Memajukan Kesehatan di Pedesaan Indonesia Lewat Local Heroes

AKURAT.CO Masih dalam momen Pekan Imunisasi Dunia belum lama ini, Indonesia menyoroti sebuah kisah inspiratif tentang transformasi kesehatan yang digerakkan oleh masyarakat di pedalaman.
Memberikan pendidikan kesehatan di daerah-daerah seperti ini selalu menjadi tantangan—akses informasi yang terbatas dan kepercayaan budaya yang sudah lama dianut seringkali menghambat kemajuan.
Namun, ada sesuatu yang berubah ketika pesan tersebut datang dari seseorang yang Anda percaya-seperti tetangga yang ramah dan juga berperan sebagai kader kesehatan di Posyandu.
Baca Juga: Lifebuoy Produk Mana Dan Berasal Dari Negara Apa? Ini Ulasan Lengkap Sabun Milik Unilever
Seperti kisah Herawati, seorang ibu di pedalaman Bogor, yang berbagi pengalamannya setelah mengikuti program SIGAP. Usai mengikuti program ini, ia jadi tahu bahwa imunisasi tidak seseram yang ia kira. Beberapa orang tua khawatir tentang demam, tapi setelah ia mendapat edukasi, hal itu tidak terlalu menakutkan.
"Jika seorang anak mengalami demam, demamnya ringan dan biasanya akan hilang keesokan harinya. Mereka akan segera kembali ceria. Itulah mengapa saya dan suami merasa yakin bahwa melengkapi imunisasi anak kami akan memberikan perlindungan terbaik baginya," ujar Herawati.
Seperti Herawati, banyak orang tua lainnya yang awalnya ragu untuk membawa balita mereka untuk mendapatkan imunisasi, atau hanya melakukan imunisasi dosis pertama tanpa melakukan imunisasi lanjutan.
Dengan membekali kader kesehatan setempat dengan alat dan pengetahuan yang tepat, program ini meruntuhkan ketakutan dan kesalahpahaman seputar vaksin, menjadikan imunisasi bukan hanya sebagai tujuan kesehatan masyarakat, tetapi juga sebagai upaya bersama yang mudah didekati, mudah dipahami, dan dapat dijangkau oleh setiap keluarga.
Pendekatan berbasis masyarakat ini merupakan inti dari Keluarga SIGAP, sebuah inisiatif kemitraan yang selaras dengan tujuan Pekan Imunisasi Dunia untuk mempromosikan akses yang adil terhadap vaksin dan melindungi setiap anak.
Dengan berfokus pada tiga perilaku sederhana namun kuat, yaitu mencuci tangan pakai sabun, imunisasi anak tepat waktu dan lengkap, dan peningkatan gizi, termasuk pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama. Keluarga SIGAP membekali kader kesehatan setempat untuk memimpin perubahan perilaku yang berkelanjutan di lingkungan mereka.
Dampaknya sangat nyata. Di lokasi percontohan seperti Kabupaten Bogor (Jawa Barat) dan Kabupaten Banjar (Kalimantan Selatan), cakupan vaksin dan perilaku kesehatan menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Cakupan vaksin PCV1, yang penting untuk mencegah pneumonia, meningkat dari 28% menjadi 64%, sementara cuci tangan pakai sabun sebelum memberi makan anak meningkat dari 50% menjadi 81%.
Praktik-praktik gizi juga telah meningkat: proporsi anak-anak yang menerima makanan dengan lebih dari lima kelompok makanan meningkat sebesar 11%, yang mengindikasikan keragaman makanan yang lebih baik.
Selain itu, persetujuan terhadap rekomendasi pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama-tanpa air putih pun meningkat dari 90% menjadi 94%, yang mencerminkan kepatuhan yang lebih kuat terhadap praktik pemberian makan bayi yang optimal.
Intan Widayati, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Bogor, menyoroti dampak positif tersebut. “Pembelajaran dari program SIGAP juga dirasakan di tingkat desa. Beberapa desa bahkan sudah mulai mengalokasikan dana desa untuk keberlanjutan program ini hingga tahun 2025," ujar Intan.
Model Kesehatan Berbasis Masyarakat
Keluarga SIGAP lebih dari sekadar inisiatif Kesehatan, tetapi juga merupakan sebuah gerakan yang memberdayakan keluarga, memperkuat komunitas, dan menunjukkan kekuatan kolaborasi multisektor.
Diprakarsai oleh Gavi, Unilever Lifebuoy, dan The Power of Nutrition, program ini memberdayakan kader-kader lokal untuk memastikan tidak ada anak Indonesia yang tertinggal.
Keberhasilan Keluarga SIGAP telah memicu diskusi penting tentang keberlanjutan. Dalam sebuah forum yang diselenggarakan awal tahun ini-yang menghadirkan perwakilan dari berbagai kementerian dan lembaga-dampak positif dan potensi perluasan program ini menjadi sorotan.
