Generasi Z Didorong Jadi Penggerak Transformasi Industri Nasional

AKURAT.CO Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin), Faisol Riza mengajak generasi Z untuk bersiap membangun masa depan industri nasional.
Menurutnya, anak muda kelahiran 1997–2012 itu memiliki posisi strategis dalam keberlanjutan sektor manufaktur yang tengah bertransformasi menuju arah yang lebih modern dan berdaya saing global.
“Sebagai kelompok usia produktif yang adaptif terhadap teknologi dan inovasi, mereka memiliki potensi besar dalam mendorong transformasi industri menuju arah yang lebih kreatif, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Faisol dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Rabu (24/92025).
Baca Juga: Kemendag: Penonaktifan Fitur Live Tiktok dan IG Tak Ganggu E-Commerce
Gen Z saat ini merupakan angkatan kerja muda yang jumlahnya signifikan di Indonesia. Dengan karakter yang akrab dengan teknologi digital, generasi ini dianggap mampu mengakselerasi agenda modernisasi industri.
Faisol menekankan, kemampuan mereka dalam beradaptasi dengan perubahan teknologi serta pola pikir yang terbuka sangat dibutuhkan di tengah kompetisi global.
Untuk mendorong partisipasi aktif anak muda, Kementerian Perindustrian menyelenggarakan Industrial Festival 2025, sebuah ajang tahunan yang secara khusus dirancang untuk mendekatkan generasi muda dengan dunia industri.
“Industrial Festival ini adalah wadah inspiratif bagi generasi muda mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan, baik di dunia kerja maupun dalam peran sosial mereka di masyarakat,” ujarnya.
Industrial Festival tahun ini secara khusus menargetkan generasi Z sebagai peserta utama. Kehadiran mereka diharapkan mampu menjadi energi baru bagi ekosistem industri nasional yang sedang bergerak menuju modernisasi.
Baca Juga: UMKM Pangan Naik Kelas, Masuk Ritel Modern Lewat Program Kemendag
“Generasi muda adalah aset masa depan industri nasional. Melalui Industrial Fest, kami ingin membangkitkan minat mereka terhadap dunia industri, menanamkan semangat inovasi, dan membangun jejaring kolaboratif lintas sektor,” tutur Faisol.
Salah satu kegiatan unggulan dalam Industrial Festival 2025 adalah factory tour atau kunjungan pabrik. Tahun ini, peserta diajak meninjau langsung proses produksi di PT Nutricia Indonesia Sejahtera, Jakarta Timur, yang bergerak di bidang pengolahan susu.
Dalam kunjungan tersebut, peserta yang berasal dari Politeknik STMI Jakarta dan Politeknik APP Jakarta mendapatkan pengalaman nyata mengenai bagaimana sebuah industri makanan dan minuman (mamin) dikelola secara modern.
Mereka diperkenalkan pada standar mutu, alur produksi, hingga aspek keamanan pangan yang ketat.
Faisol menyebut kegiatan ini sebagai sarana edukatif yang penting, terutama bagi mahasiswa vokasi yang kelak menjadi bagian dari tenaga kerja industri.
“Kami optimistis, kunjungan pabrik ini akan memperkaya wawasan mahasiswa tentang dunia kerja industri, sehingga mereka lebih siap mengembangkan keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan di lapangan,” katanya.
Dirinya berharap Industrial Festival tidak hanya menjadi acara tahunan, tetapi juga momentum lahirnya lebih banyak talenta muda yang siap menghadapi perubahan global, memperkuat daya saing nasional, dan membawa Indonesia menuju masa depan industri berdaya saing tinggi.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, menegaskan peran strategis sektor makanan dan minuman (mamin) dalam perekonomian nasional.
Menurutnya, subsektor ini telah konsisten memberikan kontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Data menunjukkan, industri mamin tumbuh sebesar 6,15% pada triwulan II-2025, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya 5,12%.
Kontribusi industri mamin terhadap PDB industri pengolahan nonmigas juga dominan, yakni mencapai 41%, menjadikannya subsektor dengan sumbangan tertinggi.
“Sektor industri mamin telah menjadi motor utama pertumbuhan industri pengolahan nonmigas. Selain mendominasi pangsa pasar, sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar serta berperan penting dalam mendorong ekspor,” jelas Merri.
Lebih lanjut, Merri menambahkan bahwa kinerja ekspor industri mamin juga terus menguat. Hingga Juni 2025, ekspor subsektor ini mencapai USD23,05 miliar, termasuk dari minyak kelapa sawit. Dari angka tersebut, kontribusi industri mamin terhadap total ekspor industri pengolahan nonmigas mencapai 21,57% dari total USD106,84 miliar.
Di sisi investasi, pertumbuhan signifikan juga terlihat. Total investasi di industri mamin pada triwulan II-2025 mencapai Rp53,17 triliun, yang terdiri dari penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp18,98 triliun dan penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp34,19 triliun.
“Data ini mencerminkan bahwa sektor mamin tetap menjadi magnet bagi investor, baik domestik maupun internasional,” ujarnya.
Dengan capaian tersebut, Faisol menekankan pentingnya regenerasi tenaga kerja industri yang kompeten.
Menurutnya, keberhasilan industri mamin dan subsektor manufaktur lainnya tidak bisa dilepaskan dari ketersediaan sumber daya manusia yang terampil dan adaptif.
“Generasi Z harus melihat bahwa industri bukan hanya dunia kerja, tetapi juga ruang besar untuk berkreasi, berinovasi, dan berkontribusi pada pembangunan bangsa. Mereka adalah kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga pemain utama di kancah industri global,” ujarnya.
Kementerian Perindustrian menegaskan akan terus memperluas program-program yang mampu menjembatani generasi muda dengan dunia industri.
Melalui kegiatan edukasi, festival, hingga kerja sama lintas sektor, pemerintah berharap tercipta ekosistem yang sehat bagi lahirnya talenta baru.
“Dengan kombinasi semangat generasi muda, dukungan kebijakan pemerintah, dan kekuatan industri nasional, kami yakin Indonesia mampu mencapai visi sebagai negara industri tangguh yang berdaya saing tinggi,” tutup Faisol.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










