Mendag Bicara 3 Jurus Atasi Deindustrialisasi di Forum G20
Hefriday | 12 Oktober 2025, 16:13 WIB

AKURAT.CO Menteri Perdagangan (Mendag) RI, Budi Santoso menyerukan negara-negara berkembang untuk mempercepat langkah mengatasi deindustrialisasi dan menuju industrialisasi berkelanjutan.
Seruan itu disampaikan dalam sesi kedua G20 Trade and Investment Ministerial Meeting (TIMM) yang digelar di Gqeberha, Afrika Selatan.
Budi menegaskan pentingnya strategi yang berpihak pada pembangunan inklusif dan ekonomi bernilai tambah tinggi guna menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Budi Santoso menguraikan tiga fokus prioritas utama yang perlu dijalankan negara berkembang. Pertama, membangun serta memanfaatkan kapasitas produktif untuk mendorong transformasi menuju industri berbasis pengetahuan.
Menurutnya, negara berkembang harus mulai meninggalkan ketergantungan pada ekspor bahan mentah dan beralih ke sektor industri yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi.
Fokus kedua, kata Budi, adalah menaikkan posisi dalam rantai nilai global (global value chain). Langkah ini dapat dilakukan dengan memperluas basis manufaktur di sektor-sektor strategis, seperti semikonduktor, baterai kendaraan listrik (electric vehicle), dan farmasi.
Sektor-sektor tersebut dianggap penting karena berperan besar dalam membentuk struktur ekonomi masa depan yang lebih berdaya saing.
Selanjutnya, Budi menekankan pentingnya pengembangan industri hijau sebagai pilar ketiga. Ia menilai bahwa masa depan industri harus berorientasi pada keberlanjutan dan ramah lingkungan.
Selanjutnya, Budi menekankan pentingnya pengembangan industri hijau sebagai pilar ketiga. Ia menilai bahwa masa depan industri harus berorientasi pada keberlanjutan dan ramah lingkungan.
Pengembangan industri hijau tidak hanya berfungsi untuk mengurangi emisi karbon, tetapi juga menjadi bagian integral dari transisi menuju ekonomi rendah karbon yang inklusif dan berkeadilan.
“Dunia sedang bergerak menuju ekonomi hijau. Negara berkembang harus mampu memanfaatkan momentum ini dengan memperkuat fondasi industri hijau yang berdaya saing dan berorientasi ekspor,” ujar Budi melalui keterangannya, Minggu (12/10/2025).
Selain fokus pada penguatan industri, Budi juga menyoroti pentingnya memperkuat sistem perdagangan multilateral yang adil dan inklusif.
“Dunia sedang bergerak menuju ekonomi hijau. Negara berkembang harus mampu memanfaatkan momentum ini dengan memperkuat fondasi industri hijau yang berdaya saing dan berorientasi ekspor,” ujar Budi melalui keterangannya, Minggu (12/10/2025).
Selain fokus pada penguatan industri, Budi juga menyoroti pentingnya memperkuat sistem perdagangan multilateral yang adil dan inklusif.
Menurutnya, sistem perdagangan global saat ini tengah diuji oleh meningkatnya rivalitas geopolitik serta ketegangan perdagangan antarnegara besar.
Dalam situasi seperti ini, kerja sama dan solidaritas antarnegara menjadi sangat penting untuk menjaga stabilitas ekonomi dunia.
Ia menegaskan bahwa negara-negara berkembang tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika global tersebut. Sebaliknya, mereka harus memperkuat fondasi domestik agar kebijakan ekonomi nasional mampu beradaptasi terhadap perubahan global.
Ia menegaskan bahwa negara-negara berkembang tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika global tersebut. Sebaliknya, mereka harus memperkuat fondasi domestik agar kebijakan ekonomi nasional mampu beradaptasi terhadap perubahan global.
“Kebijakan strategis yang kuat dan terukur harus menjadi landasan agar kita tidak mudah goyah menghadapi gejolak eksternal,” tegas Budi.
Dalam pandangannya, kekuatan ekonomi sejati harus dibangun dari dalam negeri. Hal itu bisa diwujudkan melalui kebijakan ekonomi yang sehat, penguatan konektivitas regional, serta kolaborasi lintas negara yang produktif.
Dalam pandangannya, kekuatan ekonomi sejati harus dibangun dari dalam negeri. Hal itu bisa diwujudkan melalui kebijakan ekonomi yang sehat, penguatan konektivitas regional, serta kolaborasi lintas negara yang produktif.
Menurutnya, integrasi perdagangan regional seperti yang dilakukan di kawasan ASEAN telah terbukti mampu menjadi jangkar stabilitas dan basis produksi utama di berbagai sektor industri.
Budi menilai ASEAN saat ini telah menunjukkan peran strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional yang resilien di tengah ketidakpastian global. Ia mendorong agar model kerja sama serupa terus diperluas, baik dalam konteks rantai pasok maupun investasi lintas negara.
Budi menilai ASEAN saat ini telah menunjukkan peran strategis sebagai pusat pertumbuhan ekonomi regional yang resilien di tengah ketidakpastian global. Ia mendorong agar model kerja sama serupa terus diperluas, baik dalam konteks rantai pasok maupun investasi lintas negara.
“Integrasi regional yang kuat akan memperkokoh daya saing kawasan sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas,” katanya.
Menutup pernyataannya, Budi mengingatkan bahwa tantangan global saat ini menuntut kewaspadaan dan kebijakan yang adaptif. Ia menegaskan bahwa dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia, kesiapan menjadi kunci utama.
Menutup pernyataannya, Budi mengingatkan bahwa tantangan global saat ini menuntut kewaspadaan dan kebijakan yang adaptif. Ia menegaskan bahwa dalam menghadapi ketidakpastian ekonomi dunia, kesiapan menjadi kunci utama.
“Di tengah turbulensi ekonomi dan tekanan global, harapan bukanlah strategi, namun kesiapan adalah jawabannya,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










