada alam. Danau Tondano sumber air utama pembangkit menentukan hidup matinya turbin Tonselama. Saat musim kemarau datang, elevasi air turun, dan pembangkit bisa berhenti sementara.
Baca Juga: Bagaimana Cara Bendungan dapat Menghasilkan Energi Listrik? Simak Prinsip Kerja PLTA Berikut!
Karena itu, PLN bersama masyarakat berupaya menjaga ekosistem danau agar debit air tetap stabil.
“Prime mover-nya itu air. Jadi kita jaga danau agar elevasinya tetap cukup buat memutar turbin,” tambah Aody.
Lahendong, Panas Bumi dari Perut Minahasa
Dari air di Tondano, perjalanan energi berlanjut ke panas bumi Lahendong. Sekitar satu jam perjalanan dari Manado, uap panas keluar dari celah tanah, menggerakkan turbin raksasa yang menjadi penopang sistem kelistrikan Sulawesi Utara.
Manager Unit Layanan Pusat Listrik PLTP Lahendong PLN Indonesia Power, H.S.M. Saragih, menceritakan, proyek panas bumi ini dimulai pada 1994 saat Pertamina Geothermal Energy (PGE) melakukan eksplorasi. Unit pertama dibangun pada 1996 dan resmi beroperasi pada 2001.
“Meski sudah 25 tahun, Unit 1 masih beroperasi penuh di kapasitas 20 MW,” kata Saragih. Sukses itu berlanjut dengan Unit 2 (2007), Unit 3 (2009), dan Unit 4 (2011). Kini total kapasitas terpasang mencapai 80 MW.
PLTP Lahendong menjadi salah satu kebanggaan Sulawesi Utara. Tak hanya karena menjadi pelopor panas bumi di Indonesia Timur, tapi juga karena kontribusinya yang signifikan sekitar 18% dari total beban listrik sistem Sulutgo yang mencapai 490 MW.
“Lahendong ini memberi kontribusi besar untuk keandalan listrik Sulawesi Utara dan Gorontalo,” ujar Saragih.
Energi Bersih, Untuk Masa Depan yang Terang
Sulawesi Utara kini menjadi contoh nyata bagaimana energi baru dan terbarukan bisa menjadi tulang punggung ketenagalistrikan daerah. Dari air yang mengalir di Tonselama hingga uap panas bumi Lahendong, semua berpadu dalam sistem yang menjaga lampu-lampu rumah tetap menyala.
Pemerataan listrik tak lagi sekadar angka rasio elektrifikasi. Ia adalah kisah tentang manusia, tentang dedikasi mereka menjaga turbin tua agar tetap berputar, dan tentang tekad membangun masa depan energi bersih bagi negeri.
Bagi warga Minahasa dan sekitarnya, cahaya yang mereka nikmati malam ini adalah warisan dari perjalanan panjang energi dari air yang menetes di Danau Tondano hingga panas bumi yang membara di Lahendong.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










