Ungguli Malaysia dan Turki, RI Peringkat Pertama Ekosistem Busana Muslim
Yosi Winosa | 20 Oktober 2025, 20:49 WIB

AKURAT.CO Indonesia berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah global dengan menempati posisi pertama dunia dalam sektor busana muslim atau modest fashion.
Capaian ini menegaskan posisi Indonesia sebagai pusat tren busana muslim dunia yang memiliki potensi ekonomi besar dan daya saing tinggi.
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, pencapaian tersebut merupakan hasil dari pertumbuhan pesat industri modest fashion nasional yang semakin diakui secara internasional.
“Secara sektoral dalam penilaian ekosistem halal, Indonesia menjadi negara paling unggul untuk modest fashion,” ujar Agus di Jakarta, Senin (20/10/2025).
Dalam laporan State of Global Islamic Economy Report (SGIER) 2024–2025, sektor busana muslim Indonesia berhasil melampaui sejumlah negara kuat seperti Malaysia, Italia, Turki, dan Singapura.
Peringkat ini menjadi bukti bahwa pelaku industri kreatif nasional, terutama di bidang fashion, mampu beradaptasi dengan tren global dan mengangkat identitas budaya lokal ke pasar internasional.
Agus menjelaskan, secara keseluruhan Indonesia berada di peringkat ketiga dunia dalam pengembangan ekosistem industri halal, berada di bawah Malaysia dan Arab Saudi.
Meski demikian, Indonesia mencatat kenaikan skor tertinggi, yakni meningkat 19,8 poin, sementara Malaysia justru mengalami penurunan skor sebesar 28,1 poin.
“Artinya, kemajuan kita signifikan. Tren positif ini menunjukkan peningkatan kesadaran, inovasi, dan regulasi yang semakin baik dalam ekosistem industri halal nasional,” kata Agus.
Dalam laporan SGIER, penilaian dilakukan berdasarkan beberapa komponen, termasuk finansial, regulasi halal, kesadaran masyarakat, aspek sosial, dan inovasi teknologi.
Dari sisi makanan halal, Indonesia berada di posisi keempat setelah Malaysia, Singapura, dan Uni Emirat Arab. Sementara itu, untuk farmasi dan kosmetik halal, Indonesia menempati peringkat kedua di bawah Malaysia.
“Modest fashion kita menempati peringkat pertama dengan skor 106,5, disusul farmasi dan kosmetik halal di peringkat kedua dengan skor 85,8, serta makanan halal di peringkat keempat dengan skor 76,78,” jelas Agus.
Dirinya menambahkan, potensi ekonomi halal Indonesia masih sangat besar dan memerlukan kerja sama lintas sektor untuk terus dikembangkan.
Secara global, pasar halal dunia terus tumbuh pesat. Pada tahun 2023, konsumsi masyarakat Muslim di enam sektor ekonomi syariah mencapai USD2,43 triliun, dan diproyeksikan melonjak menjadi USD3,36 triliun pada tahun 2028.
Tren ini mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap produk dan layanan yang sesuai prinsip syariah, termasuk dari sektor fashion, makanan, dan keuangan.
Potensi dalam negeri juga sangat menjanjikan. Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia, mencapai 245,97 juta jiwa, konsumsi rumah tangga Indonesia tercatat sebesar Rp3.226,1 triliun pada semester II tahun 2025.
Kondisi ini membuka peluang besar bagi industri halal nasional untuk tumbuh menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Kinerja industri halal Indonesia juga menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Hingga kini, terdapat 140.944 perusahaan industri halal, didominasi oleh sektor makanan halal sebanyak 130.111 industri, disusul minuman halal 10.383 industri, serta farmasi dan obat-obatan 1.633 industri.
Selain itu, nilai investasi di sektor industri halal dan keuangan syariah pada periode 2023–2024 mencapai USD5,8 miliar, dengan Indonesia menjadi penerima investasi terbesar, yakni USD1,6 miliar. Capaian ini memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi halal di kawasan Asia.
Meski begitu, kinerja ekspor produk halal Indonesia masih perlu ditingkatkan. Sepanjang 2023, ekspor produk halal Indonesia ke negara-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) tercatat sebesar USD12,33 miliar, menempatkan Indonesia di peringkat ke-9 dunia.
Sementara itu, impor dari negara-negara OKI mencapai USD29,64 miliar pada periode yang sama. Agus menegaskan, pemerintah bersama dunia usaha akan terus memperkuat kapasitas industri halal nasional agar lebih kompetitif.
“Kita akan tingkatkan inovasi, kualitas produk, dan branding agar produk halal Indonesia bisa menjadi pemain utama di pasar global,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










