Akurat

Mengurai Akar Masalah Kelangkaan BBM Swasta

Andi Syafriadi | 19 September 2025, 07:40 WIB
Mengurai Akar Masalah Kelangkaan BBM Swasta

AKURAT.CO Kelangkaan pasokan bahan bakar minyak (BBM) terjadi di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang dikelola oleh perusahaan swasta seperti Shell dan BP-AKR.

Menurut catatan Akurat, kelangkaan di SPBU milik Shell Cs terjadi sejak akhir bulan Agustus 2025. Dimana saat itu, beberapa pom pengisian BBM tidak menyediakan jenis BBM Ron 92 sampai 98 dan hanya menyediakan BBM jenis diesel.

Kelangkaan ini dibenarkan oleh perwakilan dari Shell dan BP. Kedua perwakilan tersebut kompak menyebut bahwa pasokan ke beberapa SPBU memang menipis.

Bahkan, Shell mengungkapkan bahwa beberapa SPBU hanya melayani pergantian oli dan spare part saja.

Adanya laporan kelangkaan pasokan BBM di SPBU swasta langsung direspon oleh pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Baca Juga: ESDM: Operasional PT Gag Nikel Hanya untuk Audit Lingkungan

Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung mengatakan kelangkaan stok BBM di SPBU swasta dikarenakan tingginya permintaan yang terjadi sejak bulan Februari lalu.

Selain itu, habisnya stok ini disinyalir karena adanya peralihan (shifting) dari BBM subsidi ke non-subsidi. ESDM mencatat, sampai dengan saat ini adanya shifting sebesar 1,4 juta kiloliter.

Tentunya, shifting tersebut menjadi salah satu penyebab habisnya stok di SPBU swasta karena masyarakat beralih dari SPBU Pertamina ke SPBU swasta.

“Jadi ini terjadi peningkatan. Menurut hitungan kami shifting yang terjadi itu sekitar 1,4 juta kiloliter,” kata Yuliot beberapa waktu lalu.

ESDM Wacanakan Impor Satu Pintu Lewat Pertamina

Berkurangnya pasokan BBM di SPBU swasta membuat mereka harus melakukan kegiatan impor lagi agar stok kembali normal.

Namun, impor BBM tidak bisa dilakukan secara serampangan, karena ada aturan yang mengatur hal tersebut.

Baca Juga: ESDM Siapkan PLTS 100 GW di 80.000 Koperasi Merah Putih

Apalagi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa pemerintah telah memberikan tambahan alokasi bahan bakar minyak (BBM) bagi perusahaan swasta di luar Pertamina.

Menurutnya, alokasi tersebut cukup besar, yakni sebesar 100% kuota tahun 2024 ditambah 10% di tahun 2025.

Hal tersebut pun ditegaskan kembali oleh Bahlil,. Dia menjelaskan apabila masih ada kebutuhan tambahan, perusahaan swasta dapat melakukan kerja sama business to business (B2B) dengan PT Pertamina (Persero).

"Kalau mau minta lebih, ini kan menyangkut dengan hajat hidup orang banyak. Ini cabang-cabang industri. Kalau mau lebih silakan berkolaborasi dengan Pertamina. Kenapa Pertamina? Pertamina itu representasi negara," ujarnya.

Baca Juga: Kementerian ESDM Masih Siapkan Desain Proyek Pembangunan PLTS 100 GW

Maka dari itu, ESDM membuat rencana agar SPBU swasta yang membutuhkan bahan baku dapat melalukan impor lewat Pertamina atau satu pintu lewat Pertamina.

Senada dengan Bahlil, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman mengatakan saat ini pihaknya meminta data dari SPBU swasta terkait kebutuhan BBM.

Nantinya, data tersebut akan dicocokan dengan stok yang berada di kilang Pertamina. Jika stok tidak bisa memenuhi kebutuhan, impor akan dilakukan oleh PT Pertamina.

