Akurat

Indonesia Soroti Potensi NEV di Forum Industri ASEAN–China

Dedi Hidayat | 19 September 2025, 13:20 WIB
Indonesia Soroti Potensi NEV di Forum Industri ASEAN–China

AKURAT.CO Kementerian Perindustrian RI yang diwakili oleh Wakil Menteri Perindustrian RI Faisol Riza menghadiri ASEAN–China Industry Ministerial Roundtable Meetingyang berlangsung di Nanning, China.

Pertemuan tersebut menegaskan komitmen Indonesia dalam mendorong kerja sama sektor industri yang lebih erat, sejalan dengan Nanning Initiatives yang mendapat dukungan dari Negara Anggota ASEAN dan China.

Dalam sambutannya, Faisol yang mewakili Menteri Perindustrian RI menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah China atas terselenggaranya pertemuan tingkat Menteri Industri ASEAN–China yang pertama kali.

Baca Juga: Kemenperin Gandeng TMMIN Ubah Limbah Sawit Jadi Energi Berkelanjutan

“Pertemuan ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat kerja sama industri ASEAN–China. Setelah adanya Shenzhen Initiative on Cooperation in Emerging Industries pada 2023, kini kita bersama-sama memberikan dukungan terhadap Nanning Initiative sebagai wujud komitmen untuk membangun komunitas ASEAN–China yang lebih erat dengan masa depan bersama,” kata Faisol dikutip, Jumat (19/9/2025).

Faisol menegaskan, Indonesia sebagai salah satu kekuatan industri di ASEAN berkomitmen terhadap industrialisasi yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing global.

Tema ASEAN 2025 “Inclusivity and Sustainability” juga menjadi pijakan Indonesia dalam mendorong kerja sama regional.

Faisol pun menyoroti transformasi digital sebagai salah satu prioritas, mengingat ekonomi digital ASEAN diproyeksikan meningkat dari USD300 miliar menjadi USD2 triliun pada 2030.

“Kami berharap China membuka kesempatan bagi ASEAN untuk berkolaborasi dalam meningkatkan infrastruktur digital dan menjembatani kesenjangan digital,” tutur Faisol.

Selain itu, Faisol juga menyampaikan arah kebijakan industri nasional yang terangkum dalam Strategi Baru Industrialisasi Nasional (SBIN).

Terdapat empat pilar utama dalam kebijakan tersebut. Pertama, akselerasi hilirisasi sumber daya alam, khususnya mineral strategis seperti nikel, tembaga, dan bauksit.

Kedua, pembangunan industri hijau, sejalan dengan target net zero emission 2060 melalui transisi energi bersih dan pengembangan kawasan industri rendah karbon.

Baca Juga: Kemenperin Dorong IKM Hilirisasi Kemenyan

Ketiga, transformasi digital industri melalui Making Indonesia 4.0. Keempat, penguatan SDM industri berbasis kompetensi, termasuk pendidikan vokasi dan platform pembelajaran digital.

“Kolaborasi yang saling menguntungkan menjadi kunci menjaga ketahanan rantai pasok dan daya saing kawasan. Dengan kontribusi sektor industri sekitar 35% terhadap PDB ASEAN dan 16,92% terhadap PDB Indonesia pada triwulan II 2025, serta kinerja ekspor manufaktur yang mencapai USD 128,13 miliar atau 80% dari total ekspor nasional, sektor ini terbukti menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi,” ungkap Faisol.

Faisol juga menekankan bahwa Nanning Initiatives tidak boleh berhenti pada tataran rekomendasi semata.

Selain pertemuan utama, dalam rangkaian agenda juga diadakan courtesy meeting singkat antara seluruh kepala delegasi ASEAN dan China yang dipimpin oleh Menteri Industri dan Teknologi Informasi China, Li Lecheng, dengan didampingi oleh Chairperson of Guangxi Zhuang Autonomous Region.

Faisol turut menyampaikan potensi besar yang dimiliki Indonesia untuk menjadi hub dalam rantai pasok global untuk Kendaraan Energi Baru (New Energy Vehicle/NEV).

Dengan cadangan mineral yang melimpah seperti nikel, kobalt, dan timah, Indonesia berada di posisi strategis untuk memainkan peran penting di segmen hulu industri NEV.

Potensi ini tidak hanya memperkuat posisi ekonomi kawasan tetapi juga mendukung transisi energi global menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

“Saya berharap Forum ASEAN-China ini dapat menjadi katalisator bagi inovasi dan sinergi yang lebih besar di tahun-tahun mendatang,” tutur Faisol.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.