Akurat

Optimalisasi Aset, Bulog Hadirkan Kawasan Bisnis Beloft di Kelapa Gading

Hefriday | 2 Oktober 2025, 17:13 WIB
Optimalisasi Aset, Bulog Hadirkan Kawasan Bisnis Beloft di Kelapa Gading

AKURAT.CO Perum Bulog mulai mengoptimalkan aset perusahaan senilai total Rp53 triliun agar memberi manfaat nyata bagi bangsa dan negara.

Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa setiap pemanfaatan aset dilakukan sesuai regulasi pemerintah, khususnya Kementerian Keuangan, agar tetap akuntabel dan transparan. 

“Aset Bulog itu totalnya Rp53 triliun. Besar sekali. Sayang kalau tidak diberdayakan. Tapi semua hasilnya kembali untuk keuntungan bangsa dan negara,” ujarnya saat peluncuran Beloft Kawasan Bulog Business District di Jakarta, Kamis (2/10/2025).

Salah satu langkah nyata yang dilakukan Bulog adalah merevitalisasi aset lama. Gudang Goro di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang sebelumnya kurang termanfaatkan, kini disulap menjadi kawasan bisnis modern bernama Beloft.
 
Baca Juga: Bulog Ingin Diperluas Kewenangannya, Kelola Cadangan Gula Pemerintah

Lahan seluas empat hektar itu diubah menjadi Bulog Business District, dengan dua hektar lahan sudah aktif digunakan, sementara dua hektar lainnya masih terbuka untuk kolaborasi dengan dunia usaha.
 
Kawasan ini diharapkan menjadi ikon baru yang dapat menggaungkan nama Bulog bukan hanya di sektor pangan, tetapi juga sebagai pusat bisnis strategis.

Bulog membuka ruang kerja sama seluas-luasnya dengan pengusaha dari berbagai daerah untuk mengembangkan aset yang belum optimal. 
 
“Silakan teman-teman pengusaha dari seluruh tanah air bisa bersinergi dengan Bulog untuk mengembangkan aset sesuai aturan. Tidak menyalahi hukum, dan manfaatnya jelas untuk negara,” ujar Rizal.

Untuk memfasilitasi hal itu, Bulog telah membentuk divisi khusus yang menangani aset-aset non-produktif. Divisi ini bertugas menginventarisasi aset, menyusun daftar lahan potensial, dan memfasilitasi komunikasi dengan pihak swasta yang berminat berkolaborasi.

Rizal menargetkan Bulog Business District tidak hanya berhenti di Kelapa Gading, melainkan akan berkembang ke berbagai daerah di Indonesia. 
 
“Text line-nya adalah Bulog Business District. Jadi nanti, di mana pun ada kawasan Bulog, orang akan tahu ini pusat bisnis baru. Jadi betul-betul menjadi ikon,” katanya.

Bulog menilai langkah ini sejalan dengan strategi pemerintah dalam mendorong BUMN agar lebih adaptif menghadapi dinamika ekonomi. Dengan mengubah aset tidur menjadi kawasan bisnis, Bulog berharap mampu menciptakan nilai tambah ekonomi yang berkelanjutan.

Meski masuk ke ranah bisnis, Rizal memastikan setiap keputusan pengelolaan aset tidak dilakukan sepihak. Semua pemanfaatan wajib melalui keputusan rapat direksi serta izin pimpinan. 
 
“Ini agar jelas, transparan, dan tidak dimanfaatkan untuk keuntungan pribadi atau kelompok tertentu,” tegasnya.

Bulog juga menggandeng aparat penegak hukum, termasuk TNI dan Polri, untuk ikut menjaga dan mengawasi keberlangsungan aset vital tersebut. Dengan begitu, transformasi ini diharapkan berjalan tanpa hambatan dari sisi keamanan maupun hukum.

Optimalisasi aset non-produktif bisa menjadi sumber pendapatan baru bagi Bulog, sekaligus mendukung perekonomian nasional tanpa mengurangi fokus utamanya di sektor pangan.

Selain meningkatkan pendapatan, strategi ini juga diyakini mampu membuka lapangan kerja baru, mendorong investasi, serta menciptakan pusat pertumbuhan ekonomi di daerah-daerah yang memiliki aset Bulog.

Ke depan, Bulog berharap model bisnis Beloft bisa direplikasi ke wilayah lain. Dengan total aset Rp53 triliun, potensi pengembangan kawasan bisnis Bulog dinilai sangat besar. Semua hasil pengelolaan akan dikembalikan untuk mendukung program negara, terutama dalam menjaga ketersediaan dan stabilisasi pangan.

“Bulog ingin memastikan bahwa aset yang ada tidak hanya menjadi angka di neraca, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat luas. Itu tujuan utama,” tukas Rizal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Yosi Winosa