Soal harga jual dari PT Pertamina, Laode menyerahkan sepenuhnya negosiasi antarpihak terkait. Menurutnya, persoalan harga merupakan urusan business-to-business dan pemerintah tidak berhak ikut campur pada hal tersebut.

"Business-to-Business aja, kita tidak bicara lebih mahal atau lebih murah. Business-to-business kan harus ada keuntungan dari masing-masing badan usaha yang beroperasi," tutur Laode.

Bukan Praktik Monopoli!

Di tengah isu kelangkaan pasokan BBM yang menimpa SPBU swasta, PT Pertamina (Persero) membantah adanya praktik monopoli.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri mengatakan bahwa terkait dengan kelangkaan pasokan BBM pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan juga badan usaha swasta.

Karena itu, Simon membantah adanya monopoli yang terjadi di tengah kelangkaan pasokan BBM yang menimpa SPBU swasta.

Lebih lanjut, Simon menyebut alokasi kuota impor yang ditetapkan pemerintah melalui Kementerian ESDM dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) diberikan sesuai kebutuhan masing-masing badan usaha.

Dirinya menambahkan, alokasi impor bagi badan usaha swasta pun telah diberikan sesuai permintaan, tidak hanya untuk Pertamina.

“Tentunya kalau kita lihat juga, kita cek saat ini untuk yang swasta itu alokasinya juga sudah sesuai dengan permintaan. Begitu juga Pertamina,” ucap Simon.

Apapun Itu, Pertamina Wajib Lakukan Reformasi!

Sementara itu, adanya kelangkaan di SPBU swasta menjadi momen emas bagi PT Pertamina untuk melakukan reformasi.

Direktur eksekutif CORE Indonesia, Mohammad Faisal menilai PT Pertamina (Persero) perlu memperkuat strategi komunikasi dan kualitas produk untuk merebut kembali kepercayaan konsumen yang kini cenderung memilih Shell atau BP.

Faisal menekankan bahwa kalangan menengah atas lebih mementingkan kualitas dibanding harga.

Baca Juga: Pertamina Temukan 724 Juta Barel Migas Baru di Blok Rokan

Untuk merebut kembali pasar tersebut, Faisal menekankan dua langkah utama. Pertama, memperbaiki tata kelola dan membangun komunikasi publik yang strategis.

Kedua, memastikan kualitas produk benar-benar terjaga. Ia menyarankan Pertamina tidak hanya mengandalkan komunikasi, tetapi juga menawarkan varian BBM yang lebih sesuai dengan ekspektasi konsumen kelas menengah atas.

“Istilahnya ini membangun satu brand yang baru atau mungkin juga brand yang sudah ada tapi dengan marketing dan juga kalau memang dia kualitasnya sudah bagus berarti juga dengan marketing tentang keunggulannya dari sisi kualitas,” tutur Faisal.

Senada dengan Faisal, Direktur Eksekutif ReforMiner Institute, Komaidi Notonegoro menilai Pertamina perlu mereformasi layanan di SPBU mereka.

Baca Juga: Pelita Air Berpeluang Merger dengan Garuda, Pertamina Lakukan Spin Off

Komaidi menyebut bahwa kualitas BBM Pertamina pada dasarnya setara dengan produk sejenis dari perusahaan lain.

Komaidi pun menyampaikan adanya peralihan konsumen menjadi momentum bagi Pertamina untuk menghadirkan produk dengan performa setara atau lebih baik dari pesaingnya.

Salah satunya, Komaidi menekankan bahwa pertamina perlu mengupgrade layanan yang diberikan mereka di SPBUnya.

“Di SPBU non-Pertamina biasanya lebih welcome. Misalnya ditawari membersihkan kaca, membantu membuang sampah kecil, atau menyemir roda. Hal sederhana seperti itu membuat konsumen merasa diperhatikan,” pungkas Komaidi.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.