Danantara Jajaki Investasi di Proyek Baterai EV CATL
Camelia Rosa | 30 Juni 2025, 19:13 WIB

AKURAT.CO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) masih mengkaji proyek pabrik baterai kendaraan listrik Konsorsium ANTAM-IBC-CBL, anak usaha Contemporary Amperex Technology Co. Ltd. (CATL).
Hal ini diungkapkan Chief Investment Office (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir.
Namun demikian dirinya mengaku membuka peluang selebar-lebarnya bagi Danantara untuk ikut mengucurkan dana segar dalam proyek yang memiliki nilai investasi sebesar USD5,9 Miliar tersebut.
"Kalau dari sisi kami (Danantara), kami pasti evaluasi proyek-proyek seperti ini. Ini kan bagus banyak nilai tambahnya, (ada) job creation-nya," jelas Pandu, dikutip Senin (30/6/2025).
Ia juga menilai, dengan adanya sejumlah nilai tambah, proyek ini tentunya menjadi proyek strategis yang bagus untuk didanai oleh Danantara.
Baca Juga: Bahlil Bongkar Alasan RI Gandeng Perusahaan China CATL di Proyek Ekosistem Baterai EV Karawang
Oleh sebab itu, dirinya meminta masyarakat menunggu keputusan apakah Danantara akan mengucurkan pembiayaan atau tidak.
"Dan semuanya secara komersial kita akan liat. Tapi ini bagus.Belum. Nanti kita umumkan (keputusan pembiayaan)," tandas Pandu.
Untuk informasi, Proyek Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi Konsorsium Antam-IBC-CBL merupakan ekosistem baterai berbasis nikel terintegrasi pertama di dunia dan terbesar di Asia Tenggara.
Ekosistem ini mulai dari pertambangan nikel di Halmahera Timur hingga produksi baterai kendaraan listrik di Karawang.
Proyek ini merupakan bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) dan mencakup area seluas 3.023 hektar serta mampu menyerap 35.000 tenaga kerja langsung, pertumbuhan ekonomi lokal, dan 18 proyek infrastruktur dermaga multifungsi.
Secara keseluruhan, proyek ini akan memiliki kapasitas produksi baterai kendaraan listrik sebesar 6,9 GWh yang kemudian akan ditingkatkan menjadi 15 GWh.
Hal ini akan mengokohkan posisi Indonesia sebagai produsen baterai kendaraan listrik terbesar di Asia Tenggara.
Nantinya, industri baterai listrik terintegrasi ini diproyeksikan dapat menyuplai 300.000 mobil serta dapat mengurangi impor BBM hingga 300.000 kilo liter setiap tahunnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










