Akurat

Program Makan Bergizi Gratis Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat

Hefriday | 17 Oktober 2025, 09:50 WIB
Program Makan Bergizi Gratis Jadi Penggerak Ekonomi Rakyat

AKURAT.CO Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana meyakini program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Program prioritas nasional ini dinilai mampu menggerakkan ekonomi dari berbagai sektor, mulai dari pangan, tenaga kerja, hingga usaha kecil menengah.

Menurut Dadan, dampak ekonomi dari MBG terlihat jelas melalui aktivitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di berbagai daerah. Saat ini, sebanyak 11.980 SPPG telah beroperasi dan mendorong perputaran uang di masyarakat.

Baca Juga: Serap 1,3 Tenaga Kerja, MBG Jadi Motor Pertumbuhan Ekonomi

"Satu SPPG saja bisa menggerakkan uang antara Rp9 miliar hingga Rp10 miliar per tahun. Jika dikalikan dengan jumlah SPPG yang ada, kontribusinya terhadap ekonomi sangat besar,” ujar Dadan di Jakarta, Jumat (17/10/2025).

Dadan menuturkan, kehadiran ribuan SPPG tidak hanya memperkuat rantai pasok pangan lokal, tetapi juga meningkatkan daya beli masyarakat.

Kegiatan produksi dan distribusi makanan bergizi melibatkan ribuan pelaku usaha kecil serta petani lokal yang memasok bahan pangan.

Dari sisi tenaga kerja, program MBG telah memberikan dampak signifikan. Setiap SPPG rata-rata mempekerjakan 50 orang pekerja, baik di dapur produksi, distribusi, maupun pengelolaan logistik.

"Kalau dihitung secara keseluruhan, sudah ada sekitar 450 ribu tenaga kerja yang terlibat langsung di SPPG di seluruh Indonesia,” ungkap Dadan.

Selain menyerap tenaga kerja langsung, MBG juga menciptakan efek berganda terhadap ekonomi daerah.

Satu SPPG membutuhkan sedikitnya 15 pemasok (supplier) bahan baku, mulai dari beras, telur, susu, ikan, hingga ayam. Kondisi ini menciptakan peluang kerja baru dan memperluas pasar bagi produk-produk lokal.

"Setiap supplier biasanya mempekerjakan dua sampai 15 orang. Jadi, kalau dihitung secara keseluruhan, program MBG telah menyerap antara 500 ribu sampai satu juta tenaga kerja, baik langsung maupun tidak langsung,” jelasnya.

Baca Juga: Komisi X DPR Usul Dapur MBG di Daerah 3T dan Pelosok Pakai Konsep Kitchen School

Dengan demikian, program MBG bukan hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menjadi ekosistem ekonomi rakyat yang tumbuh dari desa ke kota.

Menanggapi pertanyaan terkait rendahnya penyerapan anggaran BGN, Dadan menjelaskan bahwa sebagian besar kegiatan dalam program MBG justru didanai oleh partisipasi masyarakat.

Salah satu contohnya adalah pembangunan dapur dan fasilitas pendukung di SPPG yang dibiayai secara swadaya.

"Dari total 27 ribu SPPG yang sudah mendaftar, nilai investasi masyarakat mencapai sekitar Rp54 triliun. Dana itu murni berasal dari kontribusi publik untuk mendukung MBG,” terangnya.

Sementara itu, penggunaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) difokuskan untuk operasional penyediaan makanan bergizi, dengan penyerapan sekitar Rp27,2 triliun hingga saat ini.

Dadan menilai keberhasilan program MBG tidak terlepas dari kolaborasi kuat antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat.

Pemerintah berperan sebagai fasilitator dan pengarah kebijakan, sementara pelaku usaha dan warga menjadi motor penggerak di lapangan.

"Kekuatan program ini justru ada di masyarakat. Pemerintah hadir untuk memastikan kualitas, distribusi, dan efisiensi berjalan baik,” kata Dadan.

Program MBG juga terbukti memperkuat posisi petani, peternak, dan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor pangan.

Dengan meningkatnya permintaan bahan baku bergizi, seperti telur, sayur, ikan, dan daging, sektor pertanian dan perikanan ikut tumbuh.

Kementerian dan lembaga terkait, termasuk BGN, tengah menyiapkan mekanisme pendampingan dan pembiayaan untuk membantu UMKM lokal agar mampu memenuhi standar gizi dan kualitas produksi yang ditetapkan.

Secara makro, Dadan menilai program MBG akan menjadi salah satu faktor penting yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional menuju target 8% sebagaimana visi pemerintahan Prabowo–Gibran.

Dengan perputaran uang dari ribuan SPPG dan jutaan tenaga kerja yang terlibat, MBG diproyeksikan menciptakan nilai tambah ekonomi mencapai ratusan triliun rupiah per tahun.

Selain memberikan dampak ekonomi, Dadan menegaskan bahwa tujuan utama MBG tetap berfokus pada peningkatan gizi anak bangsa.

Pemerintah berharap melalui program ini, angka stunting menurun dan produktivitas generasi muda meningkat.

"Kalau anak-anak sehat dan gizinya baik, mereka akan tumbuh menjadi generasi produktif. Dan itu akan menjadi modal utama Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Dengan dukungan masyarakat yang besar dan implementasi yang semakin matang, BGN optimistis MBG akan menjadi program ekonomi dan sosial paling inklusif di Indonesia.

Pemerintah berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan program ini agar manfaatnya dapat dirasakan hingga ke tingkat desa.

"Makan Bergizi Gratis bukan hanya tentang memberi makan, tapi tentang menggerakkan ekonomi rakyat dan membangun masa depan bangsa,” pungkas Dadan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi