Mentan Pastikan Beras SPHP Rusak Bisa Ditukar di Bulog

AKURAT.CO Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir apabila menemukan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) yang rusak.
Pemerintah memberi jaminan, beras tersebut bisa langsung ditukar ke Perum Bulog, meski kemasan sudah terbuka.
“Kalau ditemukan beras yang rusak, tukar saja langsung. Meskipun kemasannya sudah dibuka, berasnya rusak, langsung tukar. Diganti oleh Bulog,” ujar Amran dalam acara Gerakan Pangan Murah (GPM) di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Sabtu (30/8/2025).
Baca Juga: Kementan Temukan Beras Premium Palsu, Oplosan Capai 59 Persen
Amran menegaskan, semua beras hasil produksi petani Indonesia memiliki kualitas baik. Menurutnya, jika ditemukan masalah pada beras yang beredar di masyarakat, kemungkinan besar berasal dari faktor penyimpanan, bukan dari produksi.
“Ini (penukaran beras) diskresi saya sebagai menteri, karena kami produksi semua beras kualitasnya baik. Mungkin penyimpanannya yang bermasalah,” katanya.
Sementara itu, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani melaporkan penyaluran beras SPHP pada 29 Agustus 2025 mencapai 6 ribu ton dalam sehari. Angka tersebut disebut sebagai realisasi distribusi tertinggi dalam beberapa waktu terakhir.
Hingga Sabtu pagi, total penyaluran beras SPHP tercatat 43.665 ton.
“Sampai dengan pagi hari ini, yang sudah memesan ke Bulog dan mengambil beras, totalnya 43.665 ton. Penyaluran hari ini merupakan yang tertinggi dari rata-rata realisasi harian kami,” kata Rizal.
Baca Juga: KPK Periksa Auditor BPK Terkait Kasus TPPU di Kementan
Program SPHP sendiri dirancang pemerintah untuk menjaga stabilitas harga beras di pasaran. Dengan harga yang lebih terjangkau, beras SPHP diharapkan menjadi alternatif bagi masyarakat di tengah tren kenaikan harga beras premium maupun medium.
Meski demikian, isu kualitas beras SPHP sempat menjadi sorotan. Pengurus Pusat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Khudori menilai sebagian stok beras Bulog sudah berusia lebih dari satu tahun sehingga berpotensi menimbulkan bau apek.
Selain itu, beras hasil penyerapan gabah lokal dengan kualitas beragam cenderung tidak tahan lama. Kondisi ini dinilai dapat memengaruhi penerimaan masyarakat terhadap beras SPHP apabila kualitas tidak dijaga dengan baik.
Menurut Khudori, beras SPHP tetap memiliki potensi besar untuk menstabilkan pasar, terutama ketika pasokan beras di ritel modern menipis. Namun ia menekankan pentingnya memastikan kualitas agar beras tersebut dapat diterima dengan baik oleh pedagang maupun konsumen.
“Jika kualitas beras SPHP terjaga, distribusi akan lebih lancar dan efektivitas program bisa meningkat,” ujarnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