Salah satu hal penting yang dapat diambil dari diskusi tersebut adalah peran strategis dana desa dalam mempertahankan dan memperluas inisiatif SIGAP di tingkat lokal.
Sappe M.P. Sirait, Analis Kebijakan Ahli Madya di Kementerian Desa, menekankan bahwa peraturan yang ada saat ini memungkinkan dana desa digunakan untuk mendukung layanan dasar kesehatan skala desa termasuk stunting.
"Kader-kader desa dapat dilatih untuk layanan dasar kesehatan dengan menggunakan dana tersebut. Permendesa PDT No. 2/2024 difokuskan antara lain untuk penanganan kemiskinan ekstrim dan ketahan pangan. Selain itu juga dapat digunakan untuk inisiatif pemberdayaan masyarakat, seperti pelatihan kader dan mereplikasi materi edukasi yang digunakan dalam Program Keluarga SIGAP," kata Sappe.
Eppy Lugiarti, Analis Kebijakan Ahli Madya/Kepala Kelompok Kerja Pelayanan Kesehatan, Direktorat Pembangunan Sosial Budaya dan Lingkungan Desa dan Perdesaan, menyatakan bahwa bimbingan dari pemerintah daerah sangat penting.
“Arah pembangunan desa selaras dengan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan, sehingga program Keluarga SIGAP pada dasarnya sejalan dengan program kesehatan dan target-target yang ingin dicapai sebagai bagian dari tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), yang dituangkan dalam Peraturan Menteri Desa Nomor 21 Tahun 2020 tentang Pedoman Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa. Dengan pengawasan yang tepat dan integrasi ke dalam peraturan daerah, SIGAP dapat menjadi solusi jangka panjang, tidak hanya untuk stunting tetapi juga untuk tantangan kesehatan yang lebih luas," papar Eppy.
Menyusul keberhasilan program percontohan, inisiatif Keluarga SIGAP kini bersiap untuk memperluas program.
Berdasarkan serangkaian kriteria dan konsultasi dengan pemerintah pusat dan daerah, tiga kabupaten telah dipilih untuk fase perluasan: Banjar (Kalimantan Selatan), Brebes (Jawa Tengah), dan Sukabumi mm(Jawa Barat). Program yang diperluas ini bertujuan untuk melindungi lebih dari 1 juta anak dari penyakit yang dapat dicegah, dengan target awal menjangkau setidaknya 100.000 anak selama fase perluasan.
Berbicara mengenai strategi perluasan, Andri Mursita, Pejabat Fungsional Administrator Kesehatan dari Direktorat Tata Kelola Kesehatan Primer di Kementerian Kesehatan, menekankan pentingnya menyelaraskan program ini dengan kerangka kerja yang sudah ada.
“Terlepas dari metode yang digunakan atau tingkat signifikansi yang dicapai, harapan kami adalah bahwa selama perluasan, program ini tidak dilihat sebagai sesuatu yang sama sekali baru atau terpisah dari inisiatif yang sudah ada. Pendekatan dan materi yang digunakan dalam program SIGAP Keluarga dapat diselaraskan dengan inisiatif yang sudah ada, sehingga dapat memperkuat sistem yang sudah ada," kata Andri.
Ardi Prastowo, Ketua Tim Program Keluarga SIGAP, juga menyampaikan hal yang sama, dengan menguraikan dua pilar utama untuk memastikan keberlanjutan program.
“Pertama, kami bertujuan untuk memungkinkan pemerintah daerah di tingkat kabupaten dan kecamatan untuk mengalokasikan sumber daya mereka untuk melanjutkan program ini. Kedua, kami berupaya mengintegrasikan program ini ke dalam konsorsium kesehatan primer, terutama melalui inisiatif seperti kunjungan rumah. Terakhir, kami berencana untuk memperkuat jangkauan dan keberlanjutan program dengan memanfaatkan saluran digital, termasuk bot WhatsApp dan kampanye media, untuk meningkatkan kesadaran dan melibatkan masyarakat pedesaan secara lebih efektif,” jelas Ardi.
Inke Maris & Associates, yang bertanggung jawab untuk mengkomunikasikan dan mengimplementasikan kolaborasi multisektoral untuk program Keluarga SIGAP, menekankan perlunya memetakan masalah dan peluang di seluruh kementerian terkait.
“Keluarga SIGAP adalah program yang menggunakan pendekatan berbasis komunikasi oleh kader masyarakat melalui kunjungan ke rumah-rumah dan juga kampanye digital untuk mendorong perubahan perilaku ke arah kebiasaan hidup sehat. Keberlanjutan program ini sangat penting untuk memastikan dampak jangka panjang, sehingga membutuhkan dukungan lintas kementerian dan integrasi ke dalam program-program pemerintah yang sudah ada. Dengan kolaborasi yang kuat, Keluarga Sigap dapat menjadi bagian integral dari strategi nasional untuk meningkatkan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan,” tukas Widyaretna Buenastuti, Direktur & Konsultan Senior Inke Maris & Associates.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










