JMFW 2026 Bidik Transaksi Rp162,71 Miliar
Hefriday | 12 Agustus 2025, 20:34 WIB

AKURAT.CO Kementerian Perdagangan (Kemendag) akan menggelar Jakarta Muslim Fashion Week (JMFW) 2026 pada 6–9 November 2025 di Balai Sarbini, Jakarta. Ajang tahunan ini menargetkan transaksi sebesar USD10 juta atau sekitar Rp162,71 miliar dengan mengacu kurs Rp16.271 per USD.
Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kemendag, Fajarini Puntodewi, optimistis realisasi transaksi dapat melampaui target. Optimisme ini mengacu pada capaian tahun lalu, dimana JMFW di ICE BSD mencatat transaksi senilai USD20,4 juta, jauh melampaui target USD3 juta.
“Tahun lalu kami menargetkan USD3 juta, tapi realisasinya menembus USD20,4 juta. Untuk 2026, targetnya USD10 juta, namun harapan kami bisa kembali melampaui capaian sebelumnya,” ujar Fajarini saat peluncuran JMFW 2026 di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (12/8/2025).
Dirinya menjelaskan, pemilihan Balai Sarbini sebagai lokasi acara dinilai strategis karena mudah diakses oleh para pemangku kepentingan. Kemendag menargetkan penyelenggaraan kali ini dapat menjangkau audiens yang lebih luas dan memberi dampak ekonomi lebih besar.
“Kami memilih Balai Sarbini karena lokasinya dekat, strategis, dan mudah dijangkau semua pihak. Harapannya, JMFW terus berkembang dan memberi manfaat nyata bagi industri fesyen muslim,” jelasnya.
JMFW menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat industri halal dan kiblat modest fashion dunia. Acara ini akan menampilkan koleksi para pelaku usaha busana muslim yang telah melalui proses seleksi ketat, dengan fokus pada tren fesyen tahun 2026.
“Kami menamakannya JMFW 2026 meski digelar di 2025, karena yang dipamerkan adalah tren mode tahun depan. Harapan kami, ajang ini dapat memberikan nilai tambah ekonomi sekaligus meningkatkan daya saing industri fesyen muslim Tanah Air,” tambah Fajarini.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, yang turut hadir dalam acara peluncuran menjelaskan, JMFW 2026 mengusung tema “Essential Lab”. Tema ini dimaknai sebagai simbol bahwa JMFW berperan layaknya laboratorium, tempat merumuskan dan menguji arah tren fesyen muslim nasional.
“Ibarat kita pergi ke laboratorium, kita akan tahu kondisi kesehatan kita. Sama halnya dengan tema Essential Lab, tujuannya untuk mengukur dan memastikan industri tekstil hidup, UMKM tumbuh, dan sektor fesyen berkembang,” tutur Budi.
Budi menekankan pentingnya menciptakan ekosistem fesyen muslim yang terintegrasi, mulai dari produsen tekstil, pelaku UMKM, hingga konsumen. Menurutnya, dengan mengetahui tren lebih awal, pelaku industri bisa menyesuaikan produk dan strategi pemasaran agar lebih tepat sasaran.
“Kalau trennya sudah jelas, masyarakat akan tertarik memakainya. Dampaknya, industri tekstil berkembang, UMKM naik kelas, daya beli meningkat, dan pada akhirnya seluruh ekosistem berjalan dengan baik,” tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









