Akurat

STM Catat Pertumbuhan Pendapatan 12,46% pada Semester I 2025

Hefriday | 1 September 2025, 13:40 WIB
STM Catat Pertumbuhan Pendapatan 12,46% pada Semester I 2025

AKURAT.CO PT Sinar Terang Mandiri Tbk (MINE) atau STM berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan usaha sebesar 12,46% pada Semester I 2025.

Perusahaan jasa penunjang pertambangan itu mencatatkan pendapatan Rp1,15 triliun, naik dari Rp1,02 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Direktur Utama STM, Ivo Wangarry, menjelaskan bahwa kinerja positif tersebut sejalan dengan meningkatnya aktivitas operasional di sejumlah proyek serta kontribusi dari kontrak-kontrak baru yang diraih sejak awal tahun. Ia menegaskan, capaian ini menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan usaha.

Baca Juga: Komisi XI Usul Turunkan PPN Jadi 10% untuk Jaga Daya Beli Rakyat

“Kami menjaga momentum pertumbuhan dan memperkuat posisi STM sebagai mitra strategis di sektor jasa penunjang pertambangan. Kepercayaan yang diberikan kepada STM menjadi modal penting dalam menjalankan ekspansi dan peningkatan kapabilitas operasional,” ujar Ivo dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin (1/9/2025).

Pertumbuhan pendapatan itu ditopang oleh dua kontrak strategis. Pertama, kerja sama dengan PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) untuk pengelolaan jasa penunjang pertambangan dan jasa pengangkutan material.

Kedua, kontrak Proyek Sampala bersama PT Erabaru Timur Lestari untuk pembangunan jalan hauling sepanjang delapan kilometer.

Dua kontrak baru tersebut semakin memperluas portofolio bisnis STM dan mempertegas posisinya sebagai mitra terpercaya di industri jasa penunjang pertambangan. Langkah ekspansi itu juga mendorong peningkatan investasi dalam bentuk pengadaan alat berat, pembangunan infrastruktur pendukung, hingga perekrutan tenaga kerja baru.

Sejalan dengan ekspansi, nilai aset STM per 30 Juni 2025 meningkat 24,5% menjadi Rp2 triliun, dari Rp1,61 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Namun, kenaikan skala operasional juga berdampak pada struktur biaya perusahaan.

Beban tenaga kerja tercatat naik 33,09% menjadi Rp161,64 miliar dari Rp121,45 miliar. Sementara itu, beban pokok pendapatan mencapai Rp929,59 miliar, lebih tinggi dibanding Rp768,81 miliar pada tahun lalu.

Baca Juga: Rumah Dijarah, Sri Mulyani Tegaskan Komitmen Integritas dan Transparansi

Kondisi tersebut membuat laba bersih periode berjalan terkoreksi menjadi Rp116,99 miliar pada Semester I 2025, dibandingkan Rp145,54 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selain itu, beban penyusutan aset tetap juga meningkat signifikan, dari Rp89 miliar pada Semester I 2024 menjadi Rp155,46 miliar tahun ini. Peningkatan itu terjadi akibat depresiasi alami alat berat yang intensif digunakan dalam berbagai proyek. Menurut manajemen, kondisi ini mencerminkan tingginya tingkat utilisasi aset perusahaan.

Meski laba bersih mengalami penurunan, Ivo menegaskan kenaikan biaya operasional justru merupakan bentuk investasi strategis.

“Kenaikan biaya dari ekspansi bukan kami pandang sebagai beban, melainkan investasi, baik dalam penguatan SDM maupun penambahan alat berat. Dengan kapasitas yang semakin besar, STM semakin siap mengelola proyek baru sekaligus meningkatkan produktivitas,” jelasnya.

Lebih jauh, Ivo menekankan bahwa kontrak baru bersama PT Sulawesi Cahaya Mineral dan Proyek Sampala menjadi bukti pengakuan pasar atas kapabilitas STM. Ia optimistis keberadaan proyek berskala besar akan memperkuat portofolio sekaligus membuka ruang pertumbuhan lebih luas.

Dengan kinerja semester pertama 2025, STM yakin strategi ekspansi, pertumbuhan aset, serta peningkatan investasi pada SDM dapat menjaga kesinambungan usaha.

“Fokus kami adalah menciptakan pertumbuhan berkelanjutan di sektor jasa penunjang pertambangan dan memberikan nilai tambah jangka panjang bagi pemegang saham serta seluruh pemangku kepentingan,” pungkas Ivo.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